Contoh Proposal PTK di Sekolah Dasar

A.      Judul
Pengembangan Lembar Kerja Siswa Berbasis Pendekatan Saintifik pada Subtema Daur Air di Sekolah Dasar.

B.       Latar Belakang Penelitian
Belajar dan pembelajaran memiliki konsep yang berbeda namun saling berkaitan. Belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku. Sebagaimana diungkapkan oleh Asep Herry Hernawan (2007: 2) “belajar adalah proses perubahan perilaku, dimana perubahan perilaku tersebut dilakukan secara sadar dan bersifat menetap, perubahan perilaku tersebut meliputi perubahan dalam hal kognitif, afektif, dan psikomotor.”
Sedangkan pembelajaran berkaitan dengan komunikasi timbal balik antara siswa dengan guru. “Pembelajaran adalah kegiatan belajar siswa yang telah dirancang oleh guru melalui usaha yang terencana melalui prosedur atau metode tertentu agar terjadi proses perubahan perilaku secara komperhensif” (Asep Herry Hernawan, 2007: 3). Keterkaitan antara dua konsep ini yaitu upaya guru merencanakan kegiatan belajar untuk siswa dengan memfasilitasi agar siswa dapat berinteraksi dengan lingkungan sehingga terjadi perubahan perilaku pada diri siswa. Perubahan tersebut mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Menurut Muhammad Rohman (2013:68) perubahan yang terjadi memiliki karakteristik: (1) perubahan terjadi secara sadar; (2) perubahan dalam belajar bersifat sinambung dan fungsional; (3) tidak bersifat sementara; (4) bersifat positif dan aktif; (5) memiliki arah dan tujua; dan (6) mencakup seluruh aspek perubahan tingkah laku, yaitu pengetahuan, sikap, dan perbuatan.
Merujuk pada karakteristik tersebut, aktivitas belajar siswa merupakan suatu kegiatan yang menjadi ciri berlangsungnya suatu pembelajaran. Aktivitas ini tentunya melibatkan aktivitas fisik dan mental siswa. Aktivitas yang mudah teramati dalam pembelajaran adalah aktivitas fisik berupa gerak motorik siswa seperti memperagakan sesuatu atau memperagakan suatu model. Aktivitas lain yang juga perlu mendapat perhatian yaitu aktivitas mental siswa. Aktivitas mental ini juga dikatakan sebagai proses berpikir siswa berupa mengingat, menalar, dan menganalisis suatu materi pembelajaran. Meskipun tidak dapat diamati oleh indera, namun aktivitas mental ini menjadi ciri bagi siswa sudah atau belum memahami materi pembelajaran.

Selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran, siswa dituntut untuk memadukan aktivitas fisik dan mental mereka untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung dengan aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan perlu adanya suatu perangkat pembelajaran yang mendukung terciptanya suasana pembelajaran tersebut. Salah satun perangkat pembelajaran yang dapat digunakan yaitu Lembar Kerja Siswa atau sering disebut dengan LKS.
“Lembar Kerja Siswa adalah bagian dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang menunjang kepada pencapaian indikator melalui berbuat (hands on activity) dan berfikir (minds on activity) sehingga siswa memperoleh kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor”. (Tim Pengembang Rayon 134 Universitas Pasundan Bandung, 2012 )
Sementara itu, menurut Abdul Majid (2012) “Lembar Kerja Siswa (student work sheet) adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik”. LKS ini berisi petunjuk langkah-langkah yang harus dilakukan oleh siswa untuk mengerjakan suatu tugas, dan berperan membantu siswa dalam memadukan aktivitas fisik dan mental mereka selama proses pembelajaran. Selain itu, LKS juga berperan membantu guru dalam mengarahkan siswa menemukan konsep-konsep melalui aktivitasnya sendiri. Dengan adanya LKS diharapkan siswa dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dan menuangkan ide-ide kreatifnya baik secara perorangan maupun kelompok, mampu berpikir kritis dan menjalin kerjasama yang baik dengan anggota kelompok.
Kondisi ideal yang diharapkan tersebut ternyata masih belum tercapai. Hal ini terlihat dari hasil observasi yang dilakukan peneliti di SDN 1 Cisadap Kecamatan Ciamis Kabupaten Ciamis pada tanggal 17 Desember 2013. Dari hasil wawancara dengan salah satu guru di sekolah tersebut, yaitu bernama ibu Eli Mulyaningsih, S.Pd sebagai guru wali kelas V, ternyata sebagian besar guru di SDN 1 Cisadap hanya menggunakan LKS yang sudah disediakan pada buku teks sebagai bahan kerja siswa selama kegiatan pembelajaran. Padahal LKS tersebut sebenarnya bukanlah LKS yang benar-benar secara maksimal membantu siswa untuk aktif, kreatif, dan inovatif menuangkan ide-idenya serta memadukan aktivitas fisik dan mental mereka dalam proses pembelajaran, karena hanya menyajikan soal-soal latihan untuk dijawab oleh siswa secara tertulis saja. Masih sangat minim LKS yang secara kreatif dirancang oleh masing-masing guru dengan tujuan untuk mengkolaborasikan aktivitas fisik dan mental siswa dalam proses pembelajaran. Masih banyak yang mengeluhkan bahwa LKS hanya berisi latihan soal-soal untuk dikerjakan siswa pada saat jam-jam kosong atau sebagai tugas PR yang harus dikerjakan siswa di rumah. Namun, seharusnya LKS tidak hanya selalu berisi latihan soal. Latihan soal yang disajikan dalam LKS tersebut lebih tepatnya merupakan soal evaluasi untuk mengukur kemampuan kognitif siswa saja. Dari permasalahan yang ditemukan tersebut mengakibatkan siswa kurang aktif selama kegiatan pembelajaran berlangsung, proses pembelajaran terkesan monoton, dan keberhasilan pembelajaran menjadi rendah.
Kurikulum 2013 mengandung lima esensi, yaitu pembelajaran tematik, pembelajaran kontekstual, pendidikan karakter, pendekatan saintifik, dan penilaian autentik. Berkaitan dengan salah satu esensi pada kurikulum 2013 yaitu pendekatan saintifik, terdapat aktivitas sains yang perlu dikuasai siswa, yaitu mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan membentuk jejaring (Permendikbud, 2013). Mengacu pada kurikulum 2013 tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan sebuah penelitian yang berkaitan dengan pengembangan Lembar Kerja Siswa berupa LKS yang didalamnya berisi rangkaian kegiatan dan tugas-tugas yang harus dilakukan siswa dengan tujuan untuk meningkatkan aktivitas sains siswa berdasarkan pendekatan saintifik sehingga dapat mencapai kompetensi yang diharapkan. Penelitian ini diberi judul Pengembangan Lembar Kerja Siswa Berbasis Pendekatan Saintifik pada Subtema Daur Air di Sekolah Dasar.

