Proposal Pendirian Usaha Warnet

Proposal Pendirian Usaha Warnet

WARNET
 (Dan beberapa usaha dibidang Teknologi Informasi)
Usaha yang akan dikembangkan diberi nama “………” dengan badan usaha berbentuk CV yang didaftarkan ke notaris sehingga memiliki badan hukum yang tetap.
A. RENCANA LOKASI USAHA
a. Rencana lokasi operasional usaha akan ditempatkan di daerah yang memenuhi syarat sebagai berikut.
1. Lokasi dekat dengan kawasan pendidikan baik itu perguruan tinggi, Sekolah Menengah Umum dan Sekolah Menengah Pertama.
2. Lokasi berada di pusat keramaian, misalnya di pasar dan perkantoran.
3. Lokasi berada ditengah kawasan penduduk.

b. Lokasi yang kami prioritaskan adalah di Pasar Lemabang, dengan pertimbangan:
1. Di lokasi belum ada warnet dalam radius 2 km.
2. Lokasi dekat dengan beberapa perguruan tinggi .
3. Di sekitar lokasi terdapat beberapa sekolah antara lain: SMUN ……, SMUN ……, SMU ……, dan  beberapa SMP, SMU dan SMK lainnya.
4. Lokasi berada kawasan pasar yang ramai.
5. Lokasi berada pada perumahan penduduk.

B. TARGET PELANGGAN 
Target pelanggan warnet ini adalah: pelajar dan mahasiwa disekitarnya. Mereka adalah konsumen yang menggunakan internet untuk hiburan semata yang frekuensinya cukup tinggi. Umumnya mereka hanya membuka program chatting dan situs www……..

C. JENIS USAHA
Jenis usaha yang direncanakan sesuai dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki adalah :
a. Warnet (konsentrasi pada bulan pertama).
b. Training internet lepas (pada bulan ke-2).
c. Servis komputer (pada bulan ke-3).
d. Penjualan voucer handphone (pada bulan ke-4).
e. Digital Printing (pada bulan ke-5)
f. Video shooting dan transfer VCD (pada bulan ke-6)
g. Pelatihan komputer (paket 1 atau 2 bulan) pada bulan ke-7.
h. Dan lain sebagainya, disesuaikan dengan kebutuhan pasar dan anggaran yang tersedia.
Target kami adalah setiap bulan menambah cabang usaha baru, walau tidak menutup kemungkinan pada bulan yang sama ddirikan bebapa cabang usaha sekaligus.

D. KEUNGGULAN KAMI
Kami memiliki keunggulan antara lain:
a. Semua instalasi software, jaringan LAN, router dan proxy server dapat kami lakukan sendiri, dengan demikian tidak perlu menganggarkan dana untuk jasa dari pihak ketiga.
b. Kami sudah berpengalaman memberikan bantuan jasa konsultasi dan pekerjaan teknis untuk pendirian warnet diantaranya adalah: ……………..
c. Kami juga sudah sangat sering mengadakan pelatihan internet dan website kepada pelajar dan mahasiswa dengan kerja sama dengan organsasi ekskul sekolah atau senat mahasiswa.


E. PERANGKAT KERAS DAN LUNAK
Perangkat keras yang akan digunakan dalam komputer ini adalah:
a. Komputer Pentium 3 built up second sebanyak 10 unit, server Pentium 4 1 unit dan komputer Pentium 4 untuk billing 1 unit beserta perangkat jaringan.
b. Koneksi internet menggunakan wireless dengan kecepatan 64 kbps dengan rasio 1:1.
c. Sistem operasi yang akan digunakan adalah windows me.

F. MODAL DAN KEUNTUNGAN 
 Modal yang kami butuhkan untuk medirikan warnet ini plus biaya operasioanl selama 1 bulan pertama adalah Rp……………. dengan perkiraan laba bersih minimal Rp ……………. per bulannya. Sehingga usaha diperkirakan akan BEP pada bulan ke (10) sebelas (dengan asumsi 1 bulan pertama belum mendapatkan keuntungan maksimal).
Sedangkan modal untuk usaha selain warnet adalah mengambil dari beberapa sumber antara lain:
a. Penambahan modal oleh pemodal.
b. Keuntungan bulanan pemodal, bila pemodal ingin menambah investasi.
c. Keuntungan bulanan pengelola, bila pengelola ingin ikut menanam saham.
d. Dari pemodal lain yang ingin ikut andil menanamkan saham.
e. Dari dana penyusutan barang yang ternyata tidak terpakai (dana penyusutan ini tetap dianggap sebagai dana dari pemodal).

G. BAGI HASIL 
Persentase bagi hasil yang kami tawarkan adalah 40% untuk pemodal dan 60% untuk pengelola, dengan demikian pemodal diperkirakan akan mendapatkan keuntungan sedikitnya Rp…………….  per bulan. Dengan demikian diperkirakan pemodal akan balik modal paling lama 24 bulan.

H. BIAYA PENYUSUTAN
Pada prinsipnya jumlah aset pemodal adalah sama baik pada saat pendirian usaha maupun pada tahun pertama, kedua dan seterusnya. Karena kami menganggarkan biaya penyususutan sebesar 2,5% perbulan dari semua aset milik pemodal, dana penyusutan ini tetap menjadi milik pemodal sehingga total aset pemodal tetap walaupun nilai barang menjadi susut atau rusak.

I. SURAT PERJANJIAN
Demi keamanan investasi, kami menawarkan surat perjanjian yang ditandatangani oleh pemodal dan pengelola dan dibubui materai secukupnya agar mempunyai kekuatan hukum. Ketentuan dasar surat perjanjian kami sertakan dalam lampiran.

J. STRATEGI PROMOSI
Strategi yang akan kami jalankan pada perusahaan ini antara lain:
a. Bekerja sama dengan pihak sekolah dalam rangka mengadakan kerja sama pelatihan komputer dan internet.
b. Kami akan menjalankan kembali organisasi yang bergerak dibidang teknologi informasi yang akan menghimpun mahasiswa yang mempunyai keahlian dibidang komputer. Dengan strategi ini, kami menargetkan bisa mendapatkan tenaga freelancer untuk mempromosikan bisnis ini, aset untuk tenaga pengajar dan dapat mengerjakan proyek-proyek IT.

K. PENUTUP
Demikian proposal yang kami buat, semoga langkah ini dapat turut andil dalam mencerdaskan bangsa dan memberikan lapangan pekerjaan dan memajukan ekonomi Indonesia. Terimakasih
Lampiran…….


KETENTUAN UMUM USAHA WARNET

Istilah dalam ketentuan ini harus disepakati oleh pemodal dan pengelola, atau bahkan bila perlu dilampirkan dalam surat perjanjian.
A. Pengertian-pengertian
a. Pemodal adalah seseorang atau beberapa orang atau lembaga yang berkewajiban memberikan modal kepada pengelola. Pemodal merupakan pemilik perusahaan. Pemodal mendapatkan bagi hasil sebesar 40% dari laba bersih.
b. Pengelola adalah seseorang atau beberapa orang yang berkewajiban mengelola usaha ini. Pengelola berhak mendapatkan bagi hasil 60% dari laba bersih. Tugas pengelola adalah melaksanakan pekerjaan manajerial.
c. Karyawan adalah seseorang atau beberapa orang yang berkewajiban melaksanakan pekerjaan teknis. Karyawan berhak mendapatkan gaji tetap perbulan.
d. Free Lancer adalah orang yang direkrut untuk melaksanakan pekerjaan tertentu. Freelancer dibayar berdasarkan prosentase dari pendapatan atas pekerjaannya.
e. Outsourcing adalah pelimpahan pekerjaan kepada pihak ketiga.
f. Laba bersih adalah omzet setelah dikurangi dengan biaya operasional, biaya defisit dan angsuran sewa ruko.
g. Biaya operasional adalah biaya yang dikeluarkan untuk operasional perusahaan rutin, antara lain :
1. Gaji karyawan.
2. Rekening PAM, PLN. Telepon, akses internet, iuran rutin.
3. Biaya service segala peralatan yang rusak.
4. Operasional administrasi.
5. Biaya promosi.
6. Dan semua biaya lain untuk kepentingan perusahaan selain biaya defisit, angsuran sewa ruko, dan pembelian alat.
h. Defisit adalah nilai barang yang berkurang dalam waktu tertentu, biasanya disebut dengan penyusutan.
i. Biaya defisit adalah dana yang  harus dikeluarkan setiap bulan untuk mengganti nilai barang yang berkurang.
j. Apabila ada kerusakan aset maka diperlukan biaya untuk memperbaikinya yang terdiri dari:
1. Biaya spare part yaitu biaya pembelian alat baru, biaya ini diambil dari dana defisit.
2. Biaya service yaitu biaya jasa perbaikan, biaya ini diambil dari dana pendapatkan kotor pada bulan berjalan dan dalam laporan keuangan masuk sebagai biaya operasional.
k. Pekerjaan dibagi menjadi 2 macam:
1. Pekerjaan manajerial yaitu pekerjaan membuat rancangan strategi perusahaan dan mengatur pekerjaan karyawan.
2. Pekerjaan teknis yaitu pekerjaan yang melaksanakan pekerjaan teknis rutin.


Ketentuan khusus :
1. Dalam melaksanakan pekerjaan rutin usaha, pengelola berhak mengambil 2 orang karyawan yang digaji perbulan, 1 orang diambil pada saat mulai pendirian perusahaan dan 1 orang lagi setelah 2 bulan berjalan.
2. Apabila pengelola harus mengerjakan pekerjaan yang bersifat teknis selain dari usaha rental internet, maka pengelola berhak mendapatkan bagi hasil langsung dari pekerjaan tersebut, misalnya sebagai trainer, pembuatan software, dan servis komputer.

