MANFAAT KARYA ILMIAH

dari fali. unscri.ac id akhrinya mendapatkan pengertian dan tahu manfaat karya ilmiah
Karya Ilmiah atau tulisan ilmiah adalah karya seorang ilmuwan (yang berupa hasil pengembangan) yang ingin mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang diperoleh melalui kepustakaan, kumpulan pengalaman, dan pengetahuan orang lain sebelumnya.
Karya ilmiah: pernyataan sikap ilmiah peneliti.
Tujuan karya ilmiah: agar gagasan penulis karya ilmiah itu dapat dipelajari, lalu didukung atau ditolak oleh pembaca.
Fungsi karya ilmiah:
sebagai sarana untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
1. Penjelasan (explanation)
2. Ramalan (prediction)
3. Kontrol (control)
Hakikat karya ilmiah: mengemukakan kebenaran melalui metodenya yang sistematis, metodologis, dan konsisten.
Syarat menulis karya ilmiah
1. motivasi dan displin yang tinggi
2. kemampuan mengolah data
3. kemampuan berfikir logis (urut) dan terpadu (sistematis)
4. kemampuan berbahasa
Sifat karya ilmiah
formal harus memenuhi syarat:
1. lugas dan tidak emosional
mempunyai satu arti, sehingga tidak ada tafsiran sendiri-sendiri (interprestasi yang lain).
2. Logis
disusun berdasarkan urutan yang konsisten
3. Efektif
satu kebulatan pikiran, ada penekanan dan pengembagan.
4. efisien
hanya mempergunakan kata atau kalimat yang penting dan mudah dipahami
5. ditulis dengan bahasa Indonesia yang baku.
Jenis-jenis karya ilmiah
umum karya ilmiah di perguruan tinggi, menurut Arifin (2003), dibedakan menjadi:
1. Makalah adalah karya tulis ilmiah yang menyajikan suatu masalah yang pembahasannya berdasarkan data di
lapangan yang bersifat empiris-objektif. makalah menyajikan masalah dengan melalui proses berpikir
deduktif atau induktif.
2. Kertas kerja seperti halnya makalah, adalah juga karya tulis ilmiah yang menyajikan sesuatu berdasarkan
data di lapangan yang bersifat empiris-objektif. Analisis dalam kertas kerja lebih mendalam daripada
analisis dalam makalah.
3. Skripsi adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasarkan pendapat orang lain.
Pendapat yang diajukan harus didukung oleh data dan fakta empiris-objektif, baik bedasarkan penelitian
langsung (obsevasi lapangan, atau percobaan di laboratorium), juga diperlukan sumbangan material berupa
temuan baru dalam segi tata kerja, dalil-dalil, atau hukum tertentu tentang salah satu aspek atau lebih di
bidang spesialisasinya.
4. Tesis adalah karya tulis ilmiah yang sifatnya lebih mendalam dibandingkan dengan skripsi. Tesis
mengungkapkan pengetahuan baru yang diperoleh dari penelitian sendiri.
5. Disertasi adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis
berdasarkan data dan fakta yang sahih (valid) dengan analisis yang terinci). Disertasi ini berisi suatu
temuan penulis sendiri, yang berupa temuan orisinal. Jika temuan orisinal ini dapat dipertahankan oleh
penulisnya dari sanggahan penguji, penulisnya berhak menyandang gelar doktor (S3).
Manfaat Penyusunan karya ilmiah
Menurut sikumbang (1981), sekurang-kurangnya ada enam manfaat yang diperoleh dari kegiatan tersebut.
1. Penulis dapat terlatih mengembangkan keterampilan membaca yang efektif karena sebelum menulis karya
ilmiah, ia mesti membaca dahulu kepustakaan yang ada relevansinya dengan topik yang hendak dibahas.
2. Penulis dapat terlatih menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber, mengambil sarinya, dan
mengembangkannya ke tingkat pemikiran yang lebih matang.
3. Penulis dapat berkenalan dengan kegiatan perpustakaan seperti mencari bahan bacaan dalam katalog
pengarang atau katalog judul buku.
4. Penulis dapat meningkatkan keterampilan dalam mengorganisasi dan menyajikan data dan fakta secara jelas
dan sistematis.
5. Penulis dapat memperoleh kepuasan intelektual.
6. Penulis turut memperluas cakrawala ilmu pengetahuan masyarakat.
 

Readmore → MANFAAT KARYA ILMIAH

KARYA TULIS, PENGERTIAN DAN JENISNYA

Bingung mau menulis apa, karya tulis ilmiah atau non ilmiah, apa sih perbedaanya. ternyata dari blog ini, saya mendapat keterangan cukup jelas dan panjang lebar tentang karya tulis, pengertian dan jenisnya. 


A.     Pengertian Karya Tulis
Terdapat beberapa pengertian tentang karya tulis, yakni;
1.    Salah satu media komunikasi tertulis adalah karangan atau karena terbentuk tulisan maka dinamakan karya tulis. Setiap gagasan yang diungkapkan ke dalam bentuk tulisan dinamakan karya tulis.
2.    Karya tulis adalah karangan yang mengetengahkan hasil pikiran, hasil pengamatan, tinjauan dalam bidang tertentu yang disusun secara sistematis. Karya tulis juga dapat dikatakan tulisan yang membahas masalah tertentu berdasarkan pengamatan secara 
sistematis dan terarah.
B.     Jenis-Jenis Karya Tulis
Jenis-jenis  karya tulis terbagi kedalam dua yakni karya tulis ilmiah dan karya tulis non ilmiah.
1.    Karya tulis ilmiah
Karya tulis ilmiah adalah karangan yang berisi gagasan ilmiah yang disajikan secara ilmiah serta menggunakan bentuk dan bahasa ilmiah. Karya tulis ilmiah mengusung permasalahan keilmuan. Materi yang dituangkan dalam tulisan ilmiah berupa gagasan-gagasan ilmiah, baik berupa hasil kajian ilmiah maupun hasil-hasil penelitian yang disajikan dalam karya tulis ilmiah. Gagasan-gagasan itu merupakan gambaran perkembangan ilmu pengetahuan yang terekam dalam tulisan ilmiah.
Secara lebih singkat, karya tulis ilmiah merupakan karangan yang menyajikan fakta umum yang dapat dibuktikan kebenarannya secara ilmiah dan ditulis dengan metodologi yang benar.
2.    Karya tulis nonilmiah
Karya nonilmiah adalah karangan yang tidak mengikuti kriteria penyajian fakta dan tidak mengikuti metodologi penulisan yang benar. Jika fakta yang disajikan dalam karya tulis ilmiah merupakan fakta yang bersifat umum. Sedangkan fakta yang disajikan dalam karya tulis nonilmiah ini adalah fakta yang disajikan berupa fakta pribadi yang bersifat subjektif.
Dari kedua uraian diatas tentang jenis karya tulis, perbandingan karya tulis ilmiah dan karya tulis non ilmiah dapat dilihat sebagai berikut;
Karya Tulis Ilmiah
Karya Tulis Nonilmiah
Fakta Umum
Fakta Pribadi (Khusus)
Metodologi Penulisan Ilmiah
Model Penulisan Beragam
Kebenarannya Dapat Dibuktikan
Bersifat Subjektif



C.      Ciri-Ciri Karya Tulis
1.      Ciri-ciri karya tulis secara umum
a.       Logis. Karya tulis dikatakan logis apabila data, argumen, penjelasan yang dikemukakan  diterima oleh akal.
b.      Sistematis. Karya tulis dikatakan sistematis apabila setiap permasalahan yang diuraikan disusun secara teratur, runtut, dan tidak tumpang tindih.
c.       Obyektif. Karya tulis dikatakan obyektif apabila alasan , keterangan, penjelasan dan uraian-uraian yang dikemukakan sesuai apa adanya.
2.      Ciri karya tulis ilmiah
Berdasarkan kajian terhadap cara penyajian karya tulis ilmiah dapat diungkapkan bebrapa karakteristik karangan ilmiah sebagaimana dinyatakan dalam Weisman (1961:44-61), Brotowidjojo (1993:58-63), Keraf (1983:57), dan Suherli (1996:183-200).
a.       Menyajikan fakta, yaitu berupa fakta umum yang dapat dibuktikan kebenarannya secara ilmiah dengan mengikuti metodologi penulisan yang benar.
b.        Di dalam karya ilmiah disajikan definisi. Metode penyajian definisi sebagai karakteristik karangan ilmiah meliputi metode eksplikasi, analisis, deskripsi, ilustrasi, perbandingan, analogi , eliminasi dan etimologi.
c.         Karangan ilmiah menguraikan permasalahan dengan abstrak, jelas/lengkap, objektif, bernalar dan konseptual.
d.        Karya ilmiah menerapkan teori-teori yang dapat dilakukan secara logis, spesifik atau faktual.
e.         Dalam karangan ilmiah disajikan pemecahan masalah yang dilakukan dengan cara deduksi, induksi atau berproses.
Sedangkan ciri-ciri karya tulis ilmiah (menurut W. Paul Jones) :
1.        Menyajikan fakta
2.        Cermat dan jujur ( accurate and truthful )
3.        Tidak memihak ( disinterested )
4.        Sistematis
5.        Tidak bersifat haru ( not emotive )
6.        Mengesampingkan pendapat yang tak berdasar ( unsupported opinion )
7.        Sungguh-sungguh ( sincere )
8.        Tak bercorak debat ( not argumentative )
9.        Tak bernada membujuk ( not directly persuasive )
10.    Tidak berlebih-lebihan 
3.      Ciri-ciri karya non-ilmiah :
a.         Ditulis berdasarkan fakta pribadi
b.        Fakta yang disimpulkan subyektif
c.         Gaya bahasa konotatif dan populer
d.        Tidak memuat hipotesis
e.         Penyajian dibarengi dengan sejarah
f.         Bersifat imajinatif
g.        Situasi didramatisir
h.        Bersifat persuasive
i.          Tanpa dukungan bukti.
D.     Contoh Karya Tulis
Contoh karya tulis ilmiah :
1.      Laporan penelitian
2.      Skripsi
3.      Tesis
4.      Disertasi
Contoh karya tulis nonilmiah :
1.      Dongeng
2.      Novel
3.      Cerpen
4.      Drama
Readmore → KARYA TULIS, PENGERTIAN DAN JENISNYA

CONTOH PTK TK

Nah, mungkin setelah menjadi guru bertahun-tahun, lupa untuk membuat ptk, ini ada contoh PTK TK untuk mengingatkan kembali . Terimakasih buat nara sumbernya ini 