C.      Identifikasi dan Perumusan Masalah
1.        Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, peneliti mengidentifikasi permasalahan yang muncul terkait dengan penggunaan LKS di sekolah dasar, diantaranya:
a.         Masih banyak siswa yang belum mampu menguasai aktivitas sains berupa mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan membentuk jejaring dalam pembelajaran.
b.        LKS yang dominan digunakan berupa latihan-latihan soal yang harus dikerjakan siswa secara tertulis.
2.        Rumusan Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini dibatasi dengan pertanyaan penelitian sebagai berikut:
a.         Bagaimanakah LKS yang telah digunakan di kelas V sekolah dasar?
b.        Bagaimanakah rancangan LKS berbasis saintifik untuk siswa kelas V sekolah dasar?
c.         Bagaimanakah implementasi rancangan LKS berbasis saintifik dalam proses uji coba?
d.        Bagaimanakah LKS berbasis saintifik yang dapat digunakan untuk siswa kelas V sekolah dasar?
3.        Variabel Penelitian
Variabel pada penelitian ini yaitu Lembar Kerja Siswa dan Lembar Kerja Siswa berbasis pendekatan saintifik.
4.        Batasan Masalah
Masalah dalam penelitian ini dibatasi hanya pada pengembangan Lembar Kerja Siswa berbasis pendekatan saintifik  pada subtema Daur Air untuk siswa kelas V sekolah dasar.
D.      Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut:
1.        Untuk mengetahui LKS yang telah digunakan di kelas V sekolah dasar.
2.        Untuk menghasilkan rancangan LKS berbasis pendekatan saintifik untuk siswa kelas V sekolah dasar.
3.        Untuk memperoleh gambaran tentang keefektifan penggunaan LKS dalam uji coba rancangan LKS berbasis pendekatn saintifik untuk siswa kelas V sekolah dasar.
4.        Untuk menghasilkan LKS berbasis pendekatan saintifik yang dapat digunakan di Kelas V sekolah dasar.
E.       Manfaat Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat beberapa manfaat yang diharapkan peneliti setelah penelitian dilaksanakan:
1.        Bagi guru, penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan sebuah LKS berbasis pendekatan saintifik yang dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam pembelajaran di kelas.
2.        Bagi siswa, penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan sebuah LKS berbasis pendekatan saintifik yang dapat digunakan untuk siswa sekolah dasar dalam proses pembelajaran.
3.        Bagi lembaga terkait, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sebuah contoh bagi pengembangan LKS yang dapat digunakan di kelas V sekolah dasar di masa yang akan datang.
4.        Bagi peneliti, diharapkan hasil penelitian ini menjadi salah satu rujukan yang relevan untuk penelitian selanjutnya.
F.       Landasan Teori
1.        Lebar Kerja Siswa (LKS)
“Lembar kerja siswa (student work sheet) adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik” (Abdul Majid, 2012). Sementara menurut Trianto (2009: 222) “Lembar Kerja Siswa adalah panduan yang digunakan untuk melakukan kegiata penyelidikan atau pemecahan masalah.”
Lembar kerja idealnya berisi petunjuk, langkah-langkah untuk mengerjakan suatu tugas. Perlu adanya kejelasan kompetensi dasar yang ingin dicapai sebelum merancang sebuah LKS dan menentukan tugas-tugas yang harus dilakukan siswa. Tugas-tugas dalam lembar kerja siswa akan sulit dikerjakan oleh siswa secara optimal apabila tidak didukung dengan buku lain atau referensi lain yang terkait dengan materi tugasnya. Penggunaa LKS ini bisa untuk semua mata pelajaran.
Tugas yang terdapat dalam sebuah LKS digolongkan ke dalam tugas praktis dan tugas teoritis. Apa yang dimaksud tugas praktis dan tugas teoritis? Tugas praktis berkaitan dengan praktek atau aktivitas fisik yang harus dilakukan oleh siswa, misalnya praktikum di laboratorium, kerja lapangan berupa survei ke suatu tempat atau lokasi, dan lain sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan tugas teoritis yaitu berkaitan dengan aktivitas mental siswa berupa menalar, menganalisis, dan sebagainya. Tugas teoritis ini misalnya siswa ditugaskan untuk membaca sebuah berita atau artikel dari koran, lalu membuat ringkasan dari bahan bacaan tersebut. Penggunaan LKS dengan baik dan sesuai dengan prosedur tentunya akan  dirasa manfaatnya, baik itu oleh guru dan yang lebih utama dirasakan oleh siswa. Dengan adanya LKS, siswa akan terbiasa belajar secara mandiri, kreatif, aktif, dan memiliki banyak kesempatan untuk menuangkan ide-idenya dalam kegiatan belajar, serta belajar bekerja sama dan saling menghargai antar teman, baik itu dalam satu kelompok maupun dengan kelompok lain. Sementara bagi giri, LKS ini bermanfaat sebagai pegangan untuk memandu kerja siswa selama pembelajaran. Akan lebih baik jika guru secara kreatif merancang sendiri LKS yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajarnya. Kecermatan dan pengetahuan serta keterampilan yang memadai merupakan syarat yang penting dikuasai oleh guru ketika merancang sebuah LKS. Guru perlu dengan cermat menentukan kompetensi dasar apa yang harus dikuasai siswa melalui LKS yang akan digunakan. Kegiatan-kegiatan siswa dalam LKS yang mendukung untuk tercapainya kompetensi dasar yang telah ditentukan juga perlu dirancang secara terampil oleh guru agar kegiata pembelajara berlangaung dengan aktif dan menyenangkan bagi siswa. Selain itu, pemilihan materi pembelajaran pun perlu diperhatikan dengan cermat oleh guru agar sesuai dengan perkembangan belajar siswa.
‘Pemilihan materi pembelajaran seharusnya berpijak pada pemahaman bahwa meteri pembelajaran tersebut menyediakan aktivitas-aktivitas yang berpusat pada siswa’ (Collete dan Chiappeta dalam Muhammad Rohman, 2013). Materi pembelajaran yang memungkinkan siswa secara aktif mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor ini dapat dikemas dalam sebuah LKS. LKS merupakan lembar kerja yang mendukung pembelajaran perpusat pada siswa (student centered).