Keterangan :
Semua aset perusahaan ini adalah milik pemodal, dan nilai aset pada saat didirikan harus diusahakan sama nilainya dengan nilai aset setiap bulannya atau setiap tahunnya dengan asumsi tidak ada penambahan modal.
Misalnya aset perusahaan saat pertama kali didirikan berjumlah Rp100 juta, maka pada bulan ke-12 aset perusahaan juga tetap harus 100 juta dengan asumsi tidak ada penambahan modal.
Bila ada 1 set komputer yang nilai awalnya Rp2 juta, maka pada pada bulan ke-12 nilai komputer tidak mungkin tetap Rp2 juta, maka diperlukan biaya penyusutan atau defisit untuk mengganti nilai komputer yang berkurang yang diambil dari pendapatan kotor setiap bulannya sebesar 2,5% dari harga barang. Biaya defisit ini tetap dikelola oleh pengelola.

Sumber: http://downloads.ziddu.com/downloadfile/4870932/proposalusahawarnet.doc.html

Readmore → Proposal Pendirian Usaha Warnet

Proposal Bisnis Usaha Pulsa


Peluang bisnis
MEMBANGUN SENDIRI
BISNIS PULSA SEMUA OPERATOR
BISNIS REAL YANG PRODUKTIF & PROSPEKTIF




Include:
TAHAPAN SURVEI AWAL
SIMULASI BEP MODAL USAHA
KEUNTUNGAN MENJADI MITRA  …………….
STRATEGI PEMASARAN


PROPOSAL PENAWARAN
MESIN PENGISIAN PULSA



Krisis global perekonomian dunia saat ini benar-benar memukul semua lini unit usaha yang sedang kita geluti, sehingga semua keterpurukan berdampak signifikan dengan unit usaha milik kita. Bagi owner utility (baca: pemilik perusahaan) yang cerdik akan terus menerus mencari kreativitas dan peluang-peluang unit usaha lain yang lebih menjanjikan dan prospektif bagus dalam jangka waktu panjang, tetapi bagi pemilik perusahaan yang kurang kreatif dan inovatif maka jurang keterpurukan akan semakin dalam.

Sudah banyak perusahaan yang gulung tikar, ribuan tenaga kerja yang ter-PHK karena kondisi semacam ini, menambah panjang derita pengusaha-pengusaha untuk bergerak bangkit me-recovery internal perusahaannya. Tetapi kendala masih saja terus mengurung para pengusaha tersebut, semangat untuk bangkit tetap besar akan tetapi kalau tidak diimbangi dengan analisis-analisis berkualitas akan semakin larut dalam keterpurukan tersebut.

Apabila pengusaha ingin membuka unit usaha baru, dibutuhkan kesungguhan survei untuk menghasilkan data dan fakta yang akan dijadikan sebagai pijakan unit usaha yang akan kita bangun. Data dan fakta yang valid, akurat sangat menentukan hipotesis kelangsungan unit usaha tersebut, disertai dengan simulasi-simulasi akuntansi yang handal semakin mendorong kita untuk memutuskan akan membuka atau tidak sebuah unit usaha baru.

Berikut ini kami sampaikan analisis dan hipotesis yang terkait dengan salah satu divisi usaha …………. yaitu mesin pengisian pulsa.
a. Kebutuhan mendasar manusia dalam bersosialisasi adalah kontak dan komukasi, maka tidak ada satu-pun manusia di bumi ini yang tidak melakukan kontak dan komunikasi. Mereka selalu melakukan kedua hal tersebut, kapan dan dimanapun berada, baik langsung maupun tidak langsung.
b. Kontak dan komunikasi seiring dan sejalan dengan perkembangan IT (Information Technology), sehingga lahirlah kebutuhan hand phone/HP yang semakin memanjakan manusia untuk melakukan kontak dan komunikasi.
c. HP sekarang digunakan oleh jutaan orang dari berbagai segmen di masyarakat.
d. Pegang HP sama dengan mengisi pulsa (syarat wajib).
e. Kehadiran HP di masyarakat luas menciptakan retail baru berbentuk counter, yang menjual barang dan jasa terkait dengan aplikasi penggunaan HP (kebutuhan mulai dari produk HP, pulsa, maupun akesoris lain). Maka menjamurlah sekarang dimana-mana tidak mengenal batas ruang dan waktu yakni unit usaha yang disebut dengan counter.
f. Counter sebagai distributor langsung ke masyarakat jelas membutuhkan supplier untuk memenuhi keinginan pasar konsumen dalam hal ini seluruh masyarakat pengguna HP.
g. Supplier membutuhkan perusahaan sebagai tingkat produsennya.

Mata rantai kebutuhan seperti di atas jelas merupakan suatu “asset” yang luar biasa potensinya, tetapi akan menjadi sebuah fenomena sosial biasa apabila kita tidak mampu menangkap peluang mata rantai kebutuhan tersebut. Untuk menangkap peluang mata rantai kebutuhan kontak dan komunikasi sebagaimana yang disebut di atas, maka produk …………… adalah mesin pengisi pulsa.




Mesin pengisi pulsa ini memiliki segmen pasar yang sangat luas, semuanya nanti tergantung pada strategi marketing yang di rencanakan, sebagai acuan beberapa segmen pasar yang bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan adalah sebagai berikut.

a. COUNTER HP
Segmen pasar counter HP sebenarnya bisa di jadikan sebagai segmen andalan dalam unit usaha ini, hal ini dikarenakan counter jelas sudah memiliki beberapa transaksi setiap harinya, namun kondisi di lapangan dan berdasarkan hasil “tracking survey” kami, beberapa counter juga memiliki sifat membanding-bandingkan harga dari pada pelayanan jasa. Langkah awal, counter harus bisa di ajak sharing. Namun kalau counter tersebut hanya membanding-bandingkan harga saja, masih ada strategi marketing lain yang justru bisa menjadi bumerang bagi counter.

b. MASYARAKAT PEMEGANG HP
Sebagian dari pengguna HP adalah lapisan masyarakat yang mampu mengoperasikan sendiri fungsi fitur di dalam HP, dan mereka jelas akan diuntungkan dengan hadirnya mesin pengisian pulsa, selain harga voucher elektrik lebih murah, kemudahan dalam pengisian pulsa tidak mengenal tempat dan waktu. Pengguna tidak perlu repot kemana-mana untuk mengisi pulsanya, cukup mengisi sendiri. Pengguna seperti ini yang nanti akan menjadi agen mandiri.

c. KOMUNITAS LAIN
Adanya kelompok-kelompok produktif dalam masyarakat semakin meramaikan lalu lintas kontak dan komunikasi, sehingga kebutuhan akan pulsa semakin bertambah. Melalui pendekatan dan presentasi kepada mereka jelas mereka akan mempertimbangkan rekomendasi dari kita untuk menjadi rekanan dalam hal pengisian pulsa, salah satu contoh Komunitas yang berpeluang untuk menjadi agen adalah koperasi-koperasi, kelompok-kelompok profesi, dan lain-lain.

d. KONSUMEN LANGSUNG
Tidak jarang pengguna HP langsung melakukan transaksi dengan unit usaha kita, sehingga apabila semakin banyak konsumen langsung yang melakukan transaksi dengan mesin kita maka kita akan memperoleh keuntungan ganda, yakni dari sumber margin laba dan penjualan harga counter.

Tentunya masih banyak segmen pasar lain yang bisa digarap, semua kembali kepada kepiawaian kita dalam menyusun strategi marketing.




Investasi kapital adalah nilai investasi yang dibutuhkan apabila kita ingin membuka unit usaha mesin pengisian pulsa ini, investasi kapital yang dibutuhkan adalah sebesar Rp…………. investasi kapital, Dengan catatan Anda masih belum mempunyai komputer dan modem untuk fasilitas penerima dan mengirim SMS (Inbox–Outbox).




Fasilitas modal investasi yang ditanamkan berupa:
a. Personal komputer komplit.
b. Modem GSM sebagai sarana (Inbox-Outbox).



Kami …………….  memberikan kemudahan dengan memberikan.
a. Bebas biaya software senilai Rp……………..
b. Bebas biaya royalti/pengembangan software sebesar Rp………/Trx.
c. Bebas biaya maintenance.
d. Bebas biaya konsultasi (management, pemasaran, troubleshooting).
e. Tidak perlu bingung dengan persediaan voucher Anda, karena ……………. menyediakan persediaan all voucher untuk server Anda dengan harga yang bersaing.
f. Kecepatan transaksi terjamin dengan mengikuti prosedure yang kami berikan.
g. Tidak perlu khawatir dengan troubleshooting karena IT Helpdesk kami siap membantu Anda 24 jam (Online YM dan HP).
h. Anda dapat menentukan harga jual dan menentukan manajemen sendiri.
i. Anda dapat mengelola deposit agen di rekening perusahaan Anda sendiri.




Sebagai tahap awal sebelum memulai usaha ini adalah melakukan survei, dengan kegiatan survey hal-hal yang terkait dengan data dapat kita peroleh untuk dianalisis dan disimulasikan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan survei adalah sebagai berikut.
a. Konfirmasi dengan pihak TELKOM apakah di wilayah yang direncanakan didirikan mesin pengisian pulsa, jaringan speedy-nya sudah ada dan lancar.
b. Identifikasi usaha counter yang ada di wilayah dimana mesin pengisian pulsa ini rencana didirikan, sebab jumlah counter dengan seluruh transaksinya akan menjadi simulasi perhitungan.
c. Semakin banyak counter (simulasi menggunakan 20 counter) dengan jumlah transaksi di atas 20 transaksi/hari, maka akan semakin cepat BEP modal usaha.
d. Identifikasi nama-nama relasi, teman, rekanan Anda yang memiliki HP, karena mereka berpotensi menjadi agen mandiri.
e. Gali informasi terkait dengan Harga Pokok Penjualan/HPP Counter.
f. Apabila data tersebut di atas sudah final, maka simulasikan dengan teliti dan benar.
g. Hasil simulasi baik, lanjutkan untuk membuka usaha mesin pengisian pulsa ini.
h. Selamat melakukan survei.




Memulai strategi pemasaran ini sebenarnya dapat kita lakukan ketika survei, dengan menggali informasi sedemikian rupa terutama yang berkaitan dengan HPP counter, sebab infornasi tersebut yang akan menjadi data utama dalam mensimulasikan cashflow keuangan.

