Cara Mengenalkan Nilai Uang pada Anak


Jadi, jangan sepelekan masalah satu ini. Kini, saatnya Anda mengajarkan nilai
uang kepada buah hati Anda. Bagaimana memulainya? Mudah sekali.
Pertama-tama, kenalkan anak dengan uang. Ketika Anda memanggil seorang
tukang jualan di depan rumah, berikan uang pembayarannya kepada anak
dan suruh dia yang membayar tukang jualan itu. Di supermarket atau
restoran, Anda bisa meminta si kecil membayarkan uang belanjaan kepada
kasir. Tentu saja semua itu harus tetap dalam pengawasan Anda. Semakin
besar nilai uang yang Anda titipkan, semakin ketat pula pengawasan yang
harus Anda lakukan.
Efek yang timbul disini adalah bahwa anak mulai dibiasakan untuk memegang
uang, dan ia sudah mulai menganggap bahwa uang yang dia pegang itu
memiliki 'nilai'. Ini karena ia melihat di depan matanya sendiri bahwa uang
yang dia pegang dipakai untuk membayar sesuatu.
Pertanyaan berikutnya, kapan waktu terbaik memperkenalkan si kecil dengan
uang? Waktu yang paling tepat sebetulnya adalah ketika ia berusia 3-5 tahun.
Ini karena ia sudah mulai bersekolah, terutama pada usia 4 tahun.
Nah, ketika anak mulai terbiasa memegang uang, tiba waktunya bagi Anda
untuk mengajarkan tentang besar kecilnya nilai uang. Tidak perlu semuanya.
Mungkin bisa dimulai dari uang seratus sampai seribu rupiah. Lalu pelanpelan
kenalkan lima, sepuluh ribu, sampai duapuluh ribu rupiah. Disini, Anda
juga sekaligus mengajarkan matematika secara sangat sederhana. Jadi,
sebetulnya Anda mengajarkan dua hal, uang dan matematika sederhana.
Setelah itu, yang harus Anda lakukan adalah:

1. ATUR JUMLAH UANG SAKUNYA
Ada saatnya dimana Anda akan memberikan uang saku kepada anak.
Pemberian uang saku ini berbeda-beda, baik jumlah maupun kapan uang
saku itu mulai diberikan untuk pertama kalinya. Bila anak selalu didampingi
pengasuh, mungkin saja uang sakunya dipegang oleh sang pengasuh. Tetapi,
pasti ada saatnya dimana anak akan lepas dari pengasuhnya, dan di situlah
seharusnya ia sudah mulai memegang uang saku secara rutin. Jadi, waktu
yang paling tepat untuk mulai memberikan uang saku adalah ketika anak
sudah mulai ditinggal 'sendiri' di sekolahnya.
Dengan memberikan uang saku secara secara rutin ketika ia ditinggal sendiri
di sekolah, mau tidak mau akan timbul perasaan mandiri pada diri anak.
Artinya, si kecil akan bisa menentukan sendiri, apa yang akan dia beli dan apa
yang tidak akan dia beli di sekolahnya pada hari itu. Bila anak masih duduk di
bangku TK atau SD, frekuensi pemberian yang paling tepat adalah harian. Ini
karena anak sekecil itu biasanya belum 'bisa' memegang uang dalam jumlah
besar. Dengan memberikannya secara harian, ia akan berpikir bagaimana
membelanjakan uang sakunya untuk hari itu saja.
Baru ketika anak sudah masuk ke jenjang SMP, Anda bisa mulai memberikan
uang saku secara mingguan, kemudian bulanan ketika ia masuk SMU dan
kuliah.