Terdapat beberapa jenis LKS menurut fungsinya, diantaranya yaitu: (a) LKS yang membantu siswa menemukan suatu konsep, (b) LKS yang membantu siswa menerapkan dan mengintegrasikan suatu konsep yang telah ditemukan, (c) LKS yang berfungsi sebagai penuntun belajar, (d) LKS yang berfungsi sebagai penguatan, dan (e) LKS yang berfungsi sebagai petunjuk praktikum. (Muhammad Rohman, 2013)
a.         LKS yang membantu siswa menemukan suatu konsep
LKS ini menyajikan suatu fenomena sederhana baik itu yang terjadi di lingkungan sosial anak maupun fenomena-fenomena alam yang berkaitan dengan materi ajar. Siswa diminta untuk mengamati fenomena tersebut. Selama proses mengamati ini, aktivitas mental siswa berlangsung berupa menalar, menganalisis, dan sebagainya. Proses ini merupakan proses mengonstruksi ilmu pengetahuan yang ada dalam otak siswa dan menghubungkan dengan pengetahuan baru yang didapatnya. Setelah proses konstruksi ini maka siswa akan mendapatkan atau menemukan konsep baru berkaitan dengan materi yang dipelajarinya. Penemuan konsep baru ini tidak lepas dari bimbingan guru berupa penyajian pertanyaan-pertanyaan analisis untuk membantu siswa mengaitkan fenomena yang diamati dengan konsep baru yang akan dibangun siswa dalam benaknya.
b.        LKS yang membantu siswa menerapkan dan mengintegrasikan suatu konsep yang telah ditemukan
Setelah siswa berhasil menemukan konsep, siswa dilatih untuk menerapkan konsep yang telah dipelajari tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Contoh LKS yang membantu siswa menerapkan dan mengintegrasikan suatu konsep yang telah ditemukan yaitu LKS tentang gaya dan gerak yang dapat melatihkan kemampuan merancang dan melaksanakan percobaan bagi siswa. Konsep gaya dan gerak ini dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dan berada di lingkungan sekitar siswa.
c.         LKS yang berfungsi sebagai penuntun belajar
LKS ini berisi pertanyaan atau isian yang jawabannya ada di dalam buku pelajaran. Siswa tidak akan dapat mengerjakan LKS ini dengan benar jika tidak membaca buku pelajaran terlebih dahulu, sehingga fungsi utama LKS ini adalah membantu siswa menghafal dan memahami materi pembelajaran yang terdapat di dalam buku. LKS jenis ini juga sesuai dengan keperluan remidi.
d.        LKS yang berfungsi sebagai penguatan
LKS ini diberikan setelah siswa selesai mempelajari topik tertentu. LKS jenis ini hampir sama dengan LKS yang berfungsi sebagai penuntun belajar, namun materi pembelajaran yang dikemas di dalam LKS ini lebih mengarah pada pendalaman dan penerapan materi pembelajaran yang terdapat di dalam buku pelajaran. LKS jenis ini cocok untuk pengayaan.
e.         LKS yang berfungsi sebagai petunjuk praktikum
LKS jenis ini umumnya terdapat pada pembelajaran sains.
Mengacu kepada Meril Physcal Science: Laboratory Manual dalam Muhammad Rohman (2013), isi petunjuk praktikum diorganisasikan sebagai berikut:
1.        Pengantar
Berisi uraian singkat dari materi pelajaran berupa konsep-konsep yang berkaitan dengan praktikum. Selain itu juga terdapat informasi khusus yang berkaitan dengan masalah yang akan dipecahkan melalui praktikum.
2.        Tujuan
Berisi kompetensi atau indikator yang ingin dicapai oleh siswa berkaitan dengan permasalahan yang diungkapkan pada pengantar atau berkaitan dengan unjuk kerja siswa. Contoh dari tujuan yaitu siswa dapat mengelompokkan macam-macam gaya dan gerak ke dalam tabel.
3.        Alat dan Bahan
Berisi alat dan bahan yang diperlukan untuk praktikum. Ketika menentukan alat dan bahan, guru harus dengan cermat memperhatikan jenis-jenis alat dan bahan yang aman atau kemungkinan berbahaya bila digunakan oleh siswa, serta kemudahan diperolehnya.
4.        Prosedur/ Langkah Kegiatan
Berisi instruksi kepada siswa untuk melakukan kegiatan secara terstruktur atau terurut. Langkah-langkah kegiataan yang dicantumkan dalam LKS perlu disertai dengan ilustrasi gambar agar mempermudah kerja siswa. Ilustrasi gambar ini bertujuan untuk meminimalisir kesalahan siswa dalam melakukan langkah-langkah praktikum.
5.        Data Hasil Pengamatan
Berisi tabel atau grafik kosong untuk diisi oleh siswa dengan data-data yang sesuai dari hasil praktikum dan membantu siswa mengorganisasikan data. Di bagian ini juga terdapat kolom untuk menuliskan semua hasil pengamatan yang telah dilakukan siswa.
6.        Analisis
Pada bagian ini siswa dibimbing untuk melakukan analisis data dari hasil pengamatan. Analisis adalah penyelidikan secara teliti dan penjabaran terhadap suatu fenomena untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya sehingga siswa dapat membuat kesimpulan dari kegiatan praktikum yang telah dilakukan. Analisis ini dapat berupa pertanyaan atau isian yang jawabannya merupakan perhitungan terhadap data. Dapat pula guru meminta siswa membuat grafik, untuk melihat hubungan sebab-akibat antara dua hal seperti yang dirumuskan dalam masalah.
7.        Kesimpulan
Berisi pertanyaan-pertanyaan yang dirancang guru untuk menghasilkan jawaban berupa kesimpulan (menjawab permasalahan) dari siswa. Pada bagian kesimpulan ini dapat pula memasukkan pertanyaan yang mengaitkan hasil praktikum dengan konsep-konsep sains lain dan penerapannya.
8.        Langkah Selanjutnya
Berisi kegiatan perluasan, proyek, atau telaah pustaka untuk membantu siswa belajar lebih lanjut berkaitan dengan materi pelajaran atau materi praktikum yang telah dilakukan serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini dapat dilakukan di luar jam pelajaran, seperti membaca literatur lain di perpustakaan ketika jam istirahat atau kegiatan lainnya di lingkungan rumah yang berkaitan dengan praktikum tersebut.
LKS yang disusun harus memenuhi syarat- syarat tertentu agar menjadi LKS yang berkualitas. Terdapat tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu syarat didaktik, konstruksi, dan teknis. Hal ini dikemukakan oleh Hendro Darmodjo dan Jenny R.E. Kaligis dalam Eli Rohaeti (2011)
a.         Syarat didaktik
Mengatur tentang penggunaan LKS yang bersifat universal, LKS dapat digunakan dengan baik untuk siswa dengan kategori lamban, sedang, dan pandai. LKS lebih menekankan pada proses untuk menemukan konsep. Hal yang penting dalam LKS yaitu adanya variasi stimulus melalui berbagai media dan kegiatan siswa. LKS yang ideal diharapkan yaitu yang mengutamakan pada pengembangan kemampuan komunikasi sosial, emosional, moral, dan estetika. Pengalaman belajar yang dialami siswa ditentukan oleh tujuan pengembangan pribadi siswa.
b.        Syarat konstruksi
Berhubungan dengan penggunaan bahasa, susunan kalimat, kosa kata, tingkat kesukaran, dan kejelasan dalam LKS. Syarat- syarat konstruksi tersebut yaitu: (1) menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat kedewasaan anak, (2) menggunakan struktur kalimat yang jelas, (3) memiliki tata urutan pelajaran yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa, maksudnya yaitu dimulai dari hal-hal sederhana menuju hal-hal yang lebih kompleks, (4) menghindari pertanyaan yang terlalu terbuka, (5) mengacu pada buku standar dalam kemampuan keterbatasan siswa, (6) menyediakan ruang yang cukup untuk memberi keluasan pada siswa untuk menulis maupun menggambarkan hal-hal yang siswa ingin sampaikan, (7) menggunakan kalimat sederhana dan pendek, (8) menggunakan lebih banyak ilustrasi gambar daripada kata-kata, (9) dapat digunakan untuk anak-anak, baik yang lamban, sedang, maupun yang cepat dalam hal penguasaan materi, (10) memiliki tujuan belajar yang jelas serta bermanfaat sebagai sumber motivasi, (11) memiliki identitas untuk memudahkan administrasinya.
c.         Syarat teknis
Menekankan pada tulisan, gambar, penampilan dalam LKS. Tulisan dalam LKS diharapkan memperhatikan hal-hal berikut: (1) menggunakan huruf cetak dan tidak menggunakan huruf latin/romawi, (2) menggunakan huruf tebal yang agak besar untuk topik, (3) menggunakan maksimal 10 kata dalam satu baris, (4) menggunakan bingkai untuk membedakan kalimat perintah dengan jawaban siswa, (5) memperbandingkan antara huruf dan gambar dengan serasi, gambar yang baik adalah gambar yang dapat menyampaikan pesan secara efektif pada pengguna LKS, (6) penampilan LKS dibuat menarik.