Strategi pemasaran yang dapat dilaksanakan adalah sebagai berikut (disesuaikan dengan segmen pasar):

a. COUNTER HP
a. Launching usaha di awali dengan promo harga, hal ini  selain untuk mengenalkan usaha Anda juga untuk menjajagi respek pasar terhadap usaha anda.
b. Gelar doorprice secara periodik untuk menjaga, merawat, dan memotivasi counter sebagai agen anda.
c. Motivasi setiap hari agen Anda dengan memanfaatkan SMS reply.
.
b. MASYARAKAT PEMEGANG HP
a. Kenalkan usaha Anda dan produk yang di hasilkan.
b. Sampaikan keuntungan-keuntungan yang bisa diperoleh oleh Personal Pemegang HP apabila menjadi agen mandiri.
c. Gelar doorprice secara periodik untuk menjaga, merawat, dan memotivasi masyarakat sebagai agen Anda.
d. Motivasi setiap hari agen Anda dengan memanfaatkan SMS reply.

c. KOMUNITAS LAIN
a. Yang dimaksud dengan komunitas lain ini bisa berbentuk: koperasi, pabrik, instansi, atau hal lain yang memiliki organisasi dan keanggotaan yang identitasnya jelas.
b. Kenalkan usaha anda, tawarkan sebuah kerjasama yang saling menguntungkan.
c. Gelar doorprice secara periodik untuk menjaga, merawat, dan memotivasi komunitas sebagai agen Anda.
d. Motivasi setiap hari agen Anda dengan memanfaatkan SMS reply.

d. KONSUMEN LANGSUNG
a. Layani dengan baik pada saat konsumen langsung melakukan transaksi.
b. Masukkan nomor HP konsumen ke dalam database konsumen, sehingga sesekali dapat kita motivasi untuk melakukan transaksi di tempat usaha Anda dengan memanfaatkan SMS reply.
c. Secara periodik memberikan souvenir untuk cindera mata konsumen langsung.





Guna kejelasan analisis simulasi BEP/Pengembalian modal dari mesin pengisian pulsa ini kami sampaikan dalam dokumen lampiran.




Demikian penawaran peluang unit usaha mesin pengisian pulsa ini kami informasikan, semoga dapat menjadi pertimbangan bisnis usaha Anda, yang secara real memang memiliki prospektif luar biasa. Lebarkan sayap unit usaha Anda melalui pertimbangan-pertimbangan yang luar biasa, maka hasil yang luar biasa pula yang akan Anda peroleh.

Selamat mempelajari proposal ini, apabila Anda memiliki jiwa entepreneur tinggi dan berminat membuka unit usaha Mesin Pengisian Pulsa bisa berhubungan dengan:



Sumber: www.mahameru-hutama.com/Proposal/PROPOSAL%20MITRA%20MAHAMERU.doc


Readmore → Proposal Bisnis Usaha Pulsa

Contoh SK Pengangkatan Operator Sekolah

Contoh SK (suratKeputusan) Pengangkatan Operator Sekolah ini dapat sebagai acuan bagi kepala sekolah untuk mengangkat tenaga operator sekolah. Mengingat saat ini tugas operator sekolah kian bertambah berat.

Pada awalnya, tugas operator sekolah dapat dilakukan oleh staf atau guru yang ditunjuk oleh kepala sekolah dalam menjalankan tugas yang berkaitan dengan kependidikan secara online maupun offline (Dapodik).

Namun seiring bertambahnya tugas yang diemban oleh operator dalam menjalankan tugasnya saat ini dan kemungkinan yang akan datang semakin berat, perlu dipikirkan lagi bagi kepala sekolah untuk membuat SK Pengangkatan Operator Sekolah.

Saat ini, Kemendikbud mengadakan update data NUPTK untuk Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) di PADAMU NEGERI (Pangkalan Data Penjaminan Mutu Pendidikan Negara Kesatuan RepublikIndonesia). PADAMU NEGERI merupakan Layanan Sistem Informasi Terpadu Online yang dibangun oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan – Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK-PMP).

Jika tenaga operator sekolah masih dirangkap oleh staf atau guru, bisa jadi tugas utama menjadi terbengkalai oleh aktivitas online data pendidikan. Selain itu, sistem ini bersifat online, maka beban biaya akan bertambah untuk akses internet.

Selain itu, di beberapa sekolah, terutama sekolah pelosok atau daerah, belum tentu ada PTK yang menguasai Iptek (komputer dan internet), maka kepala sekolah seyogyanya mengangkat tenaga Operator sekolah untuk tugas-tugas data kependidikan.

Berikut Contoh SK (suratKeputusan) Pengangkatan Operator Sekolah yang bisa menjadi contoh. Meski tidak ada ketentuan yangbaku, setidaknya dapat menjadi gambaran kepala sekolah untuk membuatsuratkeputusan untuk tenaga operator.

Lihat Contoh SK (suratKeputusan) Pengangkatan Operator Sekolah

download
sumber nterakecil.com/contoh-sk-pengangkatan-operator-sekolah/
Readmore → Contoh SK Pengangkatan Operator Sekolah

CONTOH PROPOSAL PTK

Proposal PTK

PENGGUNAAN CD PENGAJARAN BICARA SEBAGI SUPLEMEN
UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MAHASISWA DALAM
PRAKTEK PENGAJARAN BICARA KONSONAN S
PADA ANAK TUNARUNGU



Disusun Oleh:
……………………….



JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA
FAKULTAS ………
UNIVERSITAS ----------
2005

A. Judul Penelitian
Penggunaan CD Pengajaran Bicara Sebagai Suplemen Untuk Meningkatkan Keterampilan Mahasiswa Dalam Praktek Pengajaran Bicara Konsonan S Pada Anak Tunarungu.

B. Latar Belakang
Mata kuliah artikulasi merupakan mata kuliah yang khusus diberikan pada mahasiswa spesialisasai anak tunarungu. Mata kuliah ini mempunyai dua aspek sasaran yang ingin dicapai yaitu pengetahuan tentang cara–cara pengajaran bicara dan keterampilan dalam memperbaiki serta membentuk bicara pada anak tunarungu.
Mata kuliah artikulasi I berisikan konsep–konsep dasar pembinaan bicara pada anak tunarungu. Oleh karena itu pada mata kuliah artikulasi I lebih menekankan pada aspek kognitif. Pengetahuan diperlukan sebagai dasar dalam melakukan perbaikan bicara pada anak tunarungu. Sedangkan mata kuliah artikulasi II lebih menekankan pada praktek penanganan bicara anak tunarungu. Oleh karena itu aspek keterampilan mahasiswa dalam menangani anak tunarungu lebih ditekankan.

Mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan artikulasi belum menunjukkkan hasil yang memuaskan terutama dalam praktek penanganan dan pembentukan bicara pada anak tunarungu. Hal ini tampak dari hasil yang diberikan mahasiswa setelah melakukan praktek di lapangan. Pada umumnya mereka mengalami kesulitan, sehingga dalam menangani dan memperbaiki bicara belum memuaskan. Kondisi semacam ini jika dianalisis banyak faktor penyebabnya, salah satunya adalah terbatasnya kemampuan mahasiswa dalam menggunakan audio visual dalam pengajaran konsonan S pada anak tunarungu.

Menyadari banyak faktor yang dapat menjadi penyebab terjadinya kekurang berhasilan, maka dalam pembelajaran mata kuliah artikulasi perlu dikaji faktor utama yang memungkinkan sebagai penyebab kesulitan yang dihadapi mahasiswa. Melalui pengkajian dapat ditemukan dan sekaligus ditentukan langkah–langkah untuk memperbaikinya. Berbagai upaya telah dilakukan dalam memperbaiki sistem perkuliahan antara lain dengan memanfaatkan fasilitas laboratorium semaksimal mungkin untuk simulasi, perubahan penyampaian materi perkuliahan, penambahan waktu praktek lapangan. Beberapa usaha telah dilakukan, tetapi belum menunjukkan hasil yang memuaskan, terutama dalam keterampilan memperbaiki  bicara anak. Atas dasar kenyataan yang demikian, maka perlu dicari alternatif lainnya dengan melakukan inovasi–inovasi baik dalam metode penyampaian maupun penggunaan fasilitas laboratorium serta pemanfaatan multi media untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam menangani permasalahan bicara terutama pembentukan konsonan S pada anak tunarungu yang tidak dapat bicara.

Peningkatan kualitas mahasiswa dapat dilakukan melalui peningkatan kemampuan dalam bidang pengetahuan dan bidang keterampilan. Peningkatan dalam bidang pengetahuan dapat dilakukan dengan mengkaji berbagai literature, memperhatikan perkuliahan dosen di kelas dan sebagainya. Peningkatan dalam bidang keterampilan perlua adanya praktek dalam penanganan dan pembentukan bicara pada subyek yang sesungguhnya yaitu anak tunarungu. Kemampuan dalam bidang keterampilan perlu dilakukan secara sendiri–sendiri oleh mahasiswa dengan praktek di lapangan. Penguasaan pengetahuan secara teoritis diperlukan sebagai media untuk menguasai keterampilan secara praktis. Satu kelemahan yang sering terjadi khususnya mahasiswa adalah penguasaan pada bidang keterampilan atau pada aplikasi di lapangan. Penggunaan audio visual dalam praktek pembentukan konsonan S pada anak tunarungu selama ini belum banyak dilakukan oleh mahasiswa.

C. Perumusan masalah
Permasalahan yang terjadi pada mata kuliah artikulasi yaitu tidak adanya subyek (anak tunarungu) untuk praktek di dalam kampus. Untuk mengatasi permasalahan diatas dilakukan praktek di berbagai SLB-B. Dengan demikian waktu pertemuan dalam pengajaran bicara sangat terbatas, sehingga menyulitkan mahasiswa untuk terampil melakukan perbaikan bicara pada anak. Untuk itu perlu dilakukan inovasi–inovasi dalam perkuliahan, sehingga kemampuan mahasiswa dalam praktek pembentukan konsonan/vokal dapat meningkat. Inovasi yang dilakukan dalam pembelajaran yaitu memanfaatkan fasilitas yang dimiliki jurusan dan teknologi multi media semaksimal mungkin dalam proses pembelajaran. Adapun inovasi yang dipilih dalam meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam penggunaan audio visual sebagai sarana pembelajaran. Dengan demikian diharapkan kesulitan mahasiswa dalam praktek pembentukan bicara yaitu konsonan S pada anak tunarungu dapat teratasi seefektif dan efisien mungkin.

