PROPOSAL TADARUS PEMIKIRAN ISLAM

PROPOSAL TADARUS PEMIKIRAN ISLAM
“………………. SEBAGAI GERAKAN SOSIAL:
MEMAHAMI THE NEW MUSTADZ’AFIN”

UNIVERSITAS ...................................  (...)
DAN JARINGAN INTELEKTUAL MUDA ………………. (.....) .............., ……………….. 2004


A. DASAR PEMIKIRAN

Selama ini, fatwa “Kembali ke Al-Qur’an dan Hadis Nabi” dianggap sebagai tawaran harga mati dalam perilaku keagamaan orang ……………….. Padahal, jika itu betul-betul dilakukan secara tekstualis, berarti jauh dari langkah yang dulu dilakukan KH. Ahmad Dahlan ketika menafsirkan Al-Qur’an. KH. Ahmad Dahlan justru berusaha memberikan tafsir secara kontekstual dengan membaca realitas sosial dan menggunakan akal guna memperoleh strategi dan model praksis sosial dari Al-Qur’an itu. Pemaknaan pemurnian agama seperti persis sama dengan yang tertulis dalam teks Al-Qur’an dan Hadis, dengan sendirinya mengesampingkan sebuah dialektika antara wahyu, akal, dan realitas sosial. Bagaimana mungkin kita bisa melakukan pembacaan dan pembelaan baru terhadap penderitaan umat, jika kita masih terkungkung dengan hegemoni penafsiran yang tekstual.
Kesadaran intelektual KH Ahmad Dahlan sebagai pucuk pimpinan ………………. awal lewat pembacaan yang kritis dan teo praksis terhadap surat Al-Maun, pada dasarnya juga menyentuh pada problem sosial seperti  anak yatim, fakir miskin, serta masyarakat marjinal lainnya. Usaha mengentaskan kemiskinan dan melakukan santunan sosial itu, diwujudkan ………………. dengan mendirikan rumah sakit, panti asuhan, serta amal usaha lainnya. Tidak heran jika hingga sekarang ini, ………………. adalah ormas di Indonesia yang paling memiliki banyak amal usaha di berbagai bidang.
Dengan metode pembaharuan, model pendidikan, serta gerakan sosialnya, ………………. meneguhkan diri sebagai bagian dari kelas menengah modern yang berpikiran maju dan rasional. Kesadaran intelektual seperti diuraikan di ataslah yang hingga sekarang banyak menjadi rujukan organisasi dan pemikiran aktivis ……………….. Padahal, perkembangan obyektif sekarang tidaklah persis sama dengan zaman ketika ………………. didirikan.
Problem sosial baru ketika berhadapan dengan hegemoni pasar kapitalisme dunia, sangat membutuhkan respon dan tindakan ……………….. Dalam era globalisasi seperti sekarang ini, marginalisasi kelas sosial akibat modernitas amat rentan menyebar kemana-mana. Sebab, dengan dalih industrialisasi, modernisasi, informasi, serta globalisasi, hanya kalangan kelas ataslah yang bisa mengakses kemudahan dan kenikmatan atas perkembangan zaman modern. Tidak heran, pada saat ini banyak anak jalanan, tenaga kerja wanita dari daerah miskin, serta anak putus sekolah akibat biaya yang sangat mahal, menderita dan semakin terancam kehidupannya.
Mereka-mereka itulah para mustadz’afin baru yang sangat membutuhkan uluran tangan dari ……………….. Mereka tidak mungkin bisa masuk lembaga pendidikan atau berobat di rumah sakit ………………. yang cukup terkenal dengan kemahalan biayanya. Bila KH Ahmad Dahlan hidup pada masa sekarang, mungkin mereka inilah para orang tertindas yang wajib disantuni oleh ………………. berdasarkan penafsiran yang ortopraksis terhadap surat Al-Ma’un. Dakwah kultural yang disahkan pada tanwir ………………. di Makassar pada Juli lalu, seharusnya bisa dijadikan pintu masuk ke kalangan masyarakat yang tertindas ini guna kembali memanusiwaikan mereka yang terenggut kebebasannya akibat hegemoni kapitalisme global.
Yang harus dicatat adalah, bahwa ciri khas ………………. adalah gerakan yang memadukan antara ortodoksi dan ortopraksis. Oleh karena itu, dalam kaitan dengan pembacaan baru terhadap warisan Islam (Al-Qur’an dan Hadis), perlu juga adanya sebuah komitmen untuk perubahan dan pembebasan masalah kemanusiaan. Kita tentunya tidak hanya boleh puas terus menerus berdialog dengan teks dengan menggunakan akal dan konstruk realitas sosial, tapi hendaknya juga melakukan kerja-kerja kenabian untuk menciptakan masyarakat yang berkeadilan.
Problem anak jalanan, tenaga kerja wanita, buruh, tani, nelayan, pekerja pabrik, serta kaum marjinal lainnya, haruslah senantiasa disapa dengan langkah praksis melalui pembacaan baru itu. Dengan begitu, ………………. sebagai gerakan sosial akan betul-betul menjadi pelopor perubahan yang nyata dalam proses sosial-ekonomi dalam kehidupan sehari-hari terhadap kehidupan kaum mustadh’afin dengan segala bentuknya. Langkah yang pernah dilakukan oleh Gustavo Guiterrez ketika memelopori reformasi gereja di Amerika Latin dengan gerakan teologi pembebasannya pada tahun 1960-an, mungkin bisa ditiru oleh para intelektual muda baru ini. Saat itu, mereka membentuk komunitas-komunitas agama (Cristian Based Community) yang bertugas mendampingi, mengadvokasi, menyadarkan, serta melakukan pemberdayaan terhadap kaum tertindas.
Yang juga penting adalah pemahaman terhadap the new social movements. Dengan penguasaan teori ini, kita bisa memahami bagaimana sebab penindasan, bentuk penindasan, dan upaya perlawanan terhadapnya. Hal itu juga penting sebagai evaluasi gerakan ………………. yang sekarang ini untuk konteks pemberdayaan sosial dan pengentasan kemiskinan, lebih banyak melakukan hal yang karikatif (baca-rutinitas) dan lebih menekankan pada caring soceity (santunan sosial). Padahal, yang juga penting adalah bagaimana merespons kapitalisme global ini dengan gerakan counter hegemony ataupun anti hegemoni dengan pembangkitan kesadaran kritis para penderitanya.
Namun, pembacaan dan kesadaran baru untuk merekonstruksi realitas sosial yang timpang itu, belum menjadi kesadaran bersama di ……………….. Oleh karena itu, sebuah tadarus pemikiran Islam yang berusaha mengekplorasi, mengkritik, merekonstruksi, dan memoles wajah ………………. sebagai gerakan sosial perlu diselenggarakan. Tadarus ini diharapkan bisa menjadi angin baru dan darah segar bagi tumbuhnya tradisi dan dialektika intelektual di ………………. yang juga mempunyai komitmen pembelaan terhadap masyarakat yang tertindas dan teralienasi, baik secara politik, sosial, maupun ekonomi.