Adapun bentuk LKS berdasarkan format atau susunannya menurut Surachman dalam Sidiq (2012) adalah sebagai berikut:
a.         LKS bentuk tertutup (Structured, Guided).
LKS jenis ini berupa program belajar yang dikemas guru secara ketat, tidak memberikan peluang kepada siswa untuk mengembangkan daya nalar, kreativitas, minat dan daya imajinasinya. Siswa dipaksa mengikuti arahan dan mengerjakan tugas-tugas sesuai petunjuk yang telah ditetapkan oleh guru. Penerapan LKS jenis ini biasanya digunakan untuk siswa yang mulai belajar.
b.        LKS semi terbuka (Semi Strctured, Semi Guided).
Bentuk LKS ini mirip dengan LKS tertutup, namun beberapa bagiannya sengaja diberikan kepada siswa untuk dikembangkan. Terdapat bagian-bagian yang masih secara ketat dirancang oleh guru, tetapi beberapa bagian lain sengaja dirancang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan kemampuan belajarnya, baik itu pada aspek kognitif, afektif, maupun aspek psikomotornya.
c.         LKS terbuka (Un-Structured, Un-guided, Free Inquiry, Free Discovery).
LKS jenis ini lebih terbuka dibandingkan dengan LKS yang telah disebutkan sebelumnya. LKS memberikan peluang besar kepada siswa untuk mengembangkan kreativitas dan daya nalarnya. Arahan yang diberikan kepada guru lebih bersifat stimulasi bagi siswa untuk mengerjakan suatu kegiatan belajar. Melalui LKS jenis ini siswa lebih diberikan kesempatan secara terbuka mengeksplor pengetahuan dan mengembangkan keterampilannya melalui aktivitas mengamati, menanya, mencoba, menganalisis, hingga pada kegiatan membuat kesimpulan dan mengkomunikasikan hasil penalaranya kepada siswa lain. Dengan kegiatan seperti itu siswa akan terbiasa belajar dan bekerja secara mandiri dan kreatif.
Lembar Kerja Siswa memiliki beberapa komponen. Trianto (2012: 112) menyebutkan bahwa komponen-komponen LKS meliputi judul eksperimen, teori singkat tentang materi, alat dan bahan, prosedur eksperimen, data pengamatan serta pertanyaan dan kesimpulan untuk bahan diskusi.
2.        Pendekatan Saintifik
Menurut Sumanto dkk. (Sitiatava, 2013), ‘sains merupakan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis untuk menguasai pengetahuan, fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, proses penemuan, dan memiliki sikap ilmiah.’
Manfaat pendidikan sains di sekolah dasar bagi siswa yaitu untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar di lingkungannya. Pendidikan sains menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangakan kompetensi siswa  dan diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat agar siswa mampu mengeksplor dan memahami alam sekitar secara ilmiah serta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.
Istilah “sains” berasal dari bahasa Latin “scientia” yang berarti pengetahuan. Menurut Sitiatava (2013), dari beberapa pengertian hakikat sain, dapat diambil suatu definisi yang lebih komperhensif, mengaitkan sains sebagai pengetahuan, proses, dan produk, serta penerapan dan sarana pengembangan sikap, yakni sebagai berikut:
a.         Sains adalah pengetahuan yang mempelajari, menjelaskan, serta menginvestigasi fenomena alam dengan segala aspeknya yang bersifat empiris.
b.        Sains sebagai proses atau metode dan produk. Dengan menggunakan metode ilmiah berupa mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan membentuk jejaring, serta menarik kesimpulan terhadap fenomena alam, maka akan diperoleh produk sains. Produk sains tersebut misalnya berupa fakta, konsep, prinsip, dan generalisasi yang kebenarannya bersifat sementara (masih dapat berubah).
c.         Sains dapat dipandang sebagai aplikasi. Dengan penguasaan pengetahuan dan produk, sains dapat digunakan untuk menjelaskan, mengolah, memanfaatkan, memprediksi fenomena alam, dan mengembangkan disiplin ilmu lainnya termasuk pengembangan teknologi.
d.        Sains dapat dianggap sebagai sarana untuk mengembangkan sikap dan nilai-nilai tertentu, misalnya nilai religius, skeptisme (keragu-raguan), objektivitas, keteraturan, nilai praktis dan ekonomis, etika atau estetika, serta sikap keterbukaan.
Pengertian Pembelajaran Berbasis Sains
Untuk mengetahui apa itu pembelajaran berbasis sains, maka perlu dipahami terlebih dahulu definisi dari “pembelajaran” dan “sain”. Secara sederhana, pembelajaran adalah proses transfer ilmu dua arah, yakni antara guru sebagai pemberi informasi, dan siswa sebagai penerima informasi. Sedangkan “sains adalah cara ilmu pengetahuan yang didapatkan dengan metode tertentu” (Sitiatava, 2013)
Adapun metode tertentu yang dimaksud dalam definisi sains ini adalah ilmiah, berbasis penelitian dan penemuan, serta berdasarkan fakta-fakta.
Dari kedua definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis sains adalah proses transfer ilmu dua arah antara guru (sebagai pemberi informasi) dan siswa (sebagai penerima informasi) dengan metode tertentu (proses sains). Jadi, yang dimaksud pembelajaran berbasis sains adalah pembelajaran yang menjadikan sains (murni) sebagai metode atau pendekatan dalam proses pembelajaran sehingga, pembelajaran menjadi lebih kreatif, dan siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran.
Menyongsong era globalisasi yang semaki maju dan berkembang, pembelajaran harus dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Untuk menyesuaikannya, pembelajaran harus mengacu pada empat pilar pendidikan, yakni belajar untuk mengetahui (learning to know), belaja rmelakukan sesuatu (learning to do), belajar menjadi diri sendiri (learning to be), dan belajar hidup bersama (learning to live together), sebagai dasar untuk berpartisipasi dan bekerja sama dengan orang lain dalam seluruh aktivitas kehidupan manusia.
Menurut De Vito (Sitiatava, 2013) ‘model pembelajaran yang diperlukan adalah yang memungkinkan terbudayakannya kecakapan berpikir ilmiah sekaligus terkembangkannya sens of inquiry dan kemampuan berpikir kreatif siswa.’
‘Model pembelajaran berbasis keterampilan sains merupakan model pembelajaran yang mengintegrasikan keterampilan proses sains ke dalam sistem penyajian materi secara terpadu’ (Beyer dalam Sitiatava, 2013). Model ini menekankan pada proses pencarian pengetahuan atau dengan kata lain proses eksplorasi, bukan hanya transfer pengetahuan dari guru kepada siswa. Siswa dipandang sebagai subjek belajar yang perlu dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran, dan guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing dan mengkoordinasikan kegiatan belajar siswa.
Kurikulum 2013 yang baru-baru ini diterapkan pada pembelajaran menekankan penerapan pendekatan saintifik dalam seluruh kegiatan belajar siswa. Prof Sudarwan (materi PLPG 2013 ) menjelaskan tentang pendekatan saintifik, bahwa pendekatan ini memiliki ciri-ciri yang menekankan pada pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan, dan penjelasan tentang suatu kebenaran. Dengan demikian, proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai, prinsip-prinsip, atau kriteria ilmiah. Proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi kriteria seperti berikut ini. (Kemendikbud, 2013)
a.         Substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.
b.        Penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.
c.         Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran.
d.        Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari substansi atau materi pembelajaran.
e.         Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon substansi atau materi pembelajaran.
f.         Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggung jawabkan.
g.        Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem penyajiannya.
Langkah-langkah pembelajaran yang mengacu pada pendekatan saintifik harus menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Jika digambarkan dalam bentuk diagram seperti berikut.