D. Cara Pemecahan Masalah
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, yaitu melakukan percobaan–percobaan dengan memggunakan media CD pembelajaran bicara yang dilakukan di laboratorium/kelas yang diberikan tentang teknik–teknik perbaikan bicara. Adapun langkah–langkah sebagai berikut.
a. Persiapan dengan menyusun rencana atas topik materi sesuai dengan tingkat kesulitan pada masing–masing konsonan maupun vokal.
b. Memperlihatkan kepada mahasiswa masing–masing, teknik dalam memperbaiki bicara lengkap dengan penggunaan berbagai sarana pembelajaran dan peralatan peraga yang di perlukan.
c. Melakukan diskusi tentang berbagai teknik perbaikan bicara.
d. Mengumpulakan dan menganalisis data.
Untuk lebih jelasnya, maka desain inovasi yang digunakan dalam pembelajaran dapat dilihat pada bagian di bawah ini:
Bagan desain pembelajaran artikulasi II dengan CD pembelajaran bicara


D. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan penelitian adalah menemukan pembelajaran yang efektif dan efisien dalam pembentukan bicara pada konsonan S pada anak tunarungu.

E. Kontribusi/Manfaat Penelitian
Kontribusi yang ingin dicapai adalah bertambahnya wawasan pengetahuan dalam bidang pendidikan. Khususnya dalam pendidikan luar biasa serta dapat diaplikasi secara praktis di lapangan dan di kelas sebagai salah satu bentuk pembelajaran di ruang kuliah. Sehingga mahasiswa tidak mengalami kesulitan dalam pembentukan konsonan S, dengan demikian inovasi yang telah ditemukan dapat digunakan dalam pengajaran bicara yaitu pembentukan konsonan S pada siswa tunarungu.

F. Tinjauan Pustaka dan Hipotesis Tindakan
a. Tinjauan Pustaka
1. Pembelajaran bicara (konsonan s)
Belajar adalah kegiatan para siswa, baik dengan bimbingan guru atau dengan usaha sendiri. Pendidik berusaha membantu agar siswa belajar lebih terarah, cepat, lancar, dan berhasil baik atau istilah lain dengan membelajarkan siswa. Pembelajaran agar berhasil perlu dilaksanakan sistematis, secara bulat dengan mempertimbangkan segala aspek.

Sebelum mengenal pembelajaran secara khusus perlu mengenal pembelajaran secara umum. Pembelajaran di dalam kelas baik secara klasikal atau individual dibutuhkan adanya model pembelajaran. Untuk itu perlu diketahui terlebih dahulu pengertian model secara umum. Model dalam kehidupan sehari–hari merupakan suatu pola yang dapat dicontoh, baik dalam bentuk fisik suatu hasil kerja atu suatu pola tertentu menghasilkan perilaku belajar yang baik. Model pembelajaran merupakan penyederhanaan dari hubungan berbagai komponen yang ada dalam proses belajar mengajar di dalam kelas. Komponen–komponen pembelajaran meliputi metode belajar, sarana dan prasarana, guru, siswa, kurikulum, alat evaluasi, dan sebagainya. Menurut Zamroni, (1988:79), mengatakan model merupakan inti dari teori dalam bentuk sederhana, sehingga mudah dibaca dan dipahami. Sedangkan menurut Winardi (1986:53-55), mengatakan ada tiga cara untuk menyatakan model, yaitu:
secara verbal menerangkan dengan kata–kata,
secara grafis yaitu menerangkan dengan menyajikan diagram, dan
secara matematis pada ilmu pasti.

2. Prinsip Bimbingan
Bimbingan dapat diartikan sebagai suatu proses bantuan atau tuntutan terhadap individu melalui usahanya sendiri untuk menemukan dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial. Layanan pengajaran merupakan bantuan kepada siswa dalam mengatasi kesulitan–kesulitan dalam kegiatan pengajaran sehingga mereka dapat mengembangkan kemampuannya secara optimal.

3. Prinsip Pengayaan
Pengayaan dalam pembelajaran dimaksudkan dengan adanya pengayaan pada kurikulum yang dipelajari oleh siswa. Kemampuan siswa dapat ditingkatkan melalui perluasan kurikulum yang dipelajari akan mengakibatkan pengetahuan mahasiswa semakin luas dan mendetail. Pengayaan kurikulum dilakukan melalui tiga pendekatan yaitu berorientasi pada proses, berorientasi pada content, materi yang harus dipelajari, dan berorientasi pada produk atau hasil.

4. Belajar Tuntas
Belajar tuntas merupakan suatu sistem belajar yang mengharapkan sebagian besar siswa memiliki tujuan (basic learning objective) tertentu secara tuntas. Penguasaan terhadap tujuan sehingga dapat dikatakan tuntas memiliki standar tertentu sesuai dengan tuntutan masing–masing tujuan yang hendak dicapai. Pencapaian standar dalam belajar tuntas pada umumnya para siswa diharapkan minimal menguasai 85 % dari jumlah populasi peserta didik dan dari 85% siswa harus menguasai sekurang–kurangnya 75 % tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

5. Individu dalam proses pembelajaran
Individu sebagai peserta dalam proses pembelajaran memiliki perbedaan antara individu yang satu dengan yamg lainnya dalam berbagai hal, yaitu waktu dan irama perkembangan, motif, intelegensi, dan emosi, kecepatan belajar, dan pembawaan dan lingkungan. Perbedaan–perbedaan tersebut dalam individu akan mengakibatkan hasil belajar yang dicapai akan berbeda–beda pula. Oleh karena itu dalam pembelajaran, pendidik bertugas memberikan pelayanan yang tepat dan menyediakan waktu yang cukup, sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai semaksimal mungkin oleh siswa.
b. Media (alat Bantu) dalam pembelajaran
Bahan pengajaran adalah seperangkat materi keilmuan yang terdiri atas fakta, konsep, prinsip, generalisasi suatu ilmu pengetahuan yang bersumber dari kurikulum dan dapat menunjang tercapainya tujuan pengajaran. Metodologi pengajaran adalah metode dan teknik yang digunakan dalam melakukan interaksinya dengan siswa agar bahan pengajaran sampai kepaad siswa, sehingga siswa menguasai tujuan pengajaran.
Dalam metodologi ada dua aspek yang paling menonjol, yaitu metode mengajar dan media pengajaran sebagai alat bantu mengajar. Sedangkan penilaian adalah alat untuk mengukur atau menentukan taraf tercapai tidaknya suatu tujuan pengajaran.
Pola pembelajaran yang memanfaatkan media pembelajarn yang memanfaatkan media pembelajaran sebagai sumber–sumber di samping guru dapat digambarkan sebagai berikut:



Gambar 2.1 Pola pembelajaran dibantu media (Arifin,2000)

Dalam praktek pembelajaran sebenarnya, tidak ada pola yang kaku antar komponen pembelajaran. Pola kombinasi yang lengkap dapat digambarkan sebagai berikut:

Salah satu gambar yang paling banyak dijadikan acuan sebagai landasan teori penggunaan media dalam proses belajar adalah Dale’s Cone of Experience (Kerucut Pengalaman Dale). Kerucut ini merupakan elaborasi yang rinci dari konsep tiga tigkatan pengalaman yang dikemukakan oleh Bruner. Hasil belajar seseorang diperoleh mulai dari pengalaman langsung (konkret) atas kenyataan yang ada di lingkungan kehidupan seseorang melalui benda tiruan sampai kepada lambang verbal (abstrak). Semakin diatas puncak kerucut semakin abstrak media penyampai pesan itu. Perlu dicatat bahwa urut–urutan ini tidak berarti proses belajar dan interaksi mengajar belajar harus selalu dimulai dari pengalaman langsung, tetapi dimulai dengan jenis pengalaman yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan  kelompok siswa yang dihadapi mempertimbangkan situasi belajarnya.

Dasar pengembanagan kerucut di atas bukanlah tingkat kesulitan, melainkan tingkat keabstrakan, jumlah jenis indera yang turut serta selama penerimaan isi pengajaran atau pesan. Pengalaman langsung akan memberikan kesan paling utuh dan paling bermakna mengenai informasi dan gagasan yang terkandung dalam pengalaman itu, oleh karena melibatkan indera pengluhatan, pendengaran, perasaan, penciuman, dan peraba. Ini dikenal dengan learning by doing karena memberi dampak langsung terhadap pemerolehan dan pertumbuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap siswa.

1. Penggunaan Komputer dalam Pembelajaran
Teknologi informasi (TI) merupakan salah satu bagian teknologi yang berkembang dengan pesat dan aplikasinya sangat luas dewasa ini. Aplikasi TI yang nyata misalnya dengan hadirnya multimedia dan web, dalam bidang pendidikan yang melahirkan terobosan baru dalam meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses pembelajaran.
Komputer telah diterapkan dalam bidang pendidikan semenjak awal perkembangannya. Walaupun sangat bersifat administratif yaitu berupa pembuatan aplikasi, database dan komputerisasi, namun dalam bentuk yang awal tersebut sudah mulai memasuki aspek pendidikan yang manual dan modul kerja sampai pada bentuk simulasi sederhana dalam suatu proses misalnya dalam kegiatan industri, penelitian dan administrasi.
Berkembangnya hardware komputer dalam 2 dekade terkhir dari mainframe yang mahal sampai PC dalam bentuk sekarang yang kemampuannya secara bertahap telah meningkat drastis. Memungkinkan penggunaan komputer dalam pendidikan pada berbagai bentuknya, seperti yang paling akhir ini, pendidikan jarak jauh lewat internet dan software pengajaran berbagai bidang studi dalam bentuk CD software multimedia yang memuat animasi, film, gambar, musik dan suara yang interaktif.
Pengajaran dengan bantuan komputer dikembangkan dari model belajar terprogram (programmed instruction). Belajar terprogram ini merupakan istilah umum pada sistem belajar yang berbeda untuk tingkat–tingkat berbeda pula. Penekanannya terletak pada perlunya respon dengan tujuan untuk pembentukan hasil belajar melalui kontrol dari feedback atau reinforcement (pemberian support yang akan berpengaruh pada psikologis siswa).