2. AJAK ANAK BEKERJA
Perlu dibedakan bahwa bekerja tidak harus selalu dilakukan untuk
mendapatkan uang. Ada pekerjaan-pekerjaan yang sebaiknya ia lakukan di
rumah dimana ia tidak akan mendapatkan uang, seperti membantu mencuci
piring atau menyapu lantai rumah. Tanamkan kepada dirinya bahwa bila ia
tidak mencuci piring, maka ia tidak bisa makan lagi karena tidak ada lagi
piring yang bersih. Atau bila ia tidak menyapu lantai, maka rumah yang ia
tinggali akan kotor, dan seterusnya.
Tetapi, ada juga pekerjaan yang bisa dilakukan untuk mendapatkan uang.
Anda bisa coba mengajak anak untuk mengumpulkan koran-koran bekas, dan
menjualnya kepada tukang koran bekas yang lewat di depan rumah. Atau,
Anda bisa ajak ia untuk mengumpulkan barang-barang rombengan dan
menjualnya ke tukang loak.
Setelah itu, biarkan anak yang menerima uang hasil penjualan itu untuk
menambah uang sakunya. Hanya perlu diingat, pekerjaan seperti ini harus
dilakukan dengan bimbingan Anda. Artinya, anak akan melakukannya
pertama-tama bila Anda mengajaknya terlebih dahulu. Maksud dari pelajaran
seperti ini jelas, yakni di pikiran anak akan tertanam bahwa untuk bisa
mendapatkan uang, seseorang harus bekerja.
Khusus untuk pekerjaan yang bisa mendatangkan uang, Anda harus
memancingnya agar anak mau melakukannya. Caranya adalah dengan
mengatur uang saku rutin yang Anda berikan. Tak usah terlalu besar, karena
anak tidak akan lagi berpikir untuk coba menambah uang saku yang ia miliki.
Tetapi juga jangan memberikan uang saku yang terlalu kecil, karena nanti
anak akan terlalu banyak 'bekerja' dan bisa-bisa melupakan belajarnya.

3. AJAR ANAK MENABUNG
Jangan lupa untuk mengajarkan anak menabung. Beritahu apa manfaatnya
bila ia rutin menabung setiap hari. Dengan menabung, ia tidak akan boros dan
kelak bisa memiliki banyak uang yang bisa dipakai untuk persediaan apabila
diperlukan, atau dipakai untuk membeli sesuatu yang memang sudah lama ia
idam-idamkan.
Bagaimana cara agar si kecil mau menabung? Belikan ia sebuah celengan.
Kalau perlu, carikan celengan yang bentuknya menarik, agar bisa menarik
perhatiannya setiap saat. Beritahukan padanya agar rajin memasukkan uang
ke celengannya.
Sebagai contoh, beri anak uang saku sebesar Rp 1500 tiap hari. Jangan
lebih. Dari sini, ajarkan ia agar selalu menyisakan uangnya setiap pulang
sekolah sebesar - mungkin - Rp 100 per hari. Jadi, ia tidak akan berbelanja
sebesar lebih dari Rp 1400 per hari. Lalu, apa yang terjadi bila anak hanya
mengeluarkan uang Rp 1000 hari itu? Sisanya yang Rp 400 bisa ia pakai
untuk menambah uang sakunya besok, atau ia tabungkan juga.
Tetapi, bagaimana kalau ia tidak bisa menabung juga? Mungkin saja uangnya
selalu habis ia belanjakan hari itu. Bila demikian, maka cara yang paling
ampuh adalah 'memaksa' anak untuk menabung. Caranya adalah
'memaksanya' menabung sebelum dia pergi ke sekolah, bukan setelah ia
pulang sekolah dimana uangnya sudah habis ia belanjakan. Dengan begitu,
bila uang sakunya Rp 1500 per hari, berikan satu uang kertas pecahan seribu
dan lima koin pecahan seratus.
Nah, sebelum ia pergi ke sekolah, ingatkan dia, "Hari ini sudah nabung
belum?" Maka, ia akan memasukkan pecahan Rp 100 ke dalam celengan itu
sebelum pergi ke sekolah. Jadi, Anda sudah mengajarkan bahwa konsep
menabung adalah bukan menjadi prioritas paling akhir (setelah dia pulang
sekolah dimana uangnya mungkin sudah habis), tetapi menjadi prioritas yang
pertama (sebelum ia pergi membelanjakan uang sakunya).