UPAYA MENINGKATKAN KREATIVITAS MENGGAMBAR MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL LEARNING DI KELOMPOK B TK MELATI DESA KENCONOREJO KECAMATAN TULIS KABUPATEN



BAB. I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Sejak usia dini anak sudah dikenalkan menggambar. Dalam pembelajaran di TK kebanyakan guru kurang memperhatikan hasil belajar anak terhadap pembelajaran yang satu ini. Guru sering menggunakan menggambar sebagai pembelajaran relaksasi pada anak tanpa memperhatikan hasil karya anak sehingga didapati hasil karya anak dalam pembelajaran menggambar terkesan tanpa arahan.
Pada prinsipnya kegiatan menggambar yang dilakukan oleh anak merupakan kegiatan naluriah, seperti halnya kegiatan makan, minum, berbicara, dan bercerita kepada orang lain. Kegiatan menggambar bersamaan dengan kegiatan orang lain seperti memilih dan mengenakan pakaian yang dilakukan oleh anak. Rasa seni dimulai dengan bagaimana anak bisa menata benda-benda disekitarnya. Jika hal tersebut tidak dilakukan oleh anak, maka pendidik perlu segera mendidik dan membimbingnya.
Ditjen Dikdasmen, (2006), tentang standar kompetensi kelompok B, menyebutkan bahwa anak mampu mengekspresikan diri dan berkreasi dengan berbagai gagasan, imajinasi dan menggunakan berbagai media/bahan menjadi suatu karya seni. Kemudian dalam hasil belajar anak, diharapkan agar dapat menggambar sederhana dengan berbagai media seperti arang, kapur, crayon, pensil warna, pastel dan lain-lain. Untuk saat ini tuntutan dari kurikulum tersebut belum bisa direalisasikan di TK Melati
Khusus dalam pembelajaran menggambar di TK Melati anak masih kurang kreatif dalam menggambar. Hal ini terlihat dari hasil karya anak dalam menggambar. Coretan yang dihasilkan anak masih berkesan umum dan menampilkan gambar yang sama setiap pengerjaan tugas menggambar. Misal: anak hanya menggambar rumah saja, anak menggambar gunung saja, atau anak menggambar pohon saja. Selain itu ketika anak diberikan tugas untuk mengambar suasana kelas sering ramai, anak sering jalan-jalan sendiri dan tidak serius dalam menggambar.
Melihat kondisi yang seperti ini penulis mencoba meningkatkan kreatifitas anak dalam menggambar melalui pendekatan kontekstual learning. Kepada anak akan diperlihatkan bentuk asli dalam pembelajaran menggambar. Pendekatan ini dirasa perlu diterapkan untuk mengganti metode konvensional dalam pembelajaran menggambar di TK Melati.

B. Perumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, penulis merumuskan masalah penelitian: ”Apakah pendekatan kontekstual learning dapat digunakan untuk meningkatkan kreativitas menggambar di kelompok B TK Melati Desa Kenconorejo Kecamatan Tulis Kabupaten Batang?”.

C. Tujuan Perbaikan

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kreatifitas anak dalam menggambar dapat ditingkatkan melalui pendekatan contexstual learning di anak didik kelompok B TK Melati Desa Kenconorejo Kecamatan Tulis Kabupaten Batang.

D. Manfaat Perbaikan

1. Anak mampu meningkatkan kreatifitas menggambar yang muaranya tertuju pada peningkatan fungsi otot-otot motorik halus anak.
2. Anak mampu menuangkan ide dan gagasan pada kertas gambar secara baik.
3. Menumbuhkan jiwa seni pada diri anak sejak dini.
4. Guru dapat meningkatkan kemampuan profesionalnya dalam memecahkan masalah menggambar.
5. Sekolah mempunyai cara baru dalam melaksanakan pembelajaran menggambar bebas di TK.


BAB. II
KAJIAN PUSTAKA


Untuk mewujudkan pembelajaran menggambar yang efektif, guru TK harus memahami dengan baik arti menggambar dan penerapannya dalam contextual learning. Selanjutnya, konsep menggambar dan contexstual learning dibahas seperti di bawah ini.

A. Pengertian Menggambar

Kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau konsep baru, atau hubungan baru antara gagasan dan konsep yang sudah ada.(Wikipedia Indonesia, 2009). Kreativitas adalah proses timbulnya ide baru, sedangkan inovasi adalah pengimplementasian ide itu sehingga dapat merubah dunia (Tanadi Santoso, 2009).
Dalam melakukan sesuatu seperti menggambar dibutuhkan kreativitas karena kreativitas mampu membelah batasan dan asumsi dan membuat koneksi pada hal lama yang tidak berhubungan menjadi sesuatu yang baru. Menggambar tidak hanya sekedar kegiatan membuat sebuah gambar namun lebih dari itu yaitu sebuah kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak. Kegiatan untuk menyalurkan ide dan gagasan kedalam kertas gambar.
Menggambar adalah membuat gambar. Kegiatan ini dilakukan dengan cara mencoret, menggores, menorehkan benda tajam ke benda lain dan memberi warna, sehingga menimbulkan gambar (Hajar Pamadhi dan Evan Sukardi S, 2008).
Menggambar adalah kegiatan-kegiatan membentuk imajinasi, dengan menggunakan banyak pilihan tehnik dan alat. Bisa pula menggambar berarti membuat tanda-tanda tertentu di atas permukaan dengan mengolah goresan dari alat gambar (Wikipedia Indonesia, 2009).
Kegiatan menggambar dilakukan dengan kesadaran penuh berupa maksud dan tujuan tertentu maupun sekedar membuat gambar tanpa arti. Kegiatan ini dimulai dari menggerakkan tangan untuk mewujudkan sesuatu bentuk gambar secara tidak segaja, sampai dengan menggambar untuk maksud tertentu. Anak-anak akan merasa senang setelah menggambar karena hal itu menjadi suatu cara berkomunikasi kepada orang lain. Apalagi, ketika gambar anak tersebut ditanggapi oleh orang tua dengan pertanyaan tentang makna dan arti bentuk gambar yang dihasilkan.

B. Contextual Learning

Bagi anak normal ketika melihat suatu gambar maka terjadi proses berpikir, dimana cita-cita dan angan-angannya akan tumbuh terus. Pada saat ini gambar berfungsi sebagai stimulasi munculnya ide, pikiran maupun gagasan baru. Gagasan ini selanjutnya mendorong anak untuk berbuat, mengikuti pola berpikir seperti gambar atau justru muncul ide baru dan menggugah rasa. Proses ini kadangkala tidak disadari oleh orang tua, sehingga kritikan atau evaluasi diberikan kepada anak seolah-olah diberikan kepada orang dewasa.
Sampai saat ini, pendidikan di Indonesia masih didominasi oleh kelas yang berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, sehingga ceramah akan menjadi pilihan utama dalam menentukan strategi belajar. Sehingga sering mengabaikan pengetahuan awal anak. Untuk itu diperlukan suatu pendekatan belajar yang memberdayakan anak didik. Salah satu pendekatan yang memberdayakan anak didik adalah pendekatan kontektual learning.
Contektual learning dikembangkan oleh The Washington State Concortium for Contextual Teaching And Learning yang melibatkan 11 perguruan tinggi, 20 sekolah, dan lembaga-lembaga yang bergerak dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat. Salah satu kegiatannya adalah melatih dan memberi kesempatan kepada guru-guru dari enam propinsi di Indonesia untuk belajar pendekatan kontekstual di Amerika Serikat melalui Direktorat SLTP Depdiknas.
Pendekatan contextual learning merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya degan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US Departement of Education) (dikutip Depdiknas, 2006).
Dalam konteks ini anak perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Dengan ini anak akan menyadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Sehingga akan membuat mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal yang bermanfaat untuk hidupnya nanti dan anak akan berusaha untuk menanggapinya.
Tugas guru dalam pembelajaran contextual adalah membantu anak dalam mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Guru hanya mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan suatu yang baru bagi anak. Proses belajar mengajar lebih diwarnai student centered daripada teacher centered. Menurut Depdiknas guru harus melaksanakan beberapa hal sebagai berikut :
1. Mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari oleh anak.
2. Memahami latar belakang dan pengalaman hidup anak melalui proses pengkajian secara seksama.
3. Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal anak yang selanjutnya memilih dan mengiyakan dengan konsep atau teori yang akan dibahas dalam pembelajaran kontekstual.
4. Merancang pengajaran dengan mengkaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki anak dan lingkungan hidup mereka.
5. Melaksanakan penilaian terhadap pemahaman anak, dimana hasilnya nanti dijadikan bahan refleksi terhadap rencana pembelajaran dan pelaksanaannya.

Depdiknas, (2006), dalam pengajaran contextual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting, yaitu mengaitkan (relating), mengalami (experiencing), menerapkan (applying), kerjasama (coorperating) dan mentransfer (transfering).
1. Mengaitkan (relating) adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru menggunakan strategi ini ketika ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal anak. Jadi dengan demikian mengkaitkan apa yang sudah diketahui anak dengan informasi baru.
2. Mengalami (experiencing) merupakan inti belajar contextual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengalaman maupun mengetahui sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika anak dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-betuk penelitian yang aktif.
3. Menerapkan (applying), anak menerapkan suatu konsep ketika ia melakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapat memotivasi anak dengan memberikan latihan yang realistik dan relevan.
4. Kerjasama (coorperating), anak yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya anak yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerjasama tidak hanya membantu anak mempelajari bahan ajar tetapi konsisten dengan dunia nyata.
5. Mentransfer (transfering), peran guru membuat bermacam-macam pengalaman belajar dengan fokus pada pemahaman bukan hapalan.

Menurut Blanchard (dikutip Depdiknas, 2006) ciri-ciri contextual adalah :
1. Menekankan pada pentingnya pemecahan masalah.
2. Kegiatan belajar dilakukan dalam berbagai konteks.
3. Kegiatan belajar dipantau dan diarahkan agar anak dapat belajar mandiri.
4. Mendorong anak untuk belajar dengan temannya dalam kelompok atau secara mandiri
5. Pelajaran menekankan pada konteks kehidupan anak yang berbeda-beda
6. Menggunakan penilaian otentik.