2. Multimedia dalam pembelajaran bicara
Penggunaan komputer dalam pembelajaran kimia sebenarnya sudah ada sejak beberapa dekade terakhir. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, buku–buku teks banyak dilengkapi dengan software (multimedia) yang merupakan suplemen materi. Suplemen tersebut biasanya berisikan hal–hal yang tidak dapat dihadirkan langsung oleh buku, misalnya peristiwa–peristiwa yang terjadi secara kebetulan atau sengaja dilakukan.
Penggunaan multimedia dalam pembelajaran bicara belum banyak diteliti, sehingga hasilnya belum banyak dipublikasikan. Namun pada beberapa penelitian di bidang lain menunjukkan bahwa penggunaan multimedia tersebut dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami konsep (Sanger, 2001).

Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan besar tersebut ialah dengan memanfaatkan multimedia yang dapat mempresentasikan semua domain berpikir dalam pembelajaran bicara. Multimedia tersebut haruslah memfasilitasi mahasiswa untuk berpikir baik dari segi konsep maupun praktis.
Penggunan alat bantu pengajaran sangat membantu mahasiswa peserta didik CD pembelajaran bicara merupakan salah satu alat bantu pembelajaran memiliki peranan yang sangat membantu dalam menjelaskan hal–hal abstrak menjadi jelas dan sederhana serta lebih efisien dalam waktu. Melalui multimedia dapat dipergunakan untuk menganalisis kegiatan praktek yang dilakukan oleh masing–masing mahasiswa. Dengan audio visual dapat dilakukan analisis pada kegiatan pembelajaran yang kemudian dapat dilakukan berbagai analisis dari kelebihan dan atau kesalahan yng dilakukan oleh mahasiswa dalam pembentukan bicara anak tunarungu. Melalaui analisis tersebut, hasil praktek yang telah direkam, dapat diketahui mana yang perlu perbaikan jika terjadi kesalahan dalam praktek. Proses pembelajaran selanjutnya berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dengan demikian hasil yang diharapkan akan lebih baik. Pada pengajaran bicara anak tunarungu, sangat diperlukan adanya peralatan bantu yang memadai, karena anak tersebut telah memiliki permasalahan dalam pendengarannya.

c. Tunarungu dan permasalahannya
1. Pengertian
Tunarungu adalah peristilahan secara umum yang diberikan kepada anak yang mengalami kehilangan/gangguan pendengaran. Sehingga ia mengalami hambatan dalam melaksanakan kehidupan sehari–hari. Secara garis besar tunarungu dibedakan menjadi dua yaitu tuli dan kurang dengar. Menurut Smith, M (1975:392-394), tuli adalah orang yang mengalami kerusakan pendengarannya dalam taraf yang berat sehingga pendengarannya tidak berfungsi. Kurang dengar adalah orang yang mengalami kerusakan pendengaran, tetapi alat pendengarannya masih berfungsi.

2. Karakteristik Tunarungu
Ada beberapa karakteristik tunarungu yaitu :
Intelegensi
Karakteristik dalam segi intelegensi, secara potensial tidak berbeda dengan anak normal pada umumnya, ada yang pandai, sedang, dan bodoh. Namun secara fungsional, intelegensi mereka berada di bawah anak normal. Hal ini disebabkan karena kesulitan dalam memahami bahasa.
Emosi dan sosial
Keterbatasan yang terjadi dalam berkomunikasi pada tunarungu mengakibatkan perasaan terasing dari lingkungannya. Tunarungu mampu melihat semua kejadian, akan tetapi tidak mampu untuk memahami dan mengikuti secara menyeluruh, sehingga menimbulkan emosi yang tidak stabil, mudah curiga dan kurang percaya pada diri sendiri. Dalam pergaulan cenderung memisahkan diri terutama dengan orang normal, hal ini disebabkan keterbatasan dalam berkomunikasi secara lisan.
Bahasa dan Bicara
Tunarungu dalam segi bahasa dan bicara mengalami hambatan, hal ini disebabkan adanya hubungan yang erat antara bahasa dan bicara dengan ketajaman pendengaran, mengingat bahasa dan bicara merupakan hasil dari proses peniruan. Sehingga tunarungu dalam segi bahasa yang dimiliki ciri yang khas yaitu sangat terbatas dalam kosa kata, sulit mengartikan arti kiasan, kata–kata yang abstrak.

d. Media Komunikasi Tunarungu dalam Belajar
Media komunikasi tunarungu ada tiga yaitu oral, isyarat, dan komunikasi total.
1. Media oral
Media yang digunakan tunarungu dalam belajar menggunakan bicara. Proses belajar mengajar yang diberikan oleh guru kepada tunarungu menggunakan media bicara sebagaimana proses pembelajaran pada anak normal dalam mengikuti pelajaran di kelas. Sebagai konsekuensi logis dalam menggunakan media oral yaitu guru harus mengajarkan bicara ada tunarungu.
2. Media Isyarat
Media yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran menggunakan isyarat–isyarat sebagai pengganti kata huruf, tidak menggunakan media bicara. Isyarat yang digunakan kadang masih bersifat lokal sehingga sulit untuk berkomunikasi dengan sesama tunarungu di tempat lain. Untuk mengatasi masalah tersebut telah disusun kamus isyarat bahasa Indonesia. Oleh karena itu semua tunarungu harus belajar isyarat tersebut.
3. Media komunikasi total
Komunikasi total merupakan perpaduan dari kedua media yang terdahulu. Media ini digunakan secara bersama–sama dalam proses belajar mengajar di dalam kelas. Dengan harapan bila siswa tidak mengerti dari bentuk ucapannya, diharapkan siswa dapat mengerti melalui isyaratnya. Untuk itu tunarungu harus belajar bicara dan belajar isyarat.

e. Metode pengajaran yang efektif bagi tunarungu
Untuk menentukan metode yang efektif bagi tunarungu, langkah yang pertama adalah memahami segala karakteristik tunarungu terutama dalam segi bahasa dan langkah yang kedua adalah ciri khas tunarungu adalah visual/mata. Dalam pembelajaran tidak perlu menggunakan kata–kata yang sulit untuk dipahami tunarungu, apalagi menggunakan kata yang abstrak, tetapi menggunakan kata–kata yang singkat, jelas dan nyata. Dalam proses pembelajaran segala sesuatu yang diucapkan guru atau diisyaratkan harus berada di jangkauan mata (dapat dilihat) oleh anak tunarungu, jika tidak dapat dilihat oleh anak tunarungu maka pembelajaran tidak ada manfaatnya.

f. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian dari pengertian belajar, model pembelajaran, prinsip–prinsip belajar dan individu sebagai peserta didik maka kegiatan pembelajaran diperlukan adanya keterpaduan diantara komponen dalam belajar. Keterpaduan ini berlaku disemua jenjang pendidikan termasuk di sekolah luar biasa. Penggunaan alat bantu pengajaran sangat membantu peserta didik audio visual, salah satu alat bantu pembelajaran memiliki peranan yang sangat membantu dalam menjelaskan hal–hal abstrak menjadi jelas dan sederhana serta lebih efisien dalam waktu. Audio visual dapat dipergunakan untuk menganalisis kegiatan praktek yang dilakukan oleh masing–masing mahasiswa. Dengan audio visual dapat dilakukan analisis pada proses pembelajaran yang kemudian dapat dilakukan berbagai analisis dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan dalam kelas dan menganalisis segi kelebihan dan atau kesalahan yang dilakukan oleh mahasiswa dalam pembentukan direkam, dapat diketahui mana yang perlu perbaikan jika terjadi kesalahan dalam praktek.
Proses pembelanjaran selanjutnya berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dengan demikian hasil yang diharapkan akan lebih baik. Pengajaran bicara, konsonan S pada anak tunarungu sangat diperlukan adanya peralatan bantu yang memadai, karena anak tersebut telah memiliki permasalahan dalam pendengarannya. Sebelum mereka diajarkan berbagai pengetahuan, mereka perlu ditangani terlebuh dahulu pada komunikasi secara lisan (bicara). Pembentukan bicara pada anak tunarungu merupakan pekerjaan yang tidak mudah perlu dicari inovasi–inovasi dalam pembelajaran bicara, sehingga kesulitan yang dihadapi para pendidik dan calon pendidik dapat terpecahkan.
Berdasarkan uraian diatas maka diajukan hipotesis tindakan yaitu penggunan CD pengajaran bicara sebagai suplemen dapat meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam praktek pengajaran bicara konsonan S pada anak tunarungu di SLB-B.

G. Rencana Penelitian

a. Setting penelitian
Penelitian dilakukan di laboratorium dengan melihat tayangan CD mengenai pembelajaran konsonan S denga segala permasalahannya dan SLB B sebagai tempat praktek pembelajaran pembentukan konsonan.

b. Variabel
Variabel yang menjadi sasaran dalam rangka PTK adalah peningkatan keterampilan mahasiswa dalam melakukan praktek pembentukan/perbaikan konsonan S pada anak tunarungu di SLB-B. Di samping variabel tersebut masih ada beberapa variabel yang lain yaitu:
1. Input yaitu sarana pembelajaran, lingkungan belajar, bahan ajar, guru, siswa, prosedur evaluasi dan sebagainya.
2. Proses KMB yaitu interaksi belajar, gaya guru mengajar, implementasi berbagai metode perbaikan konsonan S dan sebagainya.
3. Out put: Hasil belajar siswa beruapa ucapan konsonan S pada waktu berbicara, motivasi siswa dan sebagainya.

H. Rencana Tindakan
a. Perencanaan
Untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa setelah memperoleh pengetahuan secara teoritik perlu di tingkatkan dengan kegiatan di laboratorium. Kegiatan latihan ini untuk pembetulan konsonan S dengan simulasi sesama mahasiswa dengan berbagai teknik perbaikan guna memperoleh keterampilan nyata yang sesungguhnya. Pada simulasi ini dikaji mulai dari mengetahui jenis kesulitan yang dialami siswa pada konsonan S, termasuk sarana yang akan digunakan. Kegiatan simulasi jika dipandang cukup maka kegiatan dilanjutkan dengan pemberian penanganan pada siswa tuanarungu secara langsung di lapangan (SLB-B) dan dilakukan perekaman.