 Gambar 1 Ranah Pembelajaran

·           Ranah sikap menyajikan materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa.”
·           Ranah keterampilan menyajikan materi ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”.
·           Ranah pengetahuan menyajikan materi ajar agar peserta didik “tahu apa.”
·           Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik  (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Pada intinya, hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi.
Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud  dalam kurikulum 2013 meliputi aktivitas sains berupa mengamati, menanya, menalar, mencoba, membentuk jejaring untuk semua mata pelajaran. Jika digambarkan sebagai berikut.

 Gambar 2 Pendekatan Ilmiah (Scientific Approach)
a.         Mengamati
Kegiatan mengamati ini mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Keunggulan dari kegiatan ini yaitu dengan menyajikan obyek secara nyata kepada siswa, maka siswa akan merasa tertantang untuk mengetahui lebih lanjut tentang obyek tersebut, sehingga siswa merasa senang selama proses pembelajaran.
Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu siswa, sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. Dengan metode observasi, siswa menemukan fakta keterhubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang disajikan oleh guru.
b.        Menanya
Siswa yang aktif salah satunya terlihat dari intensitas mengajukan pertanyaan berkaitan dengan materi pelajaran yang sedang dipelajari. Agar siswa aktif bertanya, guru perlu menstimulasinya dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang dapat mendorong siswa agar mau mengungkapkan pikiran dan ide-idenya. Berbeda dengan penugasan yang mengharuskan tindakan nyata dari siswa, pertanyaan dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan verbal. Istilah “pertanyaan” tidak selalu dalam bentuk “kalimat tanya”, dapat juga dalam bentuk pernyataan, dengan catatan keduanya memperoleh tanggapan verbal dari siswa.
c.         Menalar
Menalar merupakan proses berfikir logis dan sistematis terhadap fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Penalaran yang dimaksudkan dalam kurikulum 2013 yaitu berhubungan dengan proses asosiasi. Menurut kamus besar bahasa indonesia asosiasi bermakna pembentukan hubungan atau pertalian antara gagasan, ingatan, atau kegiatan pancaindra. Berangkat dari pengertian tersebut, istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemampuan mengelompokan beragam ide dari peristiwa atau fenomena yang terjadi dan menghubungkannya dengan ide atau gagasan yang telah tersimpan dalam memori siswa sebelumnya sehingga terbentuklah gagasan baru yang tercipta dari proses asosiasi tersebut. Proses ini dikenal sebagai proses menalar.
d.        Mencoba
Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi pembelajaran yang sesuai. Dengan kegiatan mencoba ini maka pembelajaran akan lebih bermakna bagi siswa karena siswa diberi kesempatan secara langsung berinteraksi dengan peristiwa, fenomena, dan lingkungan nyata. Proses ini diharapkan dapat mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar siswa, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
e.         Membentuk Jejaring
Jejaring dalam pendekatan saintifik ini berkaitan dengan pembelajaran kolaboratif. Kolaboratif atau kolabirasi merupakan istilah dari kerja sama. Sehingga pembelajaran kolaboratif ini diartikan sebagai penciptaan situasi kerja sama baik antara siswa dengan guru maupun antara siswa dengan siswa (kelompok). Dalam pembelajaran kolaboratif ini guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa belajar secara berkelompok.
3.        Pembelajaran Tematik Terpadu
“Model pembelajaran tematik adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman bermakna kepada siswa.” (Asep Herry Hernawan, 2007: 128)
Pembelajaran tematik terpadu adalah pembelajaran yang dilaksanakan dengan menggunakan prinsip pembelajaran terpadu. Jacobs (Udin Saefuddin Saud) mendefinisikan:
Pembelajaran terpadu adalah sebuah pendekatan dalam pembelajaran sebagai suatu proses untuk mengaitkan dan memadukan materi ajar dalam suatu mata pelajaran atau antar mata pelajaran dengan semua aspek perkembangan anak, kebutuhan dan minat anak, serta kebutuhan dan tuntutan lingkungan sosial keluarga.
Trianto (2012: 57) mengemukakan bahwa “pemebalajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat dikatakan sebagai suatu pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman bermakna kepada anak didik.”
Dalam materi PLPG (2013) dijelaskan bahwa pembelajaran terpadu menggunakan tema sebagai pemersatu kegiatan pembelajaran yang memadukan beberapa mata pelajaran sekaligus dalam satu kali tatap muka atau satu kali pertemuan, untuk memberikan pengalaman yang bermakna bagi peserta didik. Karena peserta didik dalam memahami berbagai konsep yang mereka pelajari selalu melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dikuasainya.