Menurut Rachmadiarti (2002), suatu proses kegiatan belajar mengajar dapat dikatakan berorientasi pada kontekstual learning apabila mempunyai tujuh pilar yaitu :
1. Inkuiri (inquiry)
2. Bertanya (questioning)
3. Kontruktivisme (contruktivism)
4. Masyarakat belajar (learning community)
5. Penilaian autentik (autentic assesment)
6. Refleksi (reflection)
7. Permodelan (modelling)

Menurut Depdiknas untuk penerapannya, pendekatan contextual memiliki tujuh komponen utama yaitu: konstruktivisme (contruktivism), menemukan (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), permodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian yang sebenarnya (authentic assesment). Adapun tujuh komponen tersebut sebagai berikut :

1. Konstruktivisme (constructivism)
Kontruktivisme merupakan landasan berpikir contextual learning and teaching (CTL), yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, mengingat pengetahuan tetapi merupakan suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental membangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur pengetahuan yang dimiliki.

2. Menemukan (inquiry)
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis konstektual karena pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh anak diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri. Kegiatan menemukan (inquiry) merupakan sebuah siklus yang terdiri dari observasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hiphotesis), pengumpulan data (data gathering), penyimpulan (conclusion).

3. Bertanya (questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu dimulai dari bertanya. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran berbasis contextual. Kegiatan bertanya berguna untuk menggali informasi, menggali pemahaman anak, membangkitkan respon kepada anak, mengetahui sejauh mana keingintahuan anak, mengetahui hal-hal yang sudah diketahui anak, memfokuskan perhatian pada sesuatu yang dikehendaki guru, membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari anak untuk menyegarkan kembali pengetahuan anak.

4. Masyarakat Belajar (learning community)
Konsep masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari ’sharing’ antar teman, antar kelompok, dan antar yang tahu ke yang belum tahu. Masyarakat belajar terjadi apabila ada komunikasi dua arah, dua kelompok atau lebih yag terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar.

5. Permodelan (modelling)
Permodelan pada dasarnya membahasakan yang dipikirkan, mendemonstrasi bagaimana guru menginginkan anak didiknya untuk belajar dan melakukan apa yang guru inginkan agar anak didiknya melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan anak dan juga mendatangkan dari luar.

6. Refleksi (reflection)
Refleksi merupakan cara berpikir atau respon tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah dilakukan dimasa lalu. Realisasinya dalam pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar anak didik melakukan refleksi yang berupa pernyataan langsung tentang apa yang diperoleh hari itu.

7. Penilaian yang sebenarnya (autentic assesment)
Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberi gambaran mengenai perkembangan belajar anak. Dalam pembelajaran berbasis kontekstual, gambaran perkembangan belajar anak didik perlu diketahui guru agar bisa memastikan bahwa anak mengalami pembelajaran yang benar. Fokus penilaian adalah pada penyelesaian tugas yang relevan dan kontekstual serta penilaian dilakukan terhadap proses maupun hasil.


BAB. III
PELAKSAAN PERBAIKAN


A. Subjek Penelitian

Perbaikan pembelajaran dilaksanakan di kelompok B TK Melati Desa Kenconorejo Kecamatan Tulis Kabupaten Batang tahun pelajaran 2009/2010. Anak didik kelompok B terdiri dari 14 anak yang terbagi menjadi 7 anak laki-laki dan 7 anak perempuan. Sekolah terletak di pinggir utara Kota Batang yang penduduknya bekerja sebagai buruh tani. Kondisi ini menyebabkan perhatian orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya kurang dan motivasi belajar anak rendah. Disamping itu fasilitas belajar di sekolah juga kurang memadai. Peneliti adalah guru Kelompok B TK Melati Desa Kenconorejo Kecamatan Tulis Kabupaten Batang dan pengamat adalah saudara Ifan Prasetiyo rekan guru dan mahasiswa S1 PG PAUD.

B. Deskripsi Per Siklus

Penulis merencanakan kegiatan perbaikan dengan membuat jadwal kegiatan perbaikan sebagai berikut :


Siklus I
1 SKH 1 dilaksanakan tanggal 27 Oktober 2009
2 SKH 2 dilaksanakan tanggal 28 Oktober 2009
3 SKH 3 dilaksanakan tanggal 29 Oktober 2009
4 SKH 4 dilaksanakan tanggal 30 Oktober 2009
5 SKH 5 dilaksanakan tanggal 31 Oktober 2009



Siklus II
1 SKH 1 dilaksanakan tanggal 03 Nopember 2009
2 SKH 2 dilaksanakan tanggal 04 Nopember 2009
3 SKH 3 dilaksanakan tanggal 05 Nopember 2009
4 SKH 4 dilaksanakan tanggal 06 Nopember 2009
5 SKH 5 dilaksanakan tanggal 07 Nopember 2009

Setelah rencana perbaikan pembelajaran siklus I disetujui oleh supervisor, penulis meminta izin ke kepala sekolah untuk melakukan perbaikan pembelajaran. Untuk mengumpulkan data, penulis meminta bantuan rekan sejawat. Untuk menyamakan persepsi guru peneliti dan pengamat, sebelum pelaksanaan perbaikan dimulai, guru peneliti, dan pengamat membicarakan aspek-aspek perbaikan yang perlu diperhatikan. Dalam pelaksanaannya rekan sejawat duduk di belakang dan mengamati seluruh jalannya perbaikan pembelajaran. Untuk mencatat informasi mengenai penampilan perbaikan pembelajaran ini, pengamat mengisi lembar observasi dan lembar penilaian (terlampir).
Secara umum prosedur pelaksanaan perbaikan pembelajaran berjalan melalui tahap-tahap kegiatan awal (apersepsi), kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Secara khusus, kegiatan perbaikan pembelajaran dilakukan melalui serentetan aktivitas yang tercantum dalam kegiatan inti RPP I dan RPP II (terlampir). Dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus I, penulis melakukan aktivitas-aktivitas sebagai berikut :
SKH 1
Aktivitas-aktivitas perbaikan :
1. Guru mengatakan kepada anak-anak bahwa hari ini akan menggambar.
2. Anak-anak diminta mengikuti guru ke halaman Taman Kanak-Kanak.
3. Guru meminta anak-anak mengamati suasana pagi hari di sekitar lingkungan TK.
4. Setelah dirasa cukup anak-anak mulai menggambar.
5. Kegiatan menggambar dilaksanakan di halaman TK

SKH 2
Aktivitas-aktivitas perbaikan :
1. Guru mengatakan kepada anak-anak bahwa hari ini akan menggambar matahari.
2. Anak-anak diminta mengikuti guru ke halaman Taman Kanak-Kanak.
3. Guru meminta anak-anak untuk melihat matahari sebentar.
4. Setelah dirasa cukup anak-anak mulai menggambar.
5. Kegiatan menggambar dilaksanakan di halaman TK

SKH 3
Aktivitas-aktivitas perbaikan :
1. Guru mengatakan kepada anak-anak bahwa hari ini akan menggambar.
2. Anak-anak diminta mengikuti guru ke dekat pasar.
3. Guru meminta anak-anak mengamati suasana siang hari didekat pasar .
4. Setelah dirasa cukup anak-anak mulai menggambar.
5. Kegiatan menggambar dilaksanakan di dekat pasar.

SKH 4
Aktivitas-aktivitas perbaikan :
1. Guru mengatakan kepada anak-anak bahwa hari ini akan menggambar di dekat sawah.
2. Anak-anak diminta mengikuti guru ke sawah.
3. Guru meminta anak-anak mengamati suasana di sawah.
4. Setelah dirasa cukup anak-anak mulai menggambar.
5. Kegiatan menggambar dilaksanakan di lingkungan dekat sawah.

SKH 5
Aktivitas-aktivitas perbaikan :
1. Guru mengatakan kepada anak-anak bahwa hari ini akan menggambar buah apel.
2. Guru meletakkan buah apel merah dan hijau di meja agar dilihat anak-anak.
3. Guru meminta anak-anak mengamati buah apel tersebut.
4. Setelah dirasa cukup anak-anak mulai menggambar buah apel.
5. Kegiatan menggambar dilaksanakan di kelas.
Pada siklus II penulis menyusun aktivitas-aktivitas perbaikan pembelajaran sebagai perbaikan atau peningkatan pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus I. Aktivitas-aktivitas perbaikan pembelajaran yang dilakukan sebagai berikut :
SKH 1
Aktivitas-aktivitas perbaikan :
1. Guru mengatakan kepada anak-anak bahwa hari ini akan menggambar bunga matahari.
2. Anak-anak diminta mengikuti guru ke halaman Rumah Pak Tarto.
3. Guru meminta anak-anak mengamati bunga matahari di halaman rumah Pak Tarto.
4. Setelah dirasa cukup anak-anak mulai menggambar bunga matahari.
5. Kegiatan menggambar dilaksanakan di halaman rumah Pak Tarto.
6. Guru menungui anak-anak saat menggambar.

SKH 2
Aktivitas-aktivitas perbaikan :
1. Guru mengatakan kepada anak-anak bahwa hari ini akan menggambar roti donat.
2. Guru memperlihatkan kepada anak-anak roti donat dan meminta anak-anak untuk mencicipi sedikit.
3. Anak-anak mengamati roti donat yang telah di makan.
4. Setelah dirasa cukup anak-anak mulai menggambar roti donat.
5. Kegiatan menggambar dilaksanakan di kelas.
6. Guru menungui anak-anak saat menggambar.

SKH 3
Aktivitas-aktivitas perbaikan :
1. Guru mengatakan kepada anak-anak bahwa hari ini akan menggambar pohon cemara.
2. Guru mengajak anak-anak ke kebun Pak Kardi.
3. Anak-anak mengamati pohon cemara di kebun.
4. Setelah dirasa cukup anak-anak mulai menggambar pohon cemara.
5. Kegiatan menggambar dilaksanakan di kebun.
6. Guru menungui anak-anak saat menggambar.

SKH 4
Aktivitas-aktivitas perbaikan :
1. Guru mengatakan kepada anak-anak bahwa hari ini akan menggambar televisi.
2. Guru mengajak anak-anak ke rumah Bu Wati.
3. Anak-anak mengamati televisi di rumah Bu Wati.
4. Setelah dirasa cukup anak-anak mulai menggambar televisi.
5. Kegiatan menggambar dilaksanakan di ruang tengah rumah Bu Wati.
6. Guru menungui anak-anak saat menggambar.

SKH 5
Aktivitas-aktivitas perbaikan:
1. Guru mengatakan kepada anak-anak bahwa hari ini akan menggambar suasana di sawah.
2. Guru mengajak anak-anak ke sawah di depan TK.
3. Anak-anak mengamati sawah yang saat ini kering.
4. Setelah dirasa cukup anak-anak mulai menggambar sawah.
5. Kegiatan menggambar di sekitar area pesawahan.
6. Guru menungui anak-anak saat menggambar.