I. Implementasi Tindakan
Rencana yang telah disusun dicobakan sesuai dengan langkah yang telah dibuat yaitu proses perbaikan konsonan S pada anak tunarungu.

J. Observasi dan Implementasi
Observasi ini dilakukan untuk melihat pelaksanaan apakah semua rencana yang telah dibuat dengan baik, tidak ada penyimpangan–penyimpangan yang dapat memberikan hasil yang kurang maksimal dalam perbaikan konsonan S pada anak tunarungu. Observasi dilakukan oleh teman sejawat dalam satu tim dan juga dilakukan perekaman lewat video.

K. Analisis dan Refleksi
Hasil kegiatan pembentukan konsonan S yang telah direkam, diputar kembali untuk dianalisis untuk mengetahui kegagalan atau kesalahan yang dialami oleh praktikan dan kemudian didiskusikan dengan dosen dan sesama mahasiswa untuk mencari penyelesaiannya yang efektif pada kegiatan pembentukan bicara berikutnya pada tahap berikutnya.

L. Pengumpulan Data
Data dikumpulkan melalui observasi baik secra manual maupun melalui perekaman video, khususnya untuk data langsung prosedur/proses. Data ini digunakan untuk melihat proses/prosedur pelaksanaan perbaikan konsonan S dan akan digunakan sebagai dasar penilaian pada segi perencanaan kegiatan. Disamping itu data dikumpulkan melalui tes untuk mengukur kemampuan siswa dalam mengucapkan konsonan S. Data ini diperlukan untuk menentukan keberhasilan perencanaan perbaikan konsonan S yang telah dibuat.

M. Indikator Kinerja
Sebagai tolak ukur keberhasilan bagi mahasiswa yaitu anak tunarungu dapat mengucapkan konsonan S. Indikator ini merupakan tempat dari rencana yang telah dibuat dan implikasinya dalam rangka memperbaiki konsonan S pada anak tunarungu.

N. Personalia Penelitian
a. Ketua peneliti :
1. Nama Lengkap dan Gelar :
2. Golongan / pangkat / NIP :
3. Jabatan Fungsional :
4. Fakultas/jurusan :
5. Perguruan Tinggi :
6. Bidang Keahlian :

7.  Waktu untuk penelitian ini :
8. Tugas :
Bertanggung jawab atas kelancaran pelaksanaan kegiatan
Menyusun perencanaan PBM berbasis multi media
Terlibat dalam semua jenis kegiatan
Mentyusun Laporan
b. Anggota Peneliti 1 (teman sejawat)
1. Nama lengkap dan gelar :
2. Golongan/pangkat/NIP :
3. Jabatan Fungsional :
4. Fakultas/jurusan :
5. Perguruan Tinggi :
6. Bidang keahlian :
7. Waktu untuk penelitian ini :
8. Tugas :
Menganalisis konsep yang ada di GBPP
Menyusun perencanaan PBM berbasis multi media
Menyusun instrumen

O. Jadwal pelaksanaan 
No Jenis Kegiatan Bulan Ke
1
1 Penyusunan Proposal
2 Analisis Pokok Bahasan dan Media
3 Pendesainan media pembelajaran yang digunakan
4 Pelaksanaan PBM dengan audio visual
5 Evaluasi Hasil Belajar Siswa
6 Evaluasi Proses Pembelajaran
7 Analisis hasil evaluasi
8 Seminar hasil penelitian
9 Penyusunan Laporan

P. Biaya yang diusulkan
Rekapitulasi Biaya
No Uraian Jumlah Biaya (Rp)
1 Honor Pelaksana ………………
2 Bahan habis pakai ………………
3 Peralatan ………………
4 Perjanjian ………………
5 Lain – lain ………………
Jumlah Biaya ………………

Rincian Biaya yang diusulkan
a. Honor Pelaksana
Pelaksana Jumlah Jml jam/mig Jml mig/bl Honor/jam Jumlah
Ketua ………. ………. ………. ………. ……….
Anggota ………. ………. ………. ………. ……….
Jumlah ……….

b. Bahan habis pakai
Bahan Jumlah Biaya Jumlah Biaya
Disket ………. ………. ……….
ATK ………. ………. ……….
Kertas HVS ………. ………. ……….
Tinta Printer ………. ………. ……….
Transfer ke CD ………. ………. ……….
Pita Video ………. ………. ……….
CD ………. ………. ……….
Akses Internet ……….
Jumlah ……….



c. Peralatan
Jenis Peralatan Spesifikasi Jumlah
Komputer dan Printer Sewa ……….
Proyektor LCD Sewa ……….
Handycam Sewa ……….
VCD Sewa ……….
Jumlah ……….

d. Perjalanan
Perjalanan Volume Biaya Jumlah
Lokal, Ketua ………. ………. ……….
Lokal Anggota ………. ………. ……….
Jumlah ……….

e. Lain –lain
Uraian Jumlah
Foto copy ……….
Jumlah ……….


DAFTAR PUSTAKA

Boothroyd, A. (1982). Hearing Impairments inYong Children. Practice Hall Inc.
Engelewoods Cliffs.N.Y.

Fram, M. (1985). Auditory Training. Glendongnald School For Deaf Children.
Victoria. Australia

Hagen, A. Van. Vermeulen R. dan Jong, M.de. Zikelbach E. (1990). Latihan mendengar. Jakarta

Vembrianto. (1981). Pengajaran Modul. Paramita. Yogyakarta.

Vride Varecmb. (1987). Perbaikan Bicara. BNIKS. Jakarta

Zamroni. (1988). Pengantar Pengembangan Teori Sosial. Jakarta















Curricullum Vitae

1.  Nama :
2.  NIP :
3.  Pangkat/Golonagan :
4.  Jabatan Fungsional :
5.  Fakultas :
6.  Pengalaman Penelitian :

7.  Bidang Keahlian :



………, 18 Maret



Sumber: www.ditplb.or.id/files/sistematika_proposal_PTK.doc











Readmore → CONTOH PROPOSAL PTK

Contoh Proposal Penelitian PTK

SISTEMATIKA PROPOSAL PTK

A. JUDUL
Judul Pelatihan Tindak Kelas (PTK) hendaknya dinyatakan dengan akurat dan padat dengan menguraikan permasalahan serta bentuk tindakan yang dilakukan peneliti sebagai upaya pemecahan masalah. Formulasi judul hendaknya singkat, jelas, dan sederhana namun secara tersirat telah menampilkan sosok PTK bukan sosok penelitian formal.

B. LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam latar belakang permasalahan ini hendaknya diuraikan urgensi penanganan permasalahan yang diajukan itu melalui PTK. Untuk itu, harus ditunjukkkan fakta–fakta yang mendukung, baik yang berasal dari pengamatan guru selama ini maupun dari kajian pustaka. Dukungan berupa hasil penelitian–penelitian terdahulu, apabila ada juga akan lebih mengokohkan argumentasi mengenai urgensi serta signifikansi permasalahan yang akan ditangani melalui PTK yang diusulkan itu. Karakteristik khas PTK yang berbeda dari penelitian formal hendaknya tercermin dalam uraian di bagian ini.

C. PERMASALAHAN
Permasalahan yang diusulkan untuk ditangani melalui PTK itu dijabarkan secara lebih rinci dalam bagian ini. Masalah hendaknya benar–benar di angkat dari masalah keseharian di sekolah yang memang layak dan perlu diselesaikan melalui PTK. Sebaliknya permasalahan yang dimaksud seharusnya bukan permasalahan yang secara teknis metodologik di luar jangkauan PTK. Uraian permasalahan yang ada hendaknya didahului oleh identifikasi masalah, yang dilanjutkan dengan analisis masalah serta diikuti dengan refleksi awal sehingga gambaran permasalahan yang perlu di tangani itu nampak menjadi perumusan masalah tersebut. Bagian ini dikunci dengan perumusan masalah tersebut dan sosok PTK harus secara konsisten tertampilkan.

D. CARA PEMECAHAN MASALAH
Dalam bagian ini dikemukakan cara yang diajukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Alternatif pemecahan yang diajukan hendaknya mempunyai landasan konseptual yang mantap dan bertolak dari hasil analisis masalah. Disamping itu, harus terbayangkan kemungkinan kemanfaatan hasil pemecahan masalah dalam rangka pembenahan dan/atau peningkatan implementasi program pembelajaran dan/atau berbagai program sekolah lainnya. Juga harus dicermati bahwa artikulasi kemanfaatan PTK berbeda dari kemanfaatan penelitian formal.

E. TUJUAN PENELITIAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Tujuan PTK hendaknya dirumuskan secara jelas dengan memaparkan sasaran dan akhir tindakan perbaikan. Perumusan tujuan harus konsisten dengan hakekat permasalahan yang dikemukakan dalam bagian–bagian sebelumnya. Dengan sendirinya artikulasi tujuan PTK berbeda dari tujuan formal. Sebagai contoh dapat dikemukakan PTK di bidang IPA yang bertujuan meningkatkan prestasi siswa dalam mata pelajaran IPA melalui penerapan strategi PBM yang baru, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar mengajar dan sebagainya. Pengujian dan/atau pengembangan strategi PBM baru bukan merupakan rumusan tujuan PTK. Selanjutnya ketercapaian tujuan hendaknya dapat diverifikasi secara obyektif dan akan lebih  baik apabila dapat dikuantifikasikan.

Disamping tujuan PTK, juga perlu diuraikan kemungkinan kemanfaatan penelitian. Diperlukan pemaparan secara spesifik mengenai keuntungan–keuntungan yang dijanjikan, khususnya bagi siswa sebagai pewaris langsung (direct beneficiaries) hasil PTK, di samping bagi guru pelaksana PTK, bagi rekan–rekan guru lainnya serta bagi para dosen LPTK sebagai pendidik guru. Berbeda dari konteks penelitian formal, kemanfaatan bagi pengembangan ilmu. teknologi dan seni tidak merupakan prioritas dalam konteks PTK, meskipun kemungkinan kehadirannya tidak ditolak.