Dalam pelaksanaannya pembelajaran terpadu tidak boleh bertentangan dengan kurikulum. Namun, harus tetap memperhatikan tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Untuk memadukan materi pelajaran yang dikemas dalam satu tema perlu memperhatikan karaktersistik siswa, seperti minat, kemampuan, kebutuhan, dan pengetahuan awal. Materi pelajaran yang dipadukan tidak perlu dipaksakan. Maksudnya, apabila ada materi yang memang tidak bisa untuk dipadukan maka tidak perlu dipadukan.
Trianto (2012: 58) mengemukakan prinsip-prinsip pembelajaran terpadu yaitu: (1) prinsip penggalian tema, (2) prinsip pengelolaan pembelajaran, (3) prinsip evaluasi, dan (4) prinsip reaksi.”
Landasan Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik tidak terlepas dari dasar pijakan atau acuan yang menjadi pedoman dalam pelaksanaannya. Berikut ini merupakan landasan pembelajaran tematik yang dikemukakan oleh Asep Herry Hernawan (2007: 130)
f.         Landasan Filosofis
Pembelajaran tematik dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat yaitu progresivisme, konstruktivisme, dan humanisme. Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreativitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa. Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa sebagai kunci dalam pembelajaran. Aliran humanisme melihat siswa dari segi keunikan atau kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang dimilikinya.
g.        Landasan Psikologis
Pembelajaran tematik berlandaskan pada dua aliran psikologi, yaitu psikologi perkembangan peserta didik dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan perserta didik berfungsi dalam menentukan isi atau materi pembelajaran tematik agar tingkat kedalaman dan keluasannnya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Psikologi belajar berkaitan dengan cara atau metode penyampaian materi pelajaran dan cara siswa mempelajari materi tersebut.
h.        Landasan Yuridis
Pelaksanaan pembelajaran tematik harus disesuaikan dengan berbagai kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah. Landasan yuridis tersebut adalah UU No. 23 Pasal 9 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan UU No. 20 Bab V Pasal 1-b Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Karakteristik Pembelajaran Tematik Terpadu
Pembelajaran tematik terpadu berbeda dengan pembelajaran konvensional yang sudah sejak lama diterapkan di sekolah. Terdapat beberapa hal yang menjadi ciri pembeda pembelajaran tematik dengan pembelajaran konvensional. Berikut ini karakteristik pembelajaran tematik yang dikemukakan oleh Asep Herry Hernawan (2007: 131)
a.         Berpusat pada siswa
Siswa dipandang sebagai subjek belajar yang secara aktif melakukan kegiatan eksplorasi terhadap pengetahuan dan guru berperan sebagai fasilitator yang menyediakan lingkungan belajar dan memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa selama melakukan aktivitas belajar.
b.        Memberikan pengalaman langsung
Siswa mengkonstruksi pengetahuan melalui interaksi langsung dengan obyek, fenomena, pengalaman, dan lingkungannya secara konkrit (nyata). Pengalaman langsung ini sebagai dasar bagi siswa untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.
c.         Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas
Dikarenakan pembelajaran tematik menggunakan tema sebagai pemersatu mata pelajaran, maka pembelajaran sedapat mungkin dirancang untuk menyajikan materi ajar dengan tidak memenggal antara mata pelajaran satu dengan mata pelajaran lainnya. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat dan berkaitan dengan kehidupan siswa.
d.        Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran
Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam satu proses pembelajaran. Sehingga siswa dapat memahami konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran secara utuh. Adanya keterkaitan antara konsep dari satu mata pelajaran dengan konsep dari mata pelajaran lainnya diharapkan dapat membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
e.         Bersifat fleksibel
Pembelajaran tematik bersifat fleksibe (luwes). Luwes artinya mudah menyesuaikan. Artinya pembelajaran tematik dapat dirancang oleh guru dengan mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, atau dapat pula mengaitkan materi ajar dengan lingkungan dan kehidupan sehari-hari siswa.
f.         Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa
Dalam pembelajaran tematik siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki sesuai dengan minat dan kebutuhannya.
g.        Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan
Pembelajaran akan lebih hidup jika siswa merasa senang mengikuti kegiatannya dan tidak ada unsur keterpaksaan, sehingga materi ajar akan lebih mudah dipahami siswa. Oleh karena itu dalam merancang pembelajaran tematik perlu memperhatikan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan.
Sementara Depdikbud (Trianto, 2012: 61) mengemukakan bahwa pembelajaran terpadu sebagai suatu proses mempunyai beberapa karakteristik atau ciri-ciri, yaitu: holistik, bermakna, otentik, dan aktif.
Langkah-Langkah (Sintaks) Pembelajaran Tematik Terpadu
Pada dasarnya langkah-langkah pembelajaran tematik sama dengan langkah-langkah pada model pembelajaran lainnya seperti pada model pembelajaran langsung, model pembelajaran kooperatif, atau model pembelajaran berdasarkan masalah. Secara umum terdapat tiga tahap pada pembelajaran yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi. (Prabowo dalam Trianto, 2012: 63)
Berikut ini tahapa dalam pembelajaran tematik yang dikemukakan oleh Trianto (2012: 64)
a.         Tahap Perencanaan
Dalam tahap perencanaan ini, terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan, diantaranya: (1) menentukan jenis mata pelajaran dan jenis keterampilan yang dipadukan; (2) memilih kajian materi, standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator; (3) menentukan sub keterampilan yang dipadukan; (4) merumuskan indikator hasil belajar; dan (5) menenntukan langkah-langkah pembelajaran.
b.        Tahap Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan pembelajaran tematik mengikuti skenario langkah-langkah pembelajaran yang telah dirancang pada tahap perencanaan. Dalam pelaksanaannya, guru berperan sebagai fasilitator yang menyediakan lingkungan belajar bagi siswa dan memberikan kemudahan-kemudahan untuk siswa selama berlangsaungnya kegiatan pembelajaran sehingga siswa aktif sebagai pebelajar mandiri. Perlu adanya kejelasan dalam memberikan tanggung jawab baik kepada individu maupun kelompok sehingga menuntut kerjasama kelompok. Selain itu juga guru perlu akomodatif terhadap ide-ide yang muncul di luar perkiraan atau di luar perencanaan.
c.         Tahap Evaluasi
Tahap evaluasi ini diklasifikasikan ke dalam dua jenis evaluasi, yaitu evaluasi proses pembelajaran dan evaluasi hasil pembelajaran. Dalam tahap evaluasi ini perlu memperhatikan prinsip evaluasi pembelajaran terpadu, yaitu: (1) memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri di samping bentuk evaluasi lainnya, (2) guru perlu mengajak para siswa untuk mengevaluasi perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan yang akan dicapai.
4.        Analisis Kegiatan Saintifik berdasarkan Tahap-Tahap Pembelajaran Tematik dan Jenis LKS
Pengembangan LKS mengacu pada pendekatan saintifik dan pembelajaran tematik. Tiga komponen ini saling berhubungan satu sama lain. Berikut ini disajikan analisis kegiatan saintifik yang didasarkan pada tahap-tahap pembelajaran tematik dan jenis LKS yang digunakan.



Tabel 1
Analisis Kegiatan Saintifik berdasarkan Tahap-Tahap Pembelajaran Tematik dan Jenis LKS