Setelah perbaikan pembelajaran pada masing-masing siklus selesai, penulis dan pengamat melakukan dialog mengenai pelaksanaan perbaikan. Hasil dialog ini menjadi bahan refleksi bagi penulis. Penampilan aktivitas perbaikan yang telah baik dipertahankan dan yang belum baik ditingkatkan pada siklus berikutnya.
Pada siklus I, penampilan aktivitas perbaikan yang telah baik meliputi :
1. Menggambar suasana pagi hari, nilai 4.
2. Menggambar matahari, nilai 4.
3. Menggambar suasana siang hari, nilai 4.
4. Menggambar suasana di sawah, nilai 4.
5. Menggambar Apel, nilai 4.

Sedangkan aktivitas yang menjadi pusat perbaikan pada siklus II adalah:
1. Menggambar bunga matahari, nilai 4.
2. Menggambar roti donat, nilai 4.
3. Menggambar pohon cemara, nilai 4.
4. Menggambar televisi, nilai 4.
5. Menggambar suasana di Sawah, nilai 5.

Pada akhir siklus II, ditemukan pelaksanaan aktivitas-aktivitas telah berjalan dengan baik, dengan nilai rata-rata 4,2 (dalam skala1-5). Oleh karena itu perbaikan pembelajaran dianggap selesai.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


Penulis telah melakukan perbaikan pembelajaran sebanyak dua siklus selanjutnya disampaikan hasil perbaikan pada masing-masing siklus yang akan mencakup penilaian penampilan perbaikan pembelajaran dan hasil belajar anak.

A. Deskripsi Per Siklus
1. Siklus I
Secara umum dapat dikatakan bahwa pelaksanaan perbaikan pembelajaran berjalan dengan baik, dengan nilai rata-rata 4 (dalam skala 1-5) dan prestasi belajar siswa baik dengan nilai rata-rata 8 pada SKH1, nilai rata-rata 8,2 pada SKH 2, nilai rata-rata 8 pada SKH 3, nilai rata-rata 8,1 pada SKH 4, dan nilai rata-rata 8,2 pada SKH 5.
a. Hasil Pengolahan Data
Pada SKH 1 guru mengatakan kepada anak-anak bahwa hari ini akan menggambar. Anak-anak diminta mengikuti guru ke halaman TK, kemudian anak-anak mengamati suasana pagi hari disekitar lingkungan TK. Dilanjutkan dengan kegiatan menggambar suasana pagi hari. Kegiatan menggambar dilaksanakan di halaman TK. Selama kegiatan guru menunggui dan mengamati kegiatan anak.
Pada SKH 2 guru mengatakan kepada anak-anak bahwa hari ini akan menggambar matahari. Anak-anak diminta mengikuti guru ke halaman TK, kemudian anak-anak melihat ke langit dan melihat matahari sebentar. Dilanjutkan dengan kegiatan menggambar matahari. Kegiatan menggambar dilaksanakan di halaman TK. Selama kegiatan guru menunggui dan mengamati kegiatan anak.
Pada SKH 3 guru mengatakan kepada anak-anak bahwa hari ini akan menggambar. Anak-anak diminta mengikuti guru ke pasar, kemudian anak-anak mengamati suasana siang hari disekitar pasar. Dilanjutkan dengan kegiatan menggambar suasana siang hari. Kegiatan menggambar dilaksanakan di dekat pasar. Selama kegiatan guru menunggui dan mengamati kegiatan anak.
Pada SKH 4 guru mengatakan kepada anak-anak bahwa hari ini akan menggambar suasana di sawah. Anak-anak diminta mengikuti guru ke sawah di depan TK, kemudian anak-anak mengamati suasana di sawah. Dilanjutkan dengan kegiatan menggambar suasana di sawah. Kegiatan menggambar dilaksanakan di dekat sawah. Selama kegiatan guru menunggui dan mengamati kegiatan anak.
Pada SKH 5 guru mengatakan kepada anak-anak bahwa hari ini akan menggambar buah apel. Guru memperlihatkan 2 buah apel, kemudian anak-anak mengamati 2 buah apel tersebut. Dilanjutkan dengan kegiatan menggambar buah apel. Kegiatan menggambar dilaksanakan di kelas. Selama kegiatan guru menunggui dan mengamati kegiatan anak.
Di bawah ini kualitas pelaksanaaan aktivitas perbaikan pembelajaran menggambar dengan pendekatan contextual learning pada siklus I di kelompok B TK Melati.

Tabel 1
Prestasi Belajar Anak Dalam Menggambar Dengan Pendekatan Contextual Learning
No. Variabel
( Aktivitas – aktivitas Perbaikan Pembelajaran ) Nilai
1 2 3 4 5
1. Menggambar suasana pagi hari V
2. Menggambar matahari V
3. Menggambar suasana siang hari V
4. Menggambar suasana di sawah V
5. Mengambar buah apel V
Jumlah 5
Nilai rata - rata 4

Keterangan :
1 = kurang sekali
2 = kurang
3 = cukup
4 = baik
5 = baik sekali

Hasil belajar anak dalam perbaikan pembelajaran menggambar di kelompok B TK Melati Desa Kenconorejo Kecamatan Tulis Kabupaten Batang siklus I dicantumkan di bawah ini. Hasil belajar anak dalam Siklus I SKH 1 dicantumkan dalam Tabel 2.
Tabel 2
Hasil perbaikan pembelajaran menggambar siklus 1 SKH 1

X f fX
9 2 19
8 10 80
7 2 14
6 0 0
8

Hasil belajar anak dalam Siklus I SKH 2 dicantumkan dalam Tabel 3.
Tabel 3
Hasil perbaikan pembelajaran menggambar siklus 1 SKH 2

X f fX
9 3 27
8 10 80
7 1 7
6 0 0
8,1
Hasil belajar anak dalam Siklus I SKH 3 dicantumkan dalam Tabel 4.
Tabel 4
Hasil perbaikan pembelajaran menggambar siklus 1 SKH 3

X f fX
9 2 18
8 10 80
7 2 14
6 0 0
8

Hasil belajar anak dalam Siklus I SKH 4 dicantumkan dalam Tabel 5.

Tabel 5
Hasil perbaikan pembelajaran menggambar siklus 1 SKH 4


X f fX
9 2 18
8 11 88
7 1 7
6 0 0
8,1

Hasil belajar anak dalam Siklus I SKH 5 dicantumkan dalam Tabel 6.




Tabel 6
Hasil perbaikan pembelajaran menggambar siklus 1 SKH 5

X f fX
9 4 36
8 9 72
7 1 7
6 0 0
8,2

Dari hasil belajar anak dalam Tabel 2-6 diketahui rata-rata nilai anak (8+8,1+8+8,1+8,2):5 = 40.4:5=8,08. nilai ini menunjukkan bahwa perbaikan pembelajaran berhasil menghantarkan anak pada prestasi baik.

b. Deskripsi Temuan
Pelaksanaan tiap-tiap aktivitas perbaikan pembelajaran yang menjadi pusat perhatian dalam observasi dapat dideskripsikan sebagaimana di bawah ini :
1. Menggambar suasana pagi hari
Anak-anak dapat mengambarkan suasana pagi yang ada disekitar TK ke dalam kertas. Kemampuan anak baik nilai rata-rata kelas 8, anak dapat menggambar sekaligus mewarnai gambar sesuai dengan keinginan. Anak mampu menuangkan suasana pagi hari ke dalam kertas gambar. Gambar anak-anak bagus, variatif, dan ekspresif.
2. Menggambar matahari
Dalam SKH 2 ini nilai rata-rata kelas 8,1 dalam menggambar matahari. Gambar matahari sangat variatif ada yang memberi warna merah, kuning, dan putih. Ada yang besar dan kecil ada pula yang menggambar 2 matahari.
3. Menggambar suasana siang hari
Anak-anak dapat mengambar suasana siang hari yang ada disekitar pasar ke dalam kertas. Kemampuan anak baik nilai rata-rata kelas 8, anak dapat menggambar sekaligus mewarnai gambar sesuai dengan keinginan anak. Anak mampu menuangkan suasana siang di pasar sesuai dengan keinginan anak. Gambar anak-anak bagus, variatif, dan ekspresif.
4. Menggambar suasana di sawah
Anak-anak dapat mengambar suasana di sawah yang ada di depan TK ke dalam kertas. Kemampuan anak baik nilai rata-rata kelas 8,1 dan anak dapat menggambar sekaligus mewarnai gambar sesuai dengan keinginan anak. Gambar anak-anak bagus, variatif, dan ekspresif.
5. Menggambar buah apel
Dalam menggambar buah apel anak-anak lebih variatif. Kreatifitas anak-anak benar-benar muncul, mereka menggambar bermacam-macam apel dari 2 buah apel yang dilihat oleh anak-anak. Ada apel merah, apel hijau, dan penggabungan dari dua apel. Kemampuan menggambar anak pada kegiatan ini baik nilai rata-rata anak 8,2.

2. Siklus II
Secara umum dapat dikatakan bahwa pelaksanaan perbaikan pembelajaran berjalan dengan baik, dengan nilai rata-rata 4,2 (dalam skala 1-5) dan prestasi belajar siswa baik dengan nilai rata-rata 8,2 pada SKH 1, nilai rata-rata 8,2 pada SKH 2, nilai rata-rata 8,2 pada SKH 3, nilai rata-rata 8,3 pada SKH 4, dan nilai rata-rata 8,4 pada SKH 5.
a. Hasil Pengolahan Data
Pada SKH 1 guru mengatakan kepada anak-anak bahwa hari ini akan menggambar bunga matahari. Anak-anak diminta mengikuti guru ke halaman rumah Pak Tarto, kemudian anak-anak mengamati bunga matahari di halaman rumah Pak Tarto. Dilanjutkan dengan kegiatan menggambar bunga tersebut. Kegiatan menggambar dilaksanakan di halaman rumah. Selama kegiatan guru menunggui dan mengamati kegiatan anak.
Pada SKH 2 guru mengatakan kepada anak-anak bahwa hari ini akan menggambar donat. Guru memperlihatkan donat dan anak-anak mengamati bentuk donat tersebut. Dilanjutkan dengan kegiatan menggambar donat. Kegiatan menggambar dilaksanakan di kelas. Selama kegiatan guru menunggui dan mengamati kegiatan anak.
Pada SKH 3 guru mengatakan kepada anak-anak bahwa hari ini akan menggambar pohon cemara. Anak-anak diminta mengikuti guru ke kebun Pak Kardi, kemudian anak-anak mengamati pohon cemara. Dilanjutkan dengan kegiatan menggambar pohon cemara. Kegiatan menggambar dilaksanakan di kebun. Selama kegiatan guru menunggui dan mengamati kegiatan anak.
Pada SKH 4 guru mengatakan kepada anak-anak bahwa hari ini akan menggambar televisi. Anak-anak diminta mengikuti guru ke rumah Bu Wati, kemudian anak-anak mengamati televisi. Dilanjutkan dengan kegiatan menggambar televisi. Kegiatan menggambar dilaksanakan di ruang tengah rumah Bu Wati. Selama kegiatan guru menunggui dan mengamati kegiatan anak.
Pada SKH 5 guru mengatakan kepada anak-anak bahwa hari ini akan menggambar suasana di sawah. Guru mengajak anak ke sawah. Dilanjutkan dengan kegiatan menggambar suasana di sawah. Kegiatan menggambar dilaksanakan di dekat sawah. Selama kegiatan guru menunggui dan mengamati kegiatan anak.
Di bawah ini kualitas pelaksanaaan aktivitas perbaikan pembelajaran menggambar dengan pendekatan contexstual learning pada siklus II di kelompok B TK Melati.