4. AJAK ANAK MEMBUAT ANGGARAN SEDERHANA
Jika anak sudah mulai bisa berhitung (melakukan fungsi matematika seperti
penambahan atau pengurangan), maka Anda bisa mengajaknya untuk
merencanakan jumlah pemasukan dan pengeluarannya. Beri tahu bahwa
semua uang yang dia dapat, entah itu dari uang saku, pekerjaan, atau
pemberian, harus selalu diatur dan direncanakan penggunaannya. Beri tahu
bahwa dengan memiliki anggaran sederhana seperti itu, ia tidak akan
kehabisan uang bila mau menjalankan anggaran yang sudah ia buat sendiri.
Contoh anggaran sederhana untuk anak bisa Anda lihat di bawah ini:
Pemasukan:
Uang Saku : Rp 1500
Pekerjaan Sampingan : Rp 1000
Pemberian: -
Jumlah Pemasukan : Rp 2500
Pengeluaran:
Setoran ke celengan : Rp 100
Jajan di sekolah : Rp 500
Transportasi : Rp 500
Lain-lain : Rp 500
Jumlah pengeluaran : Rp 1600
Sisa : Rp 900
Jangan lupa, beritahu anak bahwa sisa uang sebesar Rp 900 yang ia miliki,
bisa ia gunakan untuk esok hari, atau ia tambahkan ke dalam celengannya.

5. AJAR ANAK MENYUMBANG DAN BERBUAT BAIK
Satu hal lagi yang harus Anda ajarkan pada anak adalah pentingnya
menyumbang dan berbuat baik pada orang lain. Pelajaran ini pasti sudah ia
dapatkan di sekolah, tetapi belum sering dipraktekkan dalam kehidupan
sehari-harinya. Nah, bila ia mempraktekkannya secara rutin, maka kelak ia
tidak akan menjadi individu yang egois dan hanya mengejar uang saja dalam
hidupnya.

Bagaimana mempraktekkan hal ini? Coba ajarkan anak untuk melakukan halhal
dibawah ini:
1. Ajak anak untuk ikut bergotong royong di lingkungan Anda atau
sekolahnya, jika lingkungan tempat Anda tinggal atau lingkungan
sekolahnya mengadakan semacam kerja bakti. Juga, ajak anak untuk
ikut menyumbangkan kue dan makanan pada acara-acara seperti itu.

2. Anda sebaiknya tidak memonopoli sumbangan kue dan makanan
tersebut, tetapi ajak anak untuk berpikir, kue atau makanan apa yang
akan ia sumbangkan. Lalu, biarkan ia yang mengatur sendiri kue dan
makanan tersebut. Atau, bila itu sebuah kerja gotong royong dalam
lingkungan, ajak anak berpikir, tugas apa yang harus ia lakukan agar
bisa ikut berpartisipasi dalam kerja gotong royong itu?

3. Bila di lingkungan tersebut mengadakan acara pengumpulan dana, ajak
anak untuk ikut menyumbang. Anda bisa saja memakai uang Anda
terlebih dulu untuk kemudian ia setorkan ke situ. Tetapi lama kelamaan,
coba lihat apakah anak mau menyisihkan sedikit dari apa yang ia miliki
(dari uang sakunya, mungkin) untuk disumbangkan. Bila ia mau
melakukannya, efeknya kelak saat ia besar akan sangat bagus.

4. Ajak anak untuk menyumbangkan pakaian atau mainan yang sudah
tidak dipakainya (tetapi masih baik) untuk disumbangkan ke anak-anak
lain yang tidak seberuntung dia.
Nah, jika ini semua Anda lakukan, jangan heran jika kelak buah hati Anda
akan tumbuh menjadi seorang yang pandai. Mencari dan mengatur keuangan,
sekaligus menyisihkan sebagian uangnya untuk kebaikan

Artikel Terkait

kata bijak

Blog Archive

pesan hari ini