F. KERANGKA TEORETIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN
Pada bagian ini diuraikan landasan substantif dalam arti teoretik dan/atau metodologik yang dipergunakan peneliti dalam menentukan alternatif yang akan diimplementasikan. Untuk keperluan itu, dalam bagian ini diuraikan kajian baik pengalaman peneliti pelaku PTK sendiri yang relevan maupun pelaku–pelaku PTK lain disamping terhadap teori–teori yang lazim termuat dalam berbagai kepustakaan. Argumentasi logika dan teoretik diperlukan guna menyusun kerangka konseptual. Arus kerangka konseptual yang disusun itu, hipotesis tindakan dirumuskan.


G. RENCANA PENELITIAN
a. Pengaturan penelitian dan karakteristik subyek penelitian
Pada bagian ini disebutkan tempat penelitian tersebut dilakukan, di kelas berapa dan bagaimana karakteristik dari kelas tersebut seperti komposisi siswa pria dan wanita. Latar belakang sosial ekonomi yang mungkin relevan dengan permasalahan, tingkat kemampuan dan lain sebagainya. Aspek substantif permasalahan seperti matematika kelas II SMPLB atau bahasa Inggris kelas III SMLB, juga dikemukakan pada bagian ini.

b. Variabel yang diselidiki
Pada bagian ini ditentukan variabel–variabel penelitian yang dijadikan titik–titik incar untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. Variabel tersebut dapat berupa:
1. variabel input yang terkait dengan siswa, guru, bahan pelajaran, sumber belajar, prosedur evaluasi, lingkungan belajar, dan lain sebagainya.
2. variabel proses pelanggaran KBM seperti interaksi belajar-mengajar, keterampilan bertanya, guru, gaya mengajar guru, cara belajar siswa, implementasi berbagai metode mengajar di kelas, dan sebagainya, dan
3. varaibel output seperti rasa keingintahuan siswa, kemampuan siswa mengaplikasikan pengetahuan, motivasi siswa, hasil belajar siswa, sikap terhadap pengalaman belajar yang telah digelar melalui tindakan perbaikan dan sebagainya.

c. Rencana tindakan
Pada bagian ini digambarkan rencana tindakan untuk meningkatkan pembelajaran, seperti:
1. Perencanaan, yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan PTK yang diprakarsai seperti penetapan entry behavior. Persiapan tersebut antara lain berupa pelaksanaan tes diagnostik untuk menspesifikasi masalah, pembuatan skenario pembelajaran, pengadaan alat–alat dalam rangka implementasi PTK, dan lain–lain yang terkait dengan pelaksanaan tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Disamping itu juga diuraikan alternatif–alternatif solusi yang akan dicobakan dalam rangka perbaikan masalah. Format kemitraan antara guru dengan dosen LPTK juga dikemukakan pada bagian ini.
2. Implementasi tindakan yaitu deskripsi tindakan yang akan di gelar dan skenario kerja berupa tindakan perbaikan dan prosedur tindakan yang akan diterapkan.
3. Observasi dan interpretasi yaitu uraian tentang prosedur perekaman dan penafsiran data mengenai proses dan produk dari implementasi tindakan perbaikan yang dirancang.
4. Analisis dan refleksi yaitu uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkenaan dengan proses dan dampak tindakan perbaikan yang akan digelar, personel yang akan dilibatkan serta kriteria dan rencana bagi tindakan daur berikutnya.

d. Data dan cara pengumpulannya
Pada bagian ini ditunjukkan dengan jelas jenis data yang akan dikumpulkan yang berkenaan baik dengan proses maupun dampak tindakan perbaikan yang digelar. Data tersebut akan digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau kekurang berhasilan tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan. Format data dapat bersifat kualitatif, kuantitatif, atau kombinasi keduanya.
Di samping itu teknik pengumpulan data yang diperlukan juga harus diuraikan dengan jelas seperti melalui pengamatan partisipatif, pembuatan jurnal harian, observasi aktivitas di kelas (termasuk berbagai kemungkinan format dan alat bantu rekam yang akan digunakan) penggambaran interaksi dalam kelas (analisis sosiometrik), pengukuran hasil belajar dengan berbagai prosedur assessment dan sebagainya. Selanjutnya dalam prosedur pengumpulan data PTK ini tidak boleh dilupakan bahwa sebagai pelaku PTK dan para guru juga harus aktif sebagai pengumpul data, bukan semata–mata sebagai sumber data.
Akhirnya semua teknologi pengumpulan data yang digunakan harus mendapat penilaian kelaikan yang cermat dalam konteks PTK yang khas itu. Sebab meskipun menjanjikan mutu rekaman yang jauh lebih baik, penggunaan teknologi perekaman data yang canggih dapat saja terganjal keras pada tahap tayang ulang dalam rangka analisis dan interpretasi data.

e. Indikator kinerja
Pada bagian ini, tolak ukur keberhasilan tindakan perbaikan ditetapkan secara eksplisit sehingga memudahkan verifikasinya. Untuk tindak perbaikan melalui PTK yang bertujuan mengurangi kesalahan konsep siswa misalnya perlu ditetapkan kriteria keberhasilan dalam bentuk pengurangan (jumlah jenis dan atau tingkat urgensinya) atas kesalahan konsepsi yang tertampilkan dan patut diduga sebagai dampak dari implementasi tindakan perbaikan yang dimaksud.
f. Tim peneliti dan tugasnya
Pada bagian ini, hendaknya dicantumakan nama–nama anggota tim peneliti dan uraian tugas peran setiap anggota tim peneliti serta jam kerja yang dialokasikan setiap minggu untuk kegiatan penelitian.

H. JADWAL PENELITIAN
Jadwal kegiatan penelitian disusun dalam matriks yang menggambarkan urutan kegiatan dari awal sampai akhir.

I. RENCANA ANGGARAN
a. Komponen–komponen pembiayaan
Rencana anggaran meliputi kebutuhan dukungan finansial untuk tahap persiapan pelaksanan penelitian, dan pelaporan. Secara lebih rinci, pembiayaan yang termasuk dalam setiap bidang adalah sebagai berikut:
1. Persiapan
Kegiatan persiapan antara lain meliputi pertemuan anggota tim peneliti untuk menetapkan jadwal penelitian dan pembagian kerja, menyusun instrumen penelitian, menetapkan format pengumpulan data, menetapkan teknik analisis data, dan sebagainya.
2. Kegiatan operasional di lapangan
Dalam kegiatan operasional dapat tercakup antara lain pelancaran tes diagnostik dan analisis hasilnya, gladi resik implementasi tindakan, perbaikan, pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi dan interpretasi pelaksanaan tindakan perbaikan, pertemuan refleksi, perencanaan tindakan ulang dan sebagainya.
3. Penyusunan laporan hasil PTK
Pembiayaan yang termasuk dalam bagian ini adalah penyusunan konsep laporan, review konsep laporan, penyusunan konsep laporan akhir. Seminar lokal hasil penelitian, seminar nasional hasil penelitian, dan sebagainya. Juga termasuk dalam pembiayaan adalah penggandaan dan pengiriman laporan hasil PTK, serta pembuatan artikel hasil PTK dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.


b. Cara Merinci Kegiatan dan Pembiayaan
Biaya penelitian harus dirinci berdasarkan kegiatan operasional yang dijabarkan dari metodologi yang dikemukakan. Agar dapat dihitung biayanya, kegiatan operasional itu harus jelas namanya, tempatnya, lamanya, jumlah pesertanya. Sarana yang diperlukan dan output yang diharapkan.

Beberapa patokan pembiayaan satuan kegiatan penelitian
Honorarium
- Ketua peneliti.
- Anggota tim peneliti.
- Tenaga administrasi.
Besarnya honorarium tergantung pada sumber pandanaan.

Bahan dan Peralatan penelitian
- Bahan habis pakai.
- Alat habis.
- Sewa alat.

Perjalanan
- Biaya perjalanan sesuai dengan ketentuan.
- Transportasi lokal sesuai harga setempat.
- Lumpsum termasuk konsumsi sesuai dengan ketentuan.
- Monitoring dari PGSM minimal untuk satu orang, satu kali, selama dua hari.
- Konsultasi ketua tim peneliti ke PGSM selama dua hari.

Laporan Penelitian
- Penggandaan.
- Penyusuinan artikel berbahasa Indonesia dan Inggris.
- Pengiriman.


Seminar
- Seminar lokal, konsumsi sesuai harga setempat, biaya penyelenggaraan sesuai dengan harga setempat.
- Seminar nasionala minimal untuk dua orang (satu dosen LPTK dan satu guru pelaku PTK).

J. DAFTAR PUSTAKA
Daftar pustaka disusun menurut urutan abjad pengarang. hendaknya pustaka benar–benar relevan dan sungguh–sungguh dipergunakan dalam penelitian.

K. LAMPIRAN DAN LAIN – LAIN
Bagian lampiran dapat berisi curriculum vitae ketua dan para anggota tim inti. Curriculum vitae tersebut memuat identitas ketua anggota tim peneliti, riwayat pendidikan, pelatihan di bidang penelitian yang telah pernah diikuti, baik sebagai penatar/pelatih maupun sebagai peserta, dan pengalaman dalam penelitian termasuk di PTK. Hal–hal lain yang dapat memperjelas karakteristik kancah PTK yang diusulkan dapat disertakan dalam usulan penelitian ini.