Tabel 7
Prestasi Belajar Anak Dalam Menggambar Dengan Pendekatan Contextual Learning

No. Variabel
( Aktivitas – aktivitas Perbaikan Pembelajaran ) Nilai
1 2 3 4 5
1. Menggambar bunga matahari V
2. Menggambar roti donat V
3. Menggambar pohon cemara V
4. Menggambar televisi V
5. Mengambar suasana di sawah V
Jumlah 4 1
Nilai rata - rata 4,2

Keterangan :
1 = kurang sekali
2 = kurang
3 = cukup
4 = baik
5 = baik sekali

Hasil belajar anak dalam perbaikan pembelajaran menggambar di kelompok B TK Melati Desa Kenconorejo Kecamatan Tulis Kabupaten Batang siklus 2 dicantumkan di bawah ini. Hasil belajar anak dalam Siklus 2 SKH 1 dicantumkan dalam Tabel 8.


Tabel 8
Hasil perbaikan pembelajaran menggambar siklus 2 SKH 1

X f fX
9 4 36
8 9 72
7 1 7
6 0 0
8,2

Hasil belajar anak dalam Siklus 2 SKH 2 dicantumkan dalam Tabel 9.
Tabel 9
Hasil perbaikan pembelajaran menggambar siklus 2 SKH 2

X f fX
9 4 36
8 9 72
7 1 7
6 0 0
8,2

Hasil belajar anak dalam Siklus 2 SKH 3 dicantumkan dalam Tabel 10.



Tabel 10
Hasil perbaikan pembelajaran menggambar siklus 2 SKH 3

X f fX
9 4 36
8 9 72
7 1 7
6 0 0
8,2

Hasil belajar anak dalam Siklus 2 SKH 4 dicantumkan dalam Tabel 11.

Tabel 11
Hasil perbaikan pembelajaran menggambar siklus 2 SKH 4

X f fX
9 4 36
8 10 80
7 0 0
6 0 0
8,3

Hasil belajar anak dalam Siklus 2 SKH 5 dicantumkan dalam Tabel 12.


Tabel 12
Hasil perbaikan pembelajaran menggambar siklus 2 SKH 5

X f fX
9 5 45
8 9 72
7 0 0
6 0 0
8,4


Dari hasil belajar anak dalam Tabel 8-12 diketahui rata-rata nilai anak (8,2+8,2+8,2+8,3+8,2):5 = 41,3:5=8,26. nilai ini menunjukkan bahwa perbaikan pembelajaran berhasil menghantarkan anak pada prestasi baik.

b. Deskripsi Temuan
Pelaksanaan tiap-tiap aktivitas perbaikan pembelajaran yang menjadi pusat perhatian dalam observasi dapat dideskripsikan sebagaimana di bawah ini :
1. Menggambar bunga matahari
Anak-anak dapat mengambar bunga matahari ke dalam kertas. Kemampuan anak baik nilai rata-rata 8,2 dan anak dapat menggambar sekaligus mewarnai gambar sesuai dengan keinginan anak. Gambar anak-anak bagus, variatif, dan ekspresif.
2. Menggambar roti donat
Dalam SKH 2 ini rata-rata kelas 8,2 dalam menggambar donat. Gambar sangat variatif ada yang memberi warna merah, kuning, dan putih. Ada yang besar dan kecil ada pula yang menggambar 2 buah donat.
3. Menggambar suasana pohon cemara
Anak-anak dapat mengambar pohon cemara. Kemampuan anak baik nilai rata-rata kelas 8,2 dan anak dapat menggambar sekaligus mewarnai gambar sesuai dengan keinginan anak. Gambar anak-anak bagus, variatif, dan ekspresif.
4. Menggambar televisi
Anak-anak dapat mengambar televisi. Kemampuan anak baik nilai rata-rata kelas 8,3 dan anak dapat menggambar sekaligus mewarnai gambar sesuai dengan keinginan. Gambar anak-anak bagus, variatif, dan ekspresif.
5. Menggambar suasana di sawah
Dalam menggambar buah apel anak-anak lebih variatif. Kreatifitas anak-anak benar-benar muncul, mereka menggambar bermacam-macam kegiatan yang ada disawah. Kemampuan menggambar anak pada kegiatan ini baik nilai rata-rata anak 8,4.

B. Pembahasan Dari Setiap Siklus

Dari data kualitas pelaksanaan perbaikan pembelajaran dan hasil tugas anak yang ditemukan dalam penelitian di kelompok B TK Melati Desa Kenconorejo Kecamatan Tulis Kabupaten Batang, dapat dikatakan bahwa pelaksanaan perbaikan pembelajaran meningkat dan karena itu prestasi belajar anak juga meningkat. Pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan baik, dengan nilai 4 (skala 1-5) pada siklus I dan meningkat lebih baik lagi dengan nilai 4,2 (skala 1-5) pada siklus II. Prestasi belajar anak meningkat dari kurang (nilai 5) sebelum perbaikan pembelajaran, menjadi baik (nilai 8,08) pada perbaikan siklus I dan lebih baik lagi (nilai 8,26) pada siklus II.
Tiap siklus dalam pelaksanaan perbaikan selalu menunjukkan hasil yang baik, di bawah ini grafik rata-rata nilai anak yang menunjukkan peningkatan kreatifitas anak dalam menggambar melalui pendekatan contexstual learning.



Gambar 1. Grafik peningkatan kreativitas anak dalam menggambar

Dengan memberikan pengalaman secara langsung kepada anak dengan mengenalkan konteks asli dari suatu benda, anak-anak membangun sendiri dunianya. Guru bukan merupakan sumber utama pengetahuan namun sebagai fasilitator dalam proses belajar (Depdiknas, 2006).


BAB. V
KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan

Dari hasil-hasil penelitian yang dibeberkan di muka, dapat disimpulkan bahwa perbaikan pembelajaran menggambar dengan pendekatan contextual learning di kelompok B TK Melati Desa Kenconorejo Kecamatan Tulis Kabupaten Batang berjalan dengan baik dan karenanya kreativitas anak dalam menggambar meningkat. Secara rinci :
1. Pelaksanaan perbaikan pembelajaran berjalan dengan baik, dengan nilai 4 (dalam skala 1-5) pada siklus I, meningkat menjadi lebih baik lagi dengan nilai 4,2 (dalam skala 1-5) pada siklus II.
2. Prestasi belajar anak meningkat dari kurang (nilai 5) sebelum perbaikan pembelajaran, menjadi baik (nilai 8,08) pada perbaikan siklus I dan lebih baik lagi (nilai 8,26) pada siklus II.
3. Prestasi belajar anak meningkat melalui aktivitas-aktivitas menggambar : 1) suasana pagi hari, matahari, 2) suasana siang hari, 3) suasana sawah, 4) apel, 5) bunga matahari, 6) roti donat, 7) pohon cemara, 8) televisi, dan 9) suasana di sawah.

B. Saran

Bertolak dari hasil-hasil penelitian yang diperoleh, penulis menyampaikan saran kepada rekan-rekan guru. Dalam pembelajaran menggambar supaya kreativitas anak baik, guru hendaknya :
1. Mengajak anak melihat bentuk asli dari benda yang akan digambar.
2. Mengajak anak untuk mengamati bentuk yang akan digambar dengan seksama dan teliti.
3. Berikan kebebasan kepada anak dalam menggambar dan memilih warna.
4. Bawa anak keluar dari kelas dan biarkan mereka menggambar di tempat terbuka.
5. Bebaskan anak memilih bentuk gambar walaupun guru telah menentukan tema gambar.

Disamping itu, karena terbukti penelitian tindakan kelas (PTK) dapat meningkatkan kreativitas menggambar anak, penulis menyarankan rekan-rekan guru mempelajari dan menerapkan PTK di kelasnya masing-masing. Pemahaman PTK ini dapat ditempuh melalui pertemuan KKG (Kelompok Kerja Guru).


DAFTAR PUSTAKA


Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Kooperativ learning dan contextual learning dalam pembelajaran di Sekolah Dasar dan Menengah. Jakarta : Pengarang.
Derektorat Jenderal Pendidikan Dasar Dan Menengah. 2006. Standar Kompetensi Taman Kanak-Kanak Dan Raudlatul Athfal. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.
Pamadi, Hajar dan Sukardi S, Evan. 2008. Seni Keterampilan Anak. Jakarta : UT Press.
Rachmadiarti. (2002). Pendekatan kontekstual dalam Pembelajaran Di Kelas. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.
Santoso, Tanadi. (2009). Seni Dan Kreativitas Manusia Tiada Batas : Jakarta : Duta press.

Websites:
http://www.wikipidia.indonesia/kreativitas.shtml, Pengertian Kreativitas.
Readmore → CONTOH PTK TK

contoh karya tulis guru berprestasi TK

Kalau yang ini adalah contoh KARYA TULIS LOMBA GURU BERPRESTASI
sumber : blog ini  . Meski karya tulis ini cukup lama, tapi mungkin dapat untuk referensi .