B. NAMA DAN TEMA

Kegiatan ini bernama Tadarus Pemikiran Islam dengan tema “………………. sebagai Gerakan Sosial: Memahami The New Mustadz’afin”.

C. TUJUAN
a. Merumuskan metode penafsiran yang baru terhadap Al-Qu’ran dan ajaran Islam, agar hasil pembacaan terhadap ajaran Islam menghasilkan kepekaan dan komitmen terhadap penciptaan keadilan sosial.
b. Menemukan kembali kunci-kunci hermeneutika (penafsiran) dari pemikiran Islam yang sesungguhnya sangat relevan untuk menjawab tantangan sejarah masa depan, khususnya dalam kaitannya dengan kelompok-kelompok sub-ordinasi.
c. Melakukan evaluasi terhadap perjalanan gerakan sosial ………………. selama ini, sehingga ………………. ke depan akan lebih mempunyai perspektif dan praksis baru dalam memihak orang-orang marjinal.
d. Merumuskan kerjasama praksis dengan kelompok keagamaan dan sosial lain-lain yang sama-sama mempunyai kepedulian dan komitmen terhadap pembelaan nilai kemanusiaan dan penegakan keadilan sosial.

D. BENTUK KEGIATAN

a. Seminar, dengan pembicara dari aktivis Jaringan Intelektual Muda ………………. (……………….) dan nara sumber ahli untuk mempresentasikan makalah tertulis tema-tema yang telah disusun.
b. Workshop, antara di antara peserta dan fasilitator tentang persoalan urgen yang berkaitan dengan gerakan sosial ………………. serta upaya perumusan praksis baru terjadap  berbagai ketimpangan yang terjadi.
c. Penerbitan buku dari hasil makalah-makalah pembicara, peserta, serta hasil transkip dari dialog dan workshop.

E. TEMPAT DAN WAKTU

Kegiatan ini akan dilaksanakan di Kampus Universitas ................................... (......), Jl. Raya .....KM. 8 Dau .............., pada hari Jum’at – Minggu, ……………… 2004.

F. PEMBICARA DAN TOPIK BAHASAN

Kegiatan ini akan menghadirkan narasumber-narasumber dari para cendekiawan dan aktivis ..................... sedangkan tema-tema yang diangkat adalah:
a. Membangun Teologi Sosial ……………….
        - ...........
- ............
b. Merumuskan Hermeneutika Mustadz’afin: Menafsirkan Kembali surah Al-Ma’un dan Mengembangkan Circle Hermeneutika
- ...................
- .....................
-.....................
c. Mustadz’afin sebagai Kategori Sosial: Mengenal Kelompok-kelompok Subordinasi dan Upaya Resistensinya
- ................
        - ..................
    - .................
d. ………………. sebagai Gerakan Sosial: Mencari Perspektif dan Praksis Baru
- .....................
- ....................
- ......................
e. Merumuskan Kerjasama Praksis: Membangun Kesadaran Kolektif dan Melakukan Counter Hegemony
- ........
- ........
- .........
Setiap pembicara diharuskan untuk membikin makalah minimal 7 halaman kuarto spasi satu (21.000 kharakter/3000 kata) dengan catatan kaki atau perut dan daftar pustaka. Diharapkan dikumpulkan 2 hari sebelum hari H (tanggal 03 November 2004).