Readmore → Contoh Proposal Penelitian PTK

Contoh Proposal Penelitian Akuntansi

PROPOSAL PENELITIAN AKUTANSI
BAB 1
A. Latar Belakang
Dalam perhitungan akuntansi tradisional, perusahaan dagang yang menjual produk,menekankan pada harga pokok barang yang dijual dan persediaan. Dalam usaha eceran atau besar, harga pokok penjualan adalah sederhana, biaya yang terjadi dalam pembelian barang dagangan selama satu periode, persediaan adalah biaya produk yang dibeli bukan dijual. Persediaan adalah nama yang diberikan untuk barang-barang baik yang dibuat atau dibeli untuk dijual kembali dalam bisnis normal. Persediaan pedagang mobil terdiri dari mobil, persediaan toko bahan makanan terdiri dari sayur, daging, produk kering, barang dalam kaleng dan roti. Barang-barang lain yang bernilai seperti kas atau peralatan. Persediaan dikelompokkan sebagai aset dan dilaporkan dalan neraca. Ketika produk dijual produk tersebut bukan lagi aset. Biaya untuk membeli atau membuat produk harus dipindahkan dari klasifikasi aset (persediaan) pada neraca dan dilaporkan pada laporan laba rugi sebagai biaya atau harga pokok barang dijual.
Salah satu lembaga yang melakukan usaha jual beli adalah koperasi. Dalam lembaga yang terdiri dari perkumpulan orang-orang yang atas dasar persamaan derajat sebagai manusia dengan tidak memandang haluan agama politik secara sukarela masuk, untuk sekedar memenuhi kebutuhan bersama yang bersifat kebendaan atas tanggungan bersama ini melakukan suatu usaha jual beli disamping transaksi pinjam meminjam. Salah satu lembaga koperasi yang ada dilingkungan  ............ adalah Koperasi ……………. yang melayani jasa jual  beli untuk memenuhi kebutuhan mahasisiwa dan pelajar yang ada disekitar kawasan ............ yang salah satu jasa jual beli yang menjadi andalan adalah jual beli alat tulis kantor (ATK).
Berkaitan dengan usaha jual beli alat tulis kantor (ATK) ini pihak koperasi perlu melakukan perhitungan akuntansi terhadap produk-produk barang yang diperjualbelikan secara rinci guna dapat menghitung keuntungan yang akan diperoleh dari perjualan tersebut yakni perhitungan persediaan dan biaya barang terjual (Cost Of Goods Sold). Sediaan dan biaya barang terjual adalah istilah yang digunakan untuki menunjukkan barang-barang yang dimiliki oleh suatu perusahaan tergantung pada jenis usaha perusahaan. Secara umum istilah persediaan barang dipakai unutk menunjukkan barang-barang yang dimiliki untuk dijual kembali atau digunakan unutk memproduksi barang-barang yang akan dijual. Dalam perusahaan dagang, barang-barang yang dibeli dengan tujuan untuk dijual kembali diberi judul sediaan barang dagangan. Sediaan untuk perusahaan manufaktur terdiri dari beberapa jenis yang berbeda, dengan tujuan menunjukkan macam sediaan barang yang dimiliki.
Sediaan barang pada awal perioda akuntansi disebut dengan sediaan awal, sedangkan sediaan yang dimiliki oleh perusahaan pada akhir periode disebut dengan sediaan akhir. Sedangkan seluruh jumlah rupiah yang dikeluarkan atau diperhitungkan dalam rangka memperoleh barang sampai barang tersebut siap dijual disebut dengan kos barang terjual (Cost Of Goods Sold) atau yang popular dengan sebutan harga pokok penjualan.
Seiring dengan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) pengolahan data transaksi perhitungan akuntansi dapat dilakukan lebih mudah, cepat dan akurat dengan bantuan salah satu program komputer yang ada dalam Microsoft Office yaitu Microsoft Excel. Microsoft Excel adalah program aplikasi spread sheet yang bisa digunakan untuk menampilkan data, kalkulasi, membuat diagram, laporan dan semua hal yang berkaitan dengan data-data yang berupa angka (Akbar, 2006:9).
Sebuah koperasi hendaknya menggunakan progaram Microsoft Excel untuk mempermudah penghitungan terhadap produk barang yang diperjualbelikan. Salah satunya juga dapat melakukan perhitungan akuntansi untuk sediaan dan biaya barang terjual. Pihak Koperasi ............ belum menggunakan program Microsoft Excel untuk perhitungan sediaan dan biaya barang terjualnya. Sehubungan dengan hal itu pihak Koperasi …….. sebaiknya melakukan perhitungan tersebut dengan menggunakan program Microsof Excel guna mempermudah dan memperoleh perhitungan yang akurat. Selai itu Microsoft Excel juga merupakan program popular dibandingkan dengan program lain dalam melakukan penghitungan.
Berdasarkan permasalahan di atas, pada tugas akhir ini penulis memberi Judul: “Perhitungan Sediaan Akhir Dan Biaya Barang Terjual (Cost Of Goods Sold) Pada Produk Alat Tulis Kantor (ATK) periode 2006-2007 Dalam Aplikasi Microsof
Excel (Studi Kasus Koperasi .......................... Kota ………..)”


B. Permasalahan
Untuk mengetahui cara perhitungan persediaan barang dagangan dengan aplikasi Microsoft Excel serta efisien dan efektifitas penggunaannya, maka penulis mengambil tiga topik yang akan dinahas dalam karya tulis ilmiah ini, yaitu :
a. Metode apakah yang digunakan Koperasi ............ dan Biaya Barang Terjual (Cost Of Goods Sold) pada produk alat tulis kantor (ATK) periode 2006-2007?
b. Bagaimana pengaruh perhitungan sediaan akhir dan kos barang terjual (Cost Of Goods Sold) produk alat tulis kantor (ATK) yang diterapkan oleh Koperasi ............ terhadap laporan keuangan periode 2006-2007?
c. Bagaimana aplikasi dalam Microsoft Ekcel perhitungan sediaan akhir dan kos barang terjual (Cost Of Goods Sold) pada produk aklat tulis kantor (ATK) pada Koperasi............?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai penulis adalah :
a. Untuk mengetahui metode yang digunakan Koperasi ............ dalam perhitungan sediaan akhir dan biaya barang terjual(Cost Of Goods Sold) pada produk alat tulis kantor (ATK) periode 2006-2007.
b. Untuk mengetahui pengaruh perhitungan sediaan akhir dan biaya barang terjual (Cost Of Goods Sold) pada produk alat tulis kantor (ATK) di Koperasi ............ terhadap laporan keuangan 2006-2007.
c. Untuk mengetahui aplikasi perhitungan sediaaan akhir dan biaya barang terjual (Cost Of Goods Sold)  dalam aplikasi Microsoft Excel.
D. Kegunaan Penelitian
Kegunaan yang ingin penulis peroleh dari penulisan karya ilmiah ini adalah :
a. Bagi Penulis
Dapat menambah pengetahuan dan pengalaman penullis dalam bidang penelitian dan penyusunan karya ilmiah
b. Bagi Koperasi ............
Dapat memberikan gambaran kepada pihak Koperasi ............ tentang perhitungan sediaan akhir dan biaya barang terjual (Cost Of Goods Sold) dengan menggunakan aplikasi Microsort Excel
c. Bagi pihak lain
Dapat dijadikan literatur dalam membuat karya ilmiah dan memberikan gambaran efisien dan efektifitas penggunaan Microsoft Excel untuk menghitung sediaan akhir dan biaya barang terjual (Cost Of Gods Sold)

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Sediaan Akhir dan Biaya Barang Terjual (Cost Of Goods Sold)
Sediaan dan biaya barang terjual adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan baranng-barang yang dimiliki oleh suatu perusahaan tergantung pada jenis usaha perusahaan. Secara umum istilah sediaan barang dipakai unutk menunnjukkan barang-barang yang dimiliki untuk dijual kembali atau digunakan unutk memproduksi barang-barang yang akan dijual. Dalam perusahaan dagang, barang-barang yang dibeli dengan tujuan untuk dijual kembali diberi judul sediaan barang dagangan. Sediaan untuk perusahaan manufaktur terdiri dari beberapa jenis yang berbeda, dengan tujuan menunjukkan macam sediaan barang yang dimiliki.
Sediaan barang pada awal perioda akuntansi disebut dengan sediaan awal, sedangkan sediaan yang dimiliki oleh perusahaan pada akhir perioa disebut dengan sediaan akhir. Sedangkan seluruh jumlah rupiah yang dikeluarkan atau diperhitungkan dalam rangka memperoleh barang sampai barang tersebut siap dijual disebut dengan biaya barang terjual (Cost Of Goods Sold) atau yang popular dengan sebutan harga pokok penjualan.
B. Koperasi
Menurut Bapak Margono Djojohadikoesoemo dalam bukunya yang berjudul “Sepuluh Tahun Koperasi” 1941 mengatakan bahwa: “Koperasi ialah perkumpulan manusia seorang-orang yang derngan sujanya sendiri hendak bekerja sama untuk memajukan ekonominya”.
Kata-kata yang tersurat dalam definisi tersebut dapat diterangkan sebagai berikut.
Adanya unsur kesukarelaan dalam berkoperasi.
Dengan kerjasama itu, manusia akan lebih mudah mencapai apa yang diinginkan.
Pendirian dari suatu koperasi mempunyai pertimbangan-pertimbangan ekonomis.
Azas-azas Koperasi
Azas koperasi atau dalam bahasa Inggrisnya disebut Cooperative Principles ini berasal dari bahasa Latin yaitu Princupium yang berarti basis atau landasan dan inipun bisa mempunyai beberapa
C. Microsoft Excel
D. Aplikasi Perhitungan Sediaan Akhir dan Biaya Barang Terjual (Cost Of Gods Sold)


BAB III
METODE PENELITIAN
A. Definisi Operasional Variabel
Sediaan barang akhir adalah
B. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini mempunyai batasan-batasan pada perhitungan sediaan akhir dan kos barang terjual dengan aplikasi microsoft excel pada Koperasi ............
C. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada Koperasi ............ yang berlokasi
D. Jenis dan Sumber Data
E. Teknik Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini menggunkan teknik-teknik sebagai berikut:
a. Dokumentasi merupakan data-data dari objek yang diteliti.
b. Studi literatur adalah sumber pustaka yang berkaitan denagn masalah perhitungan sediaan akhir dan biaya barang terjual (Cost Of Goods Sold).
F. Teknik Analisis data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penulisan ini adalah deskriptif kuantitatif yaitu dengan data-data transaksi..



Sumber: images.zanikhan.multiply.com/attachment/0/.../PROPOSA2.DOC?

Readmore → Contoh Proposal Penelitian Akuntansi

kata bijak

TAS, SEPATU, BAJU, DISTRO BANDUNG

alt/text gambar

TAS, SEPATU, BAJU, DISTRO BANDUNG

alt/text gambar

pesan hari ini