MODEL PENGELOMPOKKAN TERPADU DAPAT MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PENGELOLAAN KELAS
Uji Coba Pembelajaran Sains Di Kelas IV SDN EMPANG BAHAGIA I
Kecamatan Batuceper

KARYA TULIS
DISAMPAIKAN DALAM LOMBA GURU BERPRESTASI TINGKAT
KOTA TANGERANG TAHUN 2007








Disusun Oleh :

NAMA : HJ. UPIT
NIP : 131 958 544
TUGAS : SDN EMPANG BAHAGIA I



DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KECAMATAN BATUCEPER
KOTA TANGERANG PROPINSI BANTEN 
2007

Karya Tulis

MODEL PENGELOMPOKKAN TERPADU DAPAT MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PENGELOLAAN KELAS
Uji coba pembelajaran sains dikelas IV SDN EMPANG BAHAGIA I











Kecamatan Batuceper
Mengetahui /Menyetujui
Kepala Sekolah




Djuhairi, S.Pd.
131 313 752



ABTRAKSI


HJ. UPIT, 2007. Model Pengelompokkan Terpadu dapat Meningkatkan Eektifitas Pengelolaan Kelas, Uji Coba Pembelajaran Kelas IV SD. Negeri Empang Bahagia I Kecamatan Batuceper Kota Tangerang. Karya Tulis : Lomba Guru Berprestasi Tingkat Kota Tangerang.
Karya tulis ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan "Apakah dengan model pengelompokkan terpadu dapat meningkatkan efektifitas pengelolaan kelas". Penulis memiliki beberapa alasan pemilihan masalah seperti pada judul di atas, yaitu:
1. Sehubungan dengan kelas kami jumlah siswanya terlalu banyak, hal ini sulit bagi guru untuk mengelola kelas secara optimal.
2. Model pengelompokkan terpadu dapat dimanfaatkan dengan berbagai tujuan.
3. Model pengelompokkan terpadu terdiri dari beberapa siswa dengan latar belakang tingkat kecerdasan dan karakteristik tingkah laku yang beragam sehingga dapat menciptakan iklim sosial yang positif.
4. Model pengelompokkan terpadu dapat di gunakan beberapa bidang studi dalam kegiatan belajar mengajar.
5. Model pengelompokkan terpadu membuat para siswa belajar lebih menyenangkan. Karena terjadi persaingan diantara kelompok.

Pengelompokan terpadu di kelas dapat memberikan beberapa kemudahan bagi guru dalam mengelola kelas diantaranya :
Dalam pembelajaran guru dapat memberikan tugas kepada siswa yang memiliki tingkat kecerdasan lebih tinggi untuk membantu teman sekelompoknya yang mengalami kesulitan pemahaman dalam belajar (tutor sebaya)
Dalam pemberian tugas dapat lebih terkordinasi dengan baik, karena hal ini merupakan tanggung jawab dan dibawah pengawasan ketua kelompok
Dalam pengumpulan dana untuk keperluan sehari-hari dalam kelas misalnya ulangan, dana sosial dan membeli peralatan kebersihan
Dalam pengoreksian hasil evaluasi dengan koreksi silang antar kelompok 
Dalam bimbingan belajar dan sosial, karena setiap kelompok diberikan kepercayaan dan tangung jawab untuk membantu teman sekelompoknya yang memiliki masalah sebelum ditangani oleh guru
Dalam pengawasan, karena dengan jumlah siswa yang banyak sering kali terjadi perkelahian antar siswa tapi denganpengelompokan terpadu hal ini dapat dikurangi

Kesimpulan yang dapat dikemukakan dalam karya tulis ini adalah :
Pengelolaan kelas dengan model pengelompokan terpadu dapat membantu guru dalam mengkondisikan kelas untuk menciptakan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotifasi siswa agar lebih kreatif sehingga mendapatkan hasil yang optimal.
Model pengelompokan terpadu ternyata dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan dapat digunakan untuk beberapa bidang studi.

Dengan demikian pengelolaan kelas dengan model pengelompokan terpadu ini dapat dimanfaatkan oleh guru terutama yang memiliki kelas dengan jumlah siswa lebih banyak, sehingga hal ini tidak dianggap suatu hambatan justru sebaliknya dapat dijadikan kekuatan dalam mengelola kelas serta dapat dijadikan model pengelolaan kelas alternatif.






KATA PENGANTAR


Seraya memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena penulis menyadari bahwa berkat rahmat dan hidayatnya penulis dapat menyelesaikan karya tulis dengan judul model pengelompokan terpadu dapat meningkatkan efektifitas pengelolaan kelas, uji coba pembelajaran di kelas IV SD NEGERI EMPANG BAHAGIA I KECAMATAN BATUCEPER.
Karya tulis ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan lomba guru berprestasi kota tangerang. Sehubungan dengan tersusunnya karya tulis ini penulis dapat mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang membantu dan membimbing penulisan ini. Secara khusus penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Yth, Bapak Drs. H. M. Sonip, Kepala Cabang Dinas Batu Ceper Kota Tangerang
2. Yth, Bapak Drs. M. Ramli, Bapak H. Ujat Sudrajat, S.Pd., dan Ibu Dra. Hj. Siti Hawilah, Selaku Pengawas TK / SD di Kecamatan Batu Ceper 
3. Yth, Bapak Djuhairi, S.Pd., Selaku Kepala SDN Empang Bahagia I sekaligus Ketua Gugus IV Kompleks SDN Empang Bahagia.
4. Yth, Bapak H. Taufik Sanyoto, S.Pd., dan Bapak Drs. Idrus, yang selalu memberika bimbingan dan arahan bagi penulis.
5. Rekan-rekan pemandu bidang studi di Gugus IV Kompleks SDN Empang Bahagia.
6. Rekan-rekan sejawat di SDN Empang Bahagia I
Mudah-mudahan amal dan jasa baik mereka diterima oleh Allah SWT, dan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda. Amin dan semoga karya tulis ini bermanfaat, khususnya bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih terdapat kekurangan dan kelemahannya, oleh karena itu, kritik dan saran para pembaca akan penulis terima dengan senang hati demi penyempurnaan karya tulis ini di masa yang akan datang.



Tangerang, April 2007 



Penulis


















DAFTAR ISI


ABSTRAKSI iii
KATA PENGANTAR v
DAFTAR ISI vii
DAFTAR LAMPIRAN ix

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah 1
1.2 Identifikasi Masalah 2
1.3 Pembatasan masalah dan perumusan masalah 2

BAB II MODEL PENGELOMPOKKAN TERPADU DAPAT MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PENGELOLAAN KELAS 
2.1 Pengertian Pengelompokkan Terpadu dan Efektivitas Pengelolaan Kelas 3
2.1.1 Pengertian Model Pengelompokkan Terpadu 3
2.1.2 Pengertian Efektivitas Pengelompokkan Kelas 3
2.2 Visi, Misi dan Tujuan 4
2.2.1 Visi 4
2.2.2 Misi 5
2.2.3 Tujuan 6
2.3 Permasalahan yang Dihadapi Guru 6
2.3.1 Permasalahan yang Ada Pada Guru Itu Sendiri 6
2.3.2 Permasalahan Tempat Tugas 6
2.3.3 Permasalahan Dari Masyarakat 7
2.4 Upaya dan Dukungan dari Pemerintah Daerah, Komite Sekolah, dan KKG 7

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan 9
3.2 Saran 9

DAFTAR PUSTAKA 11
LAMPIRAN 12
DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENULIS 18 


















DAFTAR LAMPIRAN


Lampiran 1 Surat Keterangan Penulisan Karya Tulis 12
Lampiran 2 Rencana Pembelajaran 13
Lampiran 3 Lembar Kerja Siswa 15
Lampiran 4 Lembar Pengamatan 16
Lampiran 5 Hasil Pekerjaan Siswa 
Lampiran 6 Foto-Foto Kegiatan Belajar Mengajar dengan Model Kelompok Terpadu 


















BAB I 
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Sekolah merupakan lembaga formal yang berfungsi membantu khususnya orang tua dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. Sekolah memberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada anak didiknya secara lengkap sesuai dengan yang mereka butuhkan. Semua fungsi sekolah tersebut tidak akan efektif apabila komponen dari sistem sekolah tidak berjalan dengan baik, karena kelemahan dari salah satu komponen akan berpengaruh pada komponen yang lain yang pada akhirnya akan berpengaruh juga pada jalannya sistem itu sendiri. salah satu dari bagian komponen sekolah adalah guru. 
Guru dituntut untuk mampu menguasai kurikulum, menguasai materi, menguasai metode, dan tidak kalah pentingnya guru juga harus mampu mengelola kelas sedemikian rupa sehingga pembelajaran berlangsung secara aktif, inovatif dan menyenangkan. 
Sebagai guru kelas penulis melihat pembelajaran menjadi kurang efektif karena jumlah siswa terlalu banyak. Hal ini tentu suatu hambatan bagi guru dalam mengelola kelas. Namun penulis ingin mengubah hambatan tersebut menjadi sebuah kekuatan dalam pengelolaan kelas yang efektif dan efisien sehingga nantinya akan mendapatkan hasil yang memuaskan. 
Untuk menjawab hal itu, penulis mencoba menampilkan pengelolaan kelas dengan model pengelompokkan terpadu. Yang mana setiap kelompok terdiri dari beberapa orang siswa dengan tingkat kemampuan, sikap, dan keterampilan yang berbeda, karena hal ini banyak memberika manfaat dan kemudahan bagi guru dalam mengelola kelas.
1.2 Identifikasi Masalah
Banyak masalah yang berkaitan dengan pengolaan kelas yang dapat diidentifikasi, diantaranya :
Bagaimana menata siswa dalam kelas agar siswa dapat terorganisir dengan baik?
Bagaimana Penataan ruang kelas agar dapat menciptakan suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan.
Bagaimana penataan tempat duduk siswa agar siswa dapat belajar lebih efektif dan efisien serta memenuhi syarat edukatif.
Bagaimana penataan alat-alat pelajaran dan perlengkapan kelas lainnya yang dapat menunjang keberhasilan proses belajar mengajar
Bagaimana menata keindahan dan kebersihan kelas sehingga dapat memotivasi siswa dalam kegiatan belajar.
Bagaimana membina disiplin di dalam kelas melalui pendekatan-pendekatan tertentu yang dapat mengembangkan tingkah laku siswa yang diharapkan

1.3 Pembatasan Masalah dan Perumusan Masalah
Dari sekian permasalahan yang ada tidak mungkin penulis dapat membahasnya secara keseluruhan, karena mengingat kemampuan yang ada baik intelektual, biaya dan waktu yang dimiliki penulis sangat terbatas. Maka penulis perlu memberikan batasan-batasan masalah. Pembatasan masalah diperlukan untuk memperjelas permasalahan yang ingin dipecahkan.
Oleh karena itu, penulis memberikan batasan sebagai berikut :
Pengelolaan kelas yang berkaitan dengan penataan tempat duduk siswa yaitu dengan model pengelompokkan terpadu
Sejauh mana model pengelompokkan terpadu membantu guru dalam pengelolaan kelas 
Model pengelompokkan terpadu ini diuji cobakan pada pelajaran Sains, dengan indikator "mengidentifikasi sifat benda padat, cair dan gas" 
BAB II
MODEL PENGELOMPOKKAN TERPADU DAPAT MENINGKATKAN EFEKTIFITAS PENGELOLAAN KELAS

2.1 Pengertian Model Pengelompokan Terpadu
Kegiatan belajar mengajar di dalam kelas memerlukan pengelolaan kelas yang efektif dan efisien salah satunya dengan menata tempat duduk siswa. Tempat duduk siswa di dalam kelas dapat dikelola dalam klasikal, individual dan kelompok. 
Model pengelompokkan terpadu adalah kelompokan yang di bentuk dengan berbagai macam tujuan dan terdiri dari beberapa siswa yang memiliki latar belakang kemampuan pengetahuan sikap dan keterampilan yang berbeda.