G. PESERTA

Peserta kegiatan ini terdiri dari 150 (seratus) orang, yang meliputi kalangan dosen dan para aktivis mahasiswa di lingkungan Universitas .............., para pengamat dan pemerhati perkembangan Islam Indonesia, aktivis ....................., aktivis ………………. beserta segenap ortomnya, lembaga swadaya masyarakat, dan mitra pers.

H. FASILITAS PESERTA

Para peserta kegiatan ini akan mendapatkan fasilitas berupa: sertifikat, seminar kit, akomodasi dan konsumsi.

I. PENYELENGGARA

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Universitas .....................bekerjasama dengan ....................., dengan kepanitiaan sebagai berikut:

Penanggung Jawab :

Panitia Pengarah
Ketua :
Sekretaris :
Anggota :



Penitia Pelaksana
Ketua :
Sekretaris :
Anggota :









J. JADWAL ACARA
    Terlampir

K. ANGGARAN DANA
     Terlampir

L. PENUTUP

Demikian proposal ini kami sampaikan sebagai gambaran singkat dari rencana kegiatan yang akan dilaksanakan. Kami berharap agar kegiatan ini akan memperoleh respons positif dari semua pihak.







































JADWAL ACARA
TADARUS PEMIKIRAN ISLAM
“………………. SEBAGAI GERAKAN SOSIAL:
MERUMUSKAN THE NEW MUSTADZ’AFIN”
.............., …………… 2004

Jumat, …………..2004

08.00 – 09.00 WIB Registrasi Peserta

09.00 – 10.00 WIB Pembukaan:

(Rektor)
 (Sekretaris PP ……………….)

10.00 – 11.45 WIB Sesi I: Membangun Teologi Sosial ……………….

11.45 – 14.00 WIB Shalat Jum’at dan Istirahat

14.00 – 17.00 WIB Sesi II:Merumuskan Hermeneutika Mustadz’afin:
Menafsirkan Kembali surah Al-Ma’un dan
Mengembangkan Circle Hermeneutika


17.30 – 20.30 WIB Istirahat, Buka Puasa, Terawih berjamaah

20.30 – 22.30 WIB   Pendalaman Materi

02.00 – 04.00 WIB Sahur Bersama

Sabtu, ……………….

08.00 – 10.00 WIB Sesi III: Mustadz’afin sebagai Kategori Sosial: Mengenal
  Kelompok-kelompok Subordinasi dan Upaya
  Resistensinya

10.00 – 12.00 WIB Pendalaman Materi

12.00 - 14.00 WIB Istirahat

14.00 – 17.00 WIB Sesi IV: ………………. sebagai Gerakan Sosial:Mencari
  Perspektif dan Praksis Baru

17.00 – 20.00 WIB Istirahat, Buka Puasa, Terawih berjamaah

20.00 – 22.00 WIB Sidang Komisi (Komisi Hermeneutika, Komisi ………………. Transformatif, dan Komisi Rekomendasi Praksis)

02.00 – 04.00 WIB Sahur Bersama

Minggu, ………………….

08.00 – 11.00 WIB Sesi V: Merumuskan Kerjasama Praksis: Membangun Kesadaran Kolektif dan Melakukan Counter Hegemony
     

11.00 – 12.30 WIB Lanjutan Sidang Komisi

12.30 – 14.00 WIB Istirahat

14.00 – 16.00 WIB Sidang Pleno

16.00 -  17.00 WIB Penutupan

17.00 – 21.00 WIB Istirahat, Buka Puasa, Terawih berjamaah

21.00 – 24.00 WIB Perpisahan dan Jalan-jalan

02.00 – 04.00 WIB Sahur Bersama






























DAFTAR PESERTA AKTIF
TADARUS PEMIKIRAN ISLAM
“………………. SEBAGAI GERAKAN SOSIAL:
MERUMUSKAN THE NEW MUSTADZ’AFIN”
.............., 05-07 NOVEMBER 2004


1…………………………………….
2…………………………………dst


NB:
1. Panitia tidak menyediakan transport, tapi hanya menyiapkan akomodasi. Jadi, mohon tidak menukarkan bukti tiket yang telah dibeli.
2. Untuk konfirmasi kehadiran, mohon diberitahukan secepatnya atau paling lambat hari Rabu (………2004) dengan .........(..............),.............. (..............). Ini berhubungan dengan penyediaan akomodasi.



Artikel Terkait

kata bijak

TAS, SEPATU, BAJU, DISTRO BANDUNG

alt/text gambar

TAS, SEPATU, BAJU, DISTRO BANDUNG

alt/text gambar

Blog Archive

pesan hari ini