5.        Penelitian yang Relevan
Penelitian ini mengenai pengembangan Lembar Kerja Siswa berbasis pendekatan saintifik pada subtema daur air di sekolah dasar. Berdasarkna hasil studi literatur, peneliti menemukan beberapa tulisan atau penelitian lain yang berkaitan dengan penelitian ini.
Yang pertama adalah penelitian dari Anis Supiati (2013) yang berjudul “Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) Berbasis Konstruktivis untuk Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Tuban”. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan LKS yang dapat membantu siswa membangun pengetahuannya sendiri dan melatihkan keterampilan sains.
Kedua, penelitian dari Eli Rohaeti dkk yang berjudul “Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) Mata Pelajaran Sains Kimia untuk SMP Kelas VII, VIII, dan IX”. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun dan mengembangkan LKS IPA aspek Kimia SMP berdasarkan KTSP yang memenuhi kriteria kualitas sehingga dapat digunakan sebagai sumber belajar dan media dalam pembelajaran kimia. Selain itu juga bertujuan untuk menilai kualitas LKS IPA aspek Kimia SPM berdasarkan KTSP yang memenuhi kriteria LKS berkualitas menurut penilaian guru IPA SMP dan guru kimia SMA.
Ketiga, penelitian dari Nur Ana dkk (2010) yang berjudul “Pengembangan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Berbasis Pembelajaran Kooperatif Group Investigation (GI) untuk Melatih Keterampilan Berpikir Kritis”. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengembangkan LKS materi Ekosistem berbasis pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI) untuk melatih keterampilan berpikir kritis siswa, dan mengetahui respon siswa terhadap keterbacaan LKS, serta keterlaksanaan LKS. Jenis penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang terdiri dari tahap pengembangan LKS dan tahap uji coba LKS. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar telaah LKS dan angket. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah pemberian lembar telaah LKS dan angket respon siswa terhadap keterbacaan LKS.
Keempat, pemelitian dari Sidiq Budisetyawan (2012) yang berjudul “Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) IPA Terpadu Berbasis Inkuiri Terbimbing pada Tema ‘Sistem Kehidupan dalam Tumbuhan’ Kelas VIII di SMPN 2 Playen”. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan LKS IPA Terpadu berbasis inkuiri terbimbing pada tema sistem kehidupan tumbuhan sehingga menghasilkan media pembelajaran yang layak digunakan berdasarkan penilaian dosen ahli, teman sejawat, guru IPA, dan respon dari siswa. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (R&D) dengan model 4-D (Define, Design, Develop, dan Disseminate).
Terdapat persamaan dan perbedaan dari penelitian yang dilakukan oleh keempat peneliti tersebut dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti saat ini. Persamaannya terletak dari segi pengembangan suatu produk. Penelitian sama-sama mengembangkan produk berupa lembar kerja siswa. Sementara perbedaannya dari segi tujuan. Pengembangan LKS pada penelitian ini bertujuan agar siswa mampu menguasai dan menerapkan aktivitas sains dalam pembelajaran.
G.      Kerangka Berpikir

Gambar 3 Kerangka Berpikir

Berhasil atau tidaknya suatu pembelajaran dapat terlihat dari adanya perubahan pada diri siswa. Perubahan ini terjadi pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Ditemukan permasalahan di SDN 1 Cisadap berkaitan dengan penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS) dalam pembelajaran. LKS yang digunakan tidak mendorong siswa untuk aktif, kreatif dan inovatif menuangkan ide-idenya dan menanamkan sikap ilmiah dalam kegiatan belajar. LKS hanya berisi soal-soal latihan yang sebenarnya merupakan soal evaluasi untuk mengukur kemampuan kognitif  siswa saja. Akibat yang timbul dari permasalahan tersebut yaitu siswa menjadi kurang aktif dalam pembelajaran dan hasil belajar siswa pun menjadi rendah.
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan Lembar Kerja Siswa (LKS) berbasis saintifik yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa baik itu dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor. Penggunaan LKS yang berbasis saintifik ini diharapkan dapat meningkatkan sikap ilmiah siswa berupa keterampilan proses mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan membentuk jejaring sehingga pembelajaran akan lebih bermakna bagi siswa. Dengan berlandaskan pendekatan saintifik, maka pada perancangan LKS ini memasukkan unsur-unsur atau prinsip-prinsip dari pendekatan saintifik tersebut.
H.      Asumsi dan Keterbatasan Pengembangan
1.        Asumsi Pengembangan
Dalam penelitian ini, Lembar Kerja Siswa (LKS) berbasis saintifik dikembangkan dengan adanya beberapa asumsi, yaitu:
a.         Menurut Bloom, yang dikutip dari Muhammad Rohman, bahwa tujuan pembelajaran dapat terlihat dari bentuk perilaku yang ditampilkan siswa dalam tiga domain, yaitu domain kognitif, afektif, dan psikomotor.
b.        Berdasarkan PERMENDIKBUD Nomor 67 Tahun 2013, tujuan kurikulum 2013 yaitu untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.
c.         Esensi dari kurikulum 2013 yaitu pembelajaran tematik, pembelajaran kontekstual, pendidikan karakter, pendekatan saintifik, dan penilaian autentik.

2.        Keterbatasan Pengembangan
Dalam pengembangan LKS berbasis pendekatan saintifik ini terdapat beberapa keterbatasan, antara lain:
a.         Kemampuan peneliti dalam mengembangkan LKS masih terbatas
b.        Pengembangan hanya dilakukan oleh satu orang peneliti saja sehingga dalam pelaksanaan uji coba hanya terbatas pada lingkup kecil.
c.         Materi yang dikembangkan hanya terpaku pada subtema Daur Air.
I.         Spesifikasi Produk yang Dihasilkan
Produk yang dihasilkan dari penelitian ini adalah sebuah Lembar Kerja Siswa berbasis pendekatan saintifik. LKS ini berupa LKS tematik saintifik dengan menggabungkan beberapa mata pelajaran yang terangkum dalam sebuah subtema dan digunakan untuk membantu mengembangkan aktivitas saintifik siswa dalam pebelajaran.
LKS yang dikembangkan dapat digunakan sebagai perangkat pembelajaran untuk siswa kelas V sekolah dasar. LKS yang dikembangkan sesuai dengan Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) pada subtema Daur Air.
J.        Metode Penelitian
1.        Metode Penelitian
Metode yang digunakan adalah metode penelitian dan pengembangan (research and development). Menurut kamus besar bahasa Indonesia, penelitian adalah kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis, dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan objektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum. Sedangkan pengembangan adalah proses atau cara yang dilakukan untuk mengembangkan sesuatu menjadi baik atau sempurna. Jadi, merujuk dari pengertian tersebut, dapat didefinisikan bahwa penelitian pengembangan adalah kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis, dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dengan tujuan untuk mengembangkan sesuatu menjadi lebih sempurna, atau mengembangkan suatu produk menjadi lebih baik.
Menurut Sugiyono (2009: 407), “metode penelitian dan pengembangan (research and development) adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut.”
Sesuai dengan namanya, Research & Development dipahami sebagai kegiatan penelitian yang dimulai dengan research dan diteruskan dengan development. Kegiatan research dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang kebutuhan pengguna (needs assessment) dan dalam pelaksanaan uji coba produk, sedangkan kegiatan development dilakukan untuk menghasilkan Lembar Kerja Siswa.
Proses pengembangan LKS ini mengacu pada model pengembangan pembelajaran Thiagarajan yaitu model 4-D. Model pengembangan 4-D ini meliputi tahap pendefinisian (define), tahap perancangan (design), tahap pengembangan (development), dan tahap pendiseminasian (disseminate).
2.        Desain Penelitian
a.         Lokasi Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi di tiga sekolah dasar yang dianggap memiliki karakteristik sama yaitu di SDN 1 Cisadap, SDN 3 Cisadap, dan SDN 4 Cisadap. Ketiga sekolah tersebut berlokaksi di kabupaten Ciamis.
b.        Populasi dan Sampel Penelitian
“Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian” (Suharsimi Arikunto, 2010:173). “Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti” (Suharsimi Arikunto 2010:174).
Karena jumlah populasi yang relatif sedikit, maka pengambilan sampel menggunakan sampel jenuh yaitu semua anggota populasi dijadikan sampel. Teknik pengambilan sampel (sampling) yang digunakan adalah sampling jenuh. “Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel” (Sugiyono, 2009: 124). Yang menjadi populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V sekolah dasar di tiga SD tersebut.