2.1.1 Pengertian Efektifitas Pengelolaan kelas 
A. Pengertian Efektifitas 
T.Hani Handoko Merumuskan definisi efektifitas sebagai berikut : "Efektifitas merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang telah di tetapkan".Sementara yang mengatakan bahwa "Efektifitas adalah kesanggupan untuk mewujudkan suatu tujuan".
Dari rumusan-rumusan tersebut dapat disimpulkan bahwa efektifitas merupakan kemampuan atau kesanggupan memilih dan mewujudkan tujuan secara tepat.

B. Pengertian Pengelolaan Kelas
Kualitas belajar siswa dalam proses belajar mengajar tergantung pada banyak faktor antara lain jumlah siswa dalam kelas yang merupakan bagian dari pengelolaan kelas.


Yang dimaksud dalam kelas ruangan belajar. 
Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah dan menjadi satu kesatuan yang diorganisir menjadi unit kerja secara dinamis dalam kegiatan pembelajaran yang kreatif untuk mencapai tujuan.
Sedangkan pengelolaan kelas segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotifasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai kemampuan. (pengelolaan kelas di Sekolah Dasar, 1993 /1994)
Efektifitas pengelolaan kelas merupakan upaya pihak guru untuk menata kehidupan kelas dan melakukan serangkaian usaha atau kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan, memelihara dan mengatur kondisi yang optimal serta memperbaiki jika terjadi gangguan agar proses belajar mengajar berlangsung secara efektif dan efesien. 

2.2 Visi, Misi dan Tujuan
2.2.1 Visi
Guru dalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang berpontensial dibidang pembangunan oleh karena itu, guru merupakan salah satu unsur di bidang pendidikan yang harus berperan serta secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tentuan masyarakat semangkin berkembang.
Peranan guru meliputi 3 hal utama, yaitu mengajar, mendidikan dan melatih. Maka sebagai konsekwensinya guru harus bertindak sebagai perencana pembelajaran dan memudahkan pelaksanaan pembelajaran (fasilitator ).
Sebagai perencana pembelajaran guru harus memiliki wawasan yang luas tentang tugasnya, serta memahami persalahan pendidikan. Guru juga harus memahami visi sekolah tempat dia bertugas sekaligus visi menjaga dirinya sendiri dalam melaksanakan tugasnya.
Sebagai contoh SD Negeri Empang Bahagia I tempat penulis bekerja mempunyai Visi "Unggul dalam berprestasi, terampil dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan tehnologi berdasarkan iman dan takwa".
Sejalan dengan visi sekolah tersebut penulis mempunyai visi pribadi yaitu " Prestasi dalam Profesi yang dilandasi Akhlakul karimah".

2.2.2 Misi
Sebagai lembaga pendidikan mempunyai pendidikan misi dan berusaha untuk mewujudkannya misi merupakan cara untuk mencapai visi yang telah ditetapkan. Adapun misi SD Negeri Empang Bahagia I adalah sebagai berikut:
Meningkatkan disiplin dalam proses belajar mengajar 
menumbuhkan semangat keunggulan secara intensif pada seluruh warga sekolah.
memotifasi dan membantu siswa untuk mengenali potensi dirinya, sehimgga dapat dikembangkan secara optimal.
Menumbuhkan penghayatan ajaran agama yang dianut dan juga budaya bangsa, sehingga menjadi kearifan dalam bertindak.
Meningkatkan ketrampilan siswa dalam mengunakan ilmu pengetahuan tehnologi.
Misi sekolah yang telah dirumuskan tersebut harus di imbangi dengan misi pribadi seorang guru oleh sebab itu penulis mempunyai misi sebagai berikut :
Menerapkan disiplin sehingga menjadi Role Model (panutan) bagi siswa.
Mengembangkan wawasan profesi secara berkesinambungan.
Berusaha melakukan inovasi menuju arah yang lebih baik.
Menjaga hubungan baik dengan teman sejawat dan lebih meningkatkan hubungan dengan Sang pencipta.

2.2.3 Tujuan 
Tujuan penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut: 
Memberikan solusi alternatif dalam pengelolaan kelas khususnya bagi kelas dengan jumlah siswa melebihi kelas ideal.
Mendeskrisikan manfaat yang dapat diperoleh dari Model Pengelompokan Terpadu.
Membantu memotivasi guru untuk mengubah hambatan menjadi daya dukung dalam pembelajaran.

2.3 PERMASALAHAN YANG DIHADAPI GURU
2.3.1 Permasalahan yang Ada Pada Guru Itu Sendiri
Guru malas membaca buku untuk menambah wawasan dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Guru hanya terpaku pada buku yang ada saja.
Guru malas inovasi dalam pembelajaran.
Guru malas menggunakan berbagai metode dan tidak menguasai penggunaan alat peraga.
Guru segan untuk konsultasi mengenai kesulitan pembelajaran dalam wadah KKG.
Guru malas mengadakan bimbingan bagi siswa yang kurang menguasai pelajaran.

2.3.2 Permasalahan Tempat Tugas 
Tempat tugas terlalu jauh sehingga menghabiskan waktu di perjalanan.
Suasana ditempat tugas tidak ada kekeluargaan dan tidak kondusif sehingga membuat guru tidak merasa nyaman.
Kurangnya perhatian dari kepala sekolah tentang kelemahan guru
Kurang tersedianya sarana dan prasarana di sekolah 

2.3.3 Permasalahan dari Masyarakat.
Ada sebagian masyarakat yang masih kurang perhatian terhadap pendidikan.
Dimata masyarakat guru serba segalanya sehingga bila melakukan suatu kesalahan, masyarakat langsung menghujat dan mencemooh.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang sangat pesan sehingga ada sebagian masyarakat yang lebih maju dalam IPTEK dibandingkan guru itu sendiri.
Faktor lingkungan yang buruk sehingga ikut membentuk siswa menjadi kurang baik.
Faktor kebudayaan, adat istiadat dan bahasa yang dapat juga mempengaruhi pendidikan.

2.4 Upaya dan Dukungan Praktisi Pendidikan
Untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (pendidik) bukan hanya merupakan tanggung jawab sekolah tetapi perlu adanya kerjasama yang baik dari pemerintah (PEMDA), Komite Sekolah dan masyarakat serta adanya kerjasama antar guru.
Upaya dan dukungan tersebut antara lain:
Penyediaan gedung sekolah bertingkat sarana lainnya .
Meningkatkan mutu guru melalui Dinas P&K Kota Tangerang dengan melalui penataran-penataran dan pelatihan adanya penyuluhan dan supervisi dari kepala sekolah, pengawas dan kepala Cabang Dinas Kecamatan Batuceper.
Meningkatkan kesehjateraan guru melalui intensif.
Adanya kerjasama antar guru dalam wadah KKG.
Adanya kerjasama antar guru TK/SD atau Dinas P&K.
Peningkatan kualitas guru dengan beasiswa PGSD DII atau SI.
Adanya mutasi guru dalam mengajar agar tidak jenuh atau peningkatan karir.
Adanya kerjasama antar sekolah dengan masyarakat melalui komite sekolah 
Adanya forum silahtuhrahmi antara sekolah dan masyarakat dalam merumuskan program dan kebijakan sekolah.
Adanya kerjasama dengan intansi lain 
Adanya hubungan akrab Kepala sekolah dengan Guru.
Penyampaian informasi terbaru dari guru yang baru mengikuti penataran.
Kunjungan atau studi banding ke sekolah-sekolah yang lebih berhasil.
















BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Setelah penulis mengamati proses Model Pengelompokan Terpadu dan mendapat nilai akhir siswa kelas IV dalam uji coba penerapan model pengelolaan kelas ini, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
Pengelolaan kelas dengan Model Pengelompokkan Terpadu dapat membantu guru dalam mengkondisikan kelas untuk menciptakan suasana belajar mengajar yang lebih efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa dengan baik sehingga mendapatkan hasil yang lebih optimal.
Model Pengelompokkan Terpadu ternyata dapat meningkatkan hasil belajar siswa terutama dalam pelajaran Sains dengan indikator "Mengidentifikasi sifat benda cair padat dan gas".
Model Pengelompokkan Terpadu dapat digunakan dalam beberapa mata pelajaran sekolah.

3.2 Saran 
Berikut ini saran-saran yang dapat penulis sampaikan kepada para pembaca pada umumnya, khususnya kepada guru kelas diantaranya :
Agar suatu proses pembelajaran hasil yang optimal maka semua komponen pembelajaran harus baik dan mendukung. Salah satunya pengeloaan kelas dengan Model Pembelajaran Terpadu.
Model Pengelompokkan Terpadu dapat digunakan dalam beberapa mata pelajaran untuk itu bisa dijadikan model alternatif bagi guru.
Guru hendaknya terbuka terhadap inovasi – inovasi yang kreatif sehingga ilmu pengetahuan dan wawasannya mengenai pembelajaran semakin bertambah.


























DAFTAR PUSTAKA


Debdikbud.1993/1994, Pengelolaan Sekolah Dasar.
Arikunto, Suharsimi, Pengelolaan Kelas dan Siswa, (Jakarta : Raja Grafindo Persada 1996).
Hani T. Handoko. Pengantar Manajemen, Edisi II BPFE Jogjakarta 1986.
H. Zahara Idris. H. Lisma jamal. Pengantar Pendidikan, (Jakarta : PT Gramedia Wiidiasarana Indonesia 1992).
Drs. A. Tabrani Rusyan Atang Kusdinar, B,A. DRS, Zainal Arifin Pendekatan 












SURAT KETERANGAN
Nomor : 

Yang bertanda tangan dibawah ini Kepala Sekolah Empang Bahagia I Kecamatan Batuceper Kota Tangerang, menerangkan bahwa : 

Nama : HJ. UPIT
NIP : 131958544
Jabatan : Guru Madya TK I
Tempat/tgl lahir : Tangerang, 09 November 1969
Agama : Islam 
Alamat Rumah : Jl. Manunggal No. 89 Kapuk RT 013/011 Cengkareng Jakarta 
Barat
Alamat Kantor : Jl. Keamanan Kec. Batuceper Tlp.(021) 70215863 Kota 
Tangerang

Adalah benar telah menyusun karya tulis dengan judul :
Judul Karya Tulis : Model pengelompokan terpadu dapat meningkatkan efektifitas
Pengelolaan kelas uji coba pembelajaran di kelas IV SDN 
Empang Bahagia I Kec. Batuceper Kota Tangerang.

Demikian surat keterangan ini kami buat dengan sebenarnya agar dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Tangerang, Maret 2007
Kepala SDN Empang Bahagia I



Djuhairi, S.Pd.
NIP : 131 313 752

RENCANA PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran : SAINS
Kelas / Semester : IV / I
Waktu : 2 X 35 MENIT
Kompetensi Dasar : 6.1 Mengidentifikasi sifat benda padat, cair dan gas memiliki sifat tertentu
Hasil belajar : Mengidentifikasi sifat benda padat, cair, dan gas.
Indikator : Mengindentifikasi sifat benda cair. 
Sumber : - GBPP 2006
- Buku paket hal : 73 
Penerbit : Titian Ilmu
- Buku Sains 4 A hal : 103 - 113
Penerbit : Sarana Panca Karya
Alat : Air berbagai wadah kain / tisu / sumbu kompor, kantong plastik, selang, / Corong kecil.


Pengelolaan 
Waktu Siswa 
1 1. Kegiatan Awal
v1 Tanya jawab tentang manfaat air 10 menit Individu Aktif 
2 2. Kegiatan Inti
v2 Berdiskusi untuk menemukan sendiri salah satu sifat air melalui percobaan, dengan alat yang tersedia 
v3 Mempresentasikan hasil diskusi kelompok
v4 Menyimpulkan materi 40 menit Kelompok Kreatif 
3 3. Kegitan Akhir
v1 Evaluasi
v2 Tindak lanjut ( PR ) 20 menit Individu Aktif 


Tangerang, Maret 2006

Mengetahui Kepala Sekolah Guru Kelas



( ) ( ) 















LEMBAR KERJA


DISKUSIKANLAH DENGAN KELOMPOKMU !
1) Alat dan bahan apa saja yang tersedia dikelompokmu ? ember, lorong, selang, 2 gelas
2) Dari alat dan bahan tersebut apa percobaan yang dapat kamu lakukan ? jelaskan cara kerjanya !
3) Menurut kelompokmu, dari hasil percobaan tersebut sifat air yang bagaimanakah yang kamu peroleh ? air yang mengalir dari tempat yang tinggi ketempat yang rendah

NAMA KELOMPOK : JERUK
Ketua : Ana G
Sekretaris : Aziz
Anggota : 1. Pipit
2. Wahyu M
3. Tarmedi
4. Eka
5. Putra








LEMBAR KERJA


DISKUSIKANLAH DENGAN KELOMPOKMU !
1) Alat dan bahan apa saja yang tersedia dikelompokmu ? ember, lorong, selang, 2 gelas
2) Dari alat dan bahan tersebut apa percobaan yang dapat kamu lakukan ? jelaskan cara kerjanya !
3) Menurut kelompokmu, dari hasil percobaan tersebut sifat air yang bagaimanakah yang kamu peroleh ? air yang mengalir dari tempat yang tinggi ketempat yang rendah

NAMA KELOMPOK : STAWBERY
Ketua : Riski Setiadi
Sekretaris : Novita Wahidah Putri
Anggota : 1. Angga Ardiansyah
2. Krisnadi F
3. Delia
4. Evi S








LEMBAR KERJA


DISKUSIKANLAH DENGAN KELOMPOKMU !
1) Alat dan bahan apa saja yang tersedia dikelompokmu ? ember, lorong, selang, 2 gelas
2) Dari alat dan bahan tersebut apa percobaan yang dapat kamu lakukan ? jelaskan cara kerjanya !
3) Menurut kelompokmu, dari hasil percobaan tersebut sifat air yang bagaimanakah yang kamu peroleh ? air yang mengalir dari tempat yang tinggi ketempat yang rendah

NAMA KELOMPOK : DRAGON
Ketua : Wahyu Arif .S
Sekretaris : Lina Diana
Anggota : 1. Fitri F
2. Sepsita S
3. Hartono H
4. Suci Y








LEMBAR KERJA


DISKUSIKANLAH DENGAN KELOMPOKMU !
1) Alat dan bahan apa saja yang tersedia dikelompokmu ? ember, lorong, selang, 2 gelas
2) Dari alat dan bahan tersebut apa percobaan yang dapat kamu lakukan ? jelaskan cara kerjanya !
3) Menurut kelompokmu, dari hasil percobaan tersebut sifat air yang bagaimanakah yang kamu peroleh ? air yang mengalir dari tempat yang tinggi ketempat yang rendah

NAMA KELOMPOK : MAWAR
Ketua : Dika Wati
Sekretaris : Dedi K
Anggota : 1. Septi R
2. Syerli 
3. Icuk P
4. Redzi








LEMBAR KERJA


DISKUSIKANLAH DENGAN KELOMPOKMU !
1) Alat dan bahan apa saja yang tersedia dikelompokmu ? ember, lorong, selang, 2 gelas
2) Dari alat dan bahan tersebut apa percobaan yang dapat kamu lakukan ? jelaskan cara kerjanya !
3) Menurut kelompokmu, dari hasil percobaan tersebut sifat air yang bagaimanakah yang kamu peroleh ? air yang mengalir dari tempat yang tinggi ketempat yang rendah

NAMA KELOMPOK : GARUDA
Ketua : Akhid Nurrahaman
Sekretaris : Indah
Anggota : 1. Dwi Yuni
2. M Ramdhan
3. Bayu Nata
4. A. LutfI








LEMBAR KERJA


DISKUSIKANLAH DENGAN KELOMPOKMU !
1) Alat dan bahan apa saja yang tersedia dikelompokmu ? ember, lorong, selang, 2 gelas
2) Dari alat dan bahan tersebut apa percobaan yang dapat kamu lakukan ? jelaskan cara kerjanya !
3) Menurut kelompokmu, dari hasil percobaan tersebut sifat air yang bagaimanakah yang kamu peroleh ? air yang mengalir dari tempat yang tinggi ketempat yang rendah

NAMA KELOMPOK : TIGER
Ketua : Dwiki Wahyudi
Sekretaris : Putri
Anggota : 1. Ningrum
2. Rahma
3. Esa 
4. Riski Widi








LEMBAR KERJA


DISKUSIKANLAH DENGAN KELOMPOKMU !
1) Alat dan bahan apa saja yang tersedia dikelompokmu ? ember, lorong, selang, 2 gelas
2) Dari alat dan bahan tersebut apa percobaan yang dapat kamu lakukan ? jelaskan cara kerjanya !
3) Menurut kelompokmu, dari hasil percobaan tersebut sifat air yang bagaimanakah yang kamu peroleh ? air yang mengalir dari tempat yang tinggi ketempat yang rendah

NAMA KELOMPOK : MELATI
Ketua : Dwi Maulida Puspita Sari
Sekretaris : Risma N
Anggota : 1. M. Riski
2. Para Rahmatul
3.Cucu Cahyati
4. Andri








LEMBAR KERJA


DISKUSIKANLAH DENGAN KELOMPOKMU !
1) Alat dan bahan apa saja yang tersedia dikelompokmu ? ember, lorong, selang, 2 gelas
2) Dari alat dan bahan tersebut apa percobaan yang dapat kamu lakukan ? jelaskan cara kerjanya !
3) Menurut kelompokmu, dari hasil percobaan tersebut sifat air yang bagaimanakah yang kamu peroleh ? air yang mengalir dari tempat yang tinggi ketempat yang rendah

NAMA KELOMPOK : KELINCI
Ketua : Ina Anining Tyast
Sekretaris : Lisiana
Anggota : 1. Ariska
2. Aldo
3. Wulandari
4. Nawnas
5. Rizal







LEMBAR PENGAMATAN


Aspek Yang Di Nilai 
Kerja Sama Keaktifan Sumbang Gagasan Pemberian Tanggapan 
Skor Maksimal 20 30 25 25 100 
1 Melati 15 17 20 20 72 
2 Strawberry 15 20 20 20 75 
3 Jeruk 15 25 25 20 85 
4 Mawar 15 15 20 22 72 
5 Dragon 20 25 20 20 25 
6 Tiger 15 20 20 22 78 
7 Kelinci 20 20 15 20 75 
8 Garuda 20 20 25 25 90 

Kategori
Keterangan 0 – 25 Kurang
26 – 50 Sedang
51 – 75 Baik
76 – 110 Baik Sekali
Nilai rata-rata kelompok = 79 
Kategori = Baik Sekali






RIWAYAT HIDUP PENULIS
( BIODATA)


Nama : HJ. UPIT
NIP : 131958544
Jabatan : Guru Madya TK. I
Tempat/tgl lahir : Tangerang, 09 November 1969
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam 
Masa Kerja : 16 tahun 1 bulan
Pendidikan Terakhir: D II PGSD
Status Perkawinan : Kawin
Unit Kerja : SD Empang Bahagia I 
Kec. Batuceper, Kota Tangerang 
Alamat Rumah : Jl. Manunggal No. 89 Kapuk RT 013/011 Cengkareng Jakarta 
Barat
Alamat Kantor : Jl. Keamanan Kec. Batuceper Tlp.(021) 70215863 Kota 
Tangerang.
Judul Karya Tulis : Model Pengelompokkan Terpadu dapat Meningkatkan Efektifitas Pengelolaan Kelas.
Uji Coba Pembelajaran di Kelas IV SDN Empang Bahagia I 
Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang


Tangerang, Maret 2007
Kepala SDN Empang Bahagia I



Djuhairi, S.Pd.
NIP : 131 313 752
Readmore → contoh karya tulis guru berprestasi TK

kata bijak

TAS, SEPATU, BAJU, DISTRO BANDUNG

alt/text gambar

TAS, SEPATU, BAJU, DISTRO BANDUNG

alt/text gambar

pesan hari ini