c.         Definisi Istilah
Lembar Kerja Siswa adalah bagian dari perangkar pembelajaran berupa lembaran-lembaran yang berisi rangkaian kegiatan atau tugas yang harus siswa lakukan ketika proses pembelajaran.
Pendekatan saintifik adalah pendekatan dalam pembelajaran dengan menggunakan metode ilmiah yang mendorong siswa untuk menerapkan aktivitas sains pada kegiatan pembelajaran berupa aktivitas mengamati, menanya, mengasosiasi/menalar, mencoba/mengumpulkan data, dan membentuk jejaring.
Lembar Kerja Siswa berbasis saintifik adalah lembaran-lembaran tugas yang harus dikerjakan siswa dengan menggunakan metode ilmiah untuk mendorong siswa menerapkan aktivitas sains pada kegiatan pembelajaran berupa aktivitas mengamati, menanya, mengasosiasi/menalar, mencoba/mengumpulkan data, dan membentuk jejaring.
Pembelajaran dengan subtema Daur Air adalah pembelajaran tematik di kelas V yang membahas tentang siklus atau perputaran air yang ada di muka bumi yang dimanfaatkan oleh makhluk hidup untuk proses kehidupannya. Subtema ini dibuat oleh peneliti sendiri dan dirancang dengan mengacu pada Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) dari kurikulum 2013, hal ini dikarenakan belum ada subtema untuk kelas V pada kurukulum 2013. Subtema ini menggabungkan tiga mata pelajaran yaitu IPA, Bahasa Indonesia, dan SBdP (Seni Budaya dan Prakarya).
Berikut ini pemetaan kompetensi dasar dari subtema Daur Air.      


Gambar 4. Pemetaan Kompetensi Dasar 1 dan 2


Gambar 5. Pemetaan Kompetensi Dasar 3 dan 4
3.        Jenis dan Pengembangan Instrumen Penelitian
“Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati” (Suguyono, 2009: 148). Berkaitan dengan penelitian ini maka insrtumen yang dimaksud adalah alat yang digunakan untuk memperoleh atau mengumpulkan data-data penelitian.
Berikut ini adalah instrumen yang digunakan dalam penelitian.

  Tabel 2      
Jenis Data, Teknik Pengumpulan data, Instrumen yang digunakan


Instrumen ini akan dibuat dengan mengacu kepada kompetensi inti, kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran. Setelah penyusunan instrumen selesai, maka tahap selanjutnya yaitu akan dilakukan uji coba instrumen ke sekolah dasar. Tujuan dari pengujian instrumen yaitu untuk mengetahui validitas dan reliabilitas instrumen yang digunakan dalam penelitian.
“Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan data yang dilaporkan oleh peneliti” (Sugiyono, 2009 : 363).
“Reliabilitas berkenaan dengan derajat konsistensi dan stabilitas data atau temuan” (Sugiyono, 2009: 268). Suatu data dinyatakan reliabel apabila dua atau lebih peneliti dalam obyek yang sama menghasilkan data yang sama.
4.        Prosedur penelitian
Telah dikemukakan sebelumnya bahwa penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menggunakan model pengembangan 4-D dari Thiagarajan. Model ini memiliki beberapa tahap pengembangan yaitu tahap pendefinisian, tahap perancangan, tahap pengembangan, dan tahap penyebaran.
a.         Tahapan Pendefinisian (Define). Tujuan dari tahap ini adalah menetapkan dan mendefinisikan syarat-syarat pembelajaran diawali dengan analisis tujuan dari batasan materi yang dikembangkan perangkatnya. Dalam tahap ini meliputi lima langkah pokok, yaitu analisis ujung depan, analisis siswa, analisis tugas, analisis konsep, dan perumusan tujuan pembelajaran.
b.        Tahapan  Perancangan (Design). Tujuan dari tahap ini adalah menyiapkan rancangan perangkat pembelajaran. Tahap ini terdiri dari tiga langkah pokok, yaitu penyusunan tes, pemilihan media, dan pemilihan format perangkat pembelajaran.
c.         Tahap Pengembangan (Development). Tujuan tahap ini adalah untuk menghasilkan perangkat pembelajaran yang sudah direvisi berdasarkan masukan daari pakar dan hasil ujicoba lapangan. Tahap ini meliputi validaaasi perangkat oleh ahli, revisi, dan ujicoba kepada siswa.
d.        Tahap Pendiseminasian (Disseminate). Tahai ini merupakan tahap penggunaan perangkat yang telah dikembangkan pada skala yang lebih luas misalnya di kelas lain, di sekolah lain, oleh guru yang lain. Tujuan lain adalah untuk menguji efektivitas penggunaan perangkat di dalam KBM.
Berikut ini alur penelitian yang akan dilaksanakan oleh peneliti berdasarkan model 4-D:


Gambar 6 Alur Pengembangan LKS Model 4-D
(Thiagarajan, Semmel, dan Semmel, 1974)
1)        Desain Uji coba
Dalam pelaksanaan uji coba, peneliti menggunakan pre-experimental design dengan bentuk one-group pretest-posttest design. Berikut ini digambarkan pola one-group pretest-posttest design dari Sugiyono (2009: 111)
O1        X         O2

Gambar 7 One-Group Pretest-Posttest Design
Keterangan:  
O1 = nilai pretest  (sebelum diberi perlakuan)
X  = perlakuan dengan LKS berbasis pendekatan saintifik
O2 = nilai posttest (setelah diberi perlakuan)
2)        Subjek uji coba
Subjek uji coba adalah siswa kelas V SDN 1 Cisadap, SDN 3 Cisadap, dan SDN 4 Cisadap.
3)        Jenis data
Data yang dikumpulkan dalam uji coba adalah data untuk mengetahui implementasi pembelajaran dengan menggunakan LKS berbasis pendekatan saintifik. Berikut ini tabel jenis data dan instrumen pengumpulan data yang digunakan selama proses uji coba.
Tabel 3
Jenis Data dan Instrumen Pengumpulan Data Uji Coba


4)        Analisis Data
Analisis atau pengolahan data dilakukan pada nilai pretest dan posttest. Pengolahan data ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi pada subtema Daur Air. Analisis juga dilakukan terhadap data hasil observasi proses pembelajaran dengan menggunakan LKS berbasis pendekatan saintifik dan analisis respon siswa terhadap pembelajaran. Sehingga akan diketahui barhasil atau tidaknya penerapan LKS berbasis pendekatan saintifik dalam pembelajaran. Setelah melalui uji coba dan reivisi, maka akan tercipta sebuah produk Lembar Kerja Siswa berbasis pendekatan saintifik.



sumber ; http://infokotagarut.blogspot.com/2014/06/contoh-proposal-pengembangan-lembar.html

Artikel Terkait

kata bijak

TAS, SEPATU, BAJU, DISTRO BANDUNG

alt/text gambar

TAS, SEPATU, BAJU, DISTRO BANDUNG

alt/text gambar

Blog Archive

pesan